
Syahila melamun dia memikirkan Denny yang sangat banyak membantu dirinya. Dia langsung menelpon Denny dan meminta untuk bertemu di Cafe langganan Denny. Mereka pun bertemu di sana.
Denny sampai lebih dulu di Cafe itu, dia memesan ruangan khusus, agar bisa santai berbicara dengan Syahila, makanan dan minuman pun sudah tertata di meja. Tidak lama Syahila datang dan duduk di samping Denny.
"Kenapa kamu melakukan semua ini untukku?" Tanya Syahila.
"Melakukan apa?"
"Menyatukan Lee dan Harri, membantu Gabby dan Chandra,"
"Oh mereka? Aku ingin menebus semua dosa-dosa dimasa laluku, aku terlalu banyak menyakiti dan merendahkan wanita Sya, aku menyesal, aku berharap dengan berbuat baik kepada orang orang sudah aku manfaatkan bisa mengurangi sedikit dari dosa dosaku yang teramat besar. Aleena sangat mencintai Harri sejak dulu dan Chandra sangat mencintai Gabby, aku ingin orang yang mencinta dengan bijak mendapatkan cinta nya." lirih Denny.
"Rendra dan Gabby tidak pernah saling cinta, aku kasihan sama Rendra jika terpaksa menikah hanya karena kasihan pada Gabby, Sekarang Gabby bahagia dengan orang yang mencintainya."
"Sya ... terima kasih, berkat dirimu hatiku bisa merasakan cinta, walaupun aku sakit hati saat kamu dan anak anak pergi dariku, namun karena hatiku pernah merasakan cinta, aku bisa mencintai wanita yang mencintaiku apa adanya, Kamla istriku, aku bisa jatuh cinta pada nya berkat dirimu yang mengajarkan aku jatuh cinta," terang Denny.
Syahila menatap sayu wajah Denny.
"Sya ... aku ingin kamu dan Rendra bersama, kembalilah pada Rendra, jika kamu bersama Rendra hatiku lebih lega Sya, hatiku masih sakit, karena perilaku Zhey kalian terpisah hingga kini."
"Lupakan Denny, aku sudah lama memaafkan Zhey,"
"Maaf mu tidak cukup Sya, kumohon kembalilah pada Rendra,"
"Kami tengah ber proses," jawab Syahila.
"Benarkah?"
Syahila mengangguk,
"Semoga lancar, aku sangat bahagia Sya," seru Denny.
Ponsel Denny berdering, segera Denny mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
"Kamu di mana!!! Kamla di rumah sakit Bunda, cepat kemari," bentak Jiya.
"Istriku melahirkan Sya ...." lirih Denny.
"Ayoo cepat," Syahila menarik Denny keluar dari ruangan mereka.
"Mbak ... tagihannya kirim ya," teriak Denny sambil berlari bersama Syahila.
Mereka sampai di parkiran mobil,
"Sya ... aku nebeng, aku gemetaran," lirih Denny.
"Cepat masuk, Kamla sangat membutukhanmu sekarang," seru Syahila.
Syahila segera melajukan mobilnya, Denny bahkan tak bisa apa-apa lagi, karena Syahila mengebut di jalananan.
"Kamu jahat Sya, kamu nggak mau hidup sama aku, malah ngajak aku mati bareng kamu," lirih Denny.
"Iya butuh, nggak kasian sama anak Kamla? lahir langsung jadi yatim," lirih Denny.
Syahila menurunkan kecepatan mobilnya, mobil itu melaju perlahan.
"Sya ... kalo gini aku yang bakal mati di gebukin mama," seru Denny.
Syahila menatap tajam pada Denny.
"Iya, silahkan nyonya ...." Denny pasrah.
Mereka sampai di rumah sakit bunda, Denny dan Syahila langsung berlari menuju ruangan Kamla.
Perjuangan panjang Kamla terbayar lunas saat mendengar tangisan bayi perempuan yang pecah di ruangan itu.
Jiya, Denny dan Syahila memberi ucapan selamat pada Kamla
__ADS_1
Keadaan hening, ketika Denny meng adzani dan meng iqamahkan bayi cantiknya.
Syahila menelpon Rendra mengabari kalau istri Denny sudah melahirkan.
Tidak Lama Rendra datang bersama anak-anak ke rumah sakit, Syahila menggeleng melihat anak-anaknya masih mengenakan seragam sekolah. Rendra tersenyum melihat Syahila menggendong bayi Denny.
"Selamat ya Den," Rendra memeluk Denny
"Iya makasih Rend, kamu mau produksi ulang lagi nggak?" Tanya Denny sambil melirik Syahila yang terlihat santai menggendong bayinya.
"Enggak lagi, aku parno Den, dua kali Syahila hamil, dua kali kami terpisah, bagiku cukup 2 ini saja, 2 anak lebih baik kata selogan KB," seru Rendra.
"Kami pamit ya tante Jiya, lihat anak-anak masih pakai seragam," seru Syahila.
"Iya sayang, terima kasih sudah bantu kami," lirih Jiya.
Syahila dan Rendra berpamitan, mereka segera menuju ke area parkir.
"Moms, kita nginep di rumah Daddy ya,"lirih Yumna.
"Iya boleh sayang," jawab Syahila.
Rendra pergi lebih dulu bersama anak-anak, sedang Syahila pulang sendirian.
***
Dalam mobil Rendra.
"Dad, kapan mommy sama daddy tinggal bersama, kami capek punya dua rumah," seru Reyhan.
"Secepatnya sayang, sabar ya," seru Rendra.
Anak-anak menginap di rumah Rendra.
__ADS_1