
Syahila memasuki gedung sekolahan di mana kedua anaknya nanti akan menempuh pendidikan di sekolah ini. Syahila memasuki ruangan kepala sekolah, untuk melengkapi berkas pendaftaran sekolah anak-anaknya.
Denny sudah mempersiapkan cara untuk membantu Syahila, dia bekerja sama dengan kepala sekolah.
Saat kepala sekolah mengenali Syahila, dia pun segera melakukan tugas yang Denny titipkan padanya.
"Anda yakin ini nomer pendaftaran anak anda?" tanya kepala sekolah.
"Iya itu nomer yang saya dapat ketika mendaftar lewat online," jawab Syahila.
"Wah selamat, nomer ini adalah nomer yang memenangkan undian pendidikan gtatis," seru kepala sekolah sambil memperlihatkan layar laptop nya pada Syahila.
Syahila tidak percaya.
"Apa ini serius?" tanya Syahila.
"Apakah saya terlihat bercanda?" tanya kepala.sekolah.
Syahila masih ragu, namun dia sangat bahagia.
"Silahkan ambil seragam sekolah di ruangan iti, dan bawa ini," seru kepala sekolah memberikan map kepada Syahila.
Selesai pada urusan sekolah Yumna dan Reyhan, Syahila makan siang bersama anak anaknya di sebuah Cafe. Mereka asyik menikmati makanan mereka. Namun ada seorang anak gadis yang menatap sayu ke arah Syahila.
Syahila tersenyum dan memanggil anak gadis itu. Dengan cepat anak gadis itu berlari ke Syahila.
"Siapa nama kamu sayang?" tanya Syahila,
"Naura aunty," jawab anak itu.
"Mau makan sama sama?" tanya Syahila. Naura pun mengangguk cepat
Syahila memesan satu makanan lagi buat Naura, merekapun makan bersama sama.
"Naura sayang ... kenalan dulu, yang itu Reyhan, dan yang ini Yumna," seru Syahila.
Naura, Yumna dan Reyhan pun cepat akrab.
"Sayang ayo makan," lirih Syahila.
Naura membuka mulutnya, Syahila faham dia pun menyuapi Naura dan Yumna bergantian.
"Aku bangga punya mama seperti Moms," seru Reyhan
"Oh ya ... kenapa sayang, apa yang bisa di bangga in dari moms?" tanya Syahila.
__ADS_1
"Moms sosok yang penyayang," seru Reyhan.
"Ih ... anak mommy bikin mommy terharu," lirih Syahila.
Naura menangis mendengar kata mama,
"Naura cantik ... kenapa nangis?" tanya Syahila.
"Aku nggak punya mama Aunty ..., aku pengen punya mama, tapi papa nggak kasih aku mama," ringis Naura.
Syahila memeluk Naura, berusaha menenangkan anak itu.
"Naura kesini sama siapa?" tanya Syahila.
"Sama papa, tapi aku lari dari papa, aku sedih papa nggak mau mengabulkan permintaan aku," ringis Naura.
"Jangan begitu lagi ya sayang, papa Naura pasti sedih banget itu, papa pasti nurutin mau Naura, tapi segala sesuatu perlu waktu," lirih Syahila.
Melihat Naura terus menangis Yumna turun dari kursi nya dan mendekat pada Naura.
"Kaka Naura jangan sedih...., aku dan kaka Reyhan tidak punya papa, kami tetap bahagia," seru Yumna
"Iya sayang ..., jangan sedih ya, kami juga tidak punya papa, tapi kita harus berusaha bahagia sayang ...." seru Syahila.
"Ayoo lanjutkan lagi makan nya biar cepat gede," seru Syahila.
Syahila menelpon Denny, meminta bantuan Denny untuk menemukan orang tua anak kecil ini. Syahila mengabil foto Naura, dan mengirimnya Ke Denny
Denny tidak asing dengan anak perempuan itu, dia berusaha keras mengingat anak perempuan itu. Denny pun berhasil memutar otak nya, Denny segera menelpon temannya yang bernama Harriya, untuk memastikan kalau itu anak Harri.
Benar dugaan Denny, karena saat ini Harri kehilangan anak bungsu nya itu. Denny pun mengabari kalau Naura bersama temannya.
Syahila mengabari Denny kalau dia sedang berada di taman lampu hijau. Segera Denny mengabari Harri lokasi Syahila dan Naura.
Harri langsung menuju tempat yang Denny maksud, di kejauhan dia melihat Naura bermain dengan 2 anak lain nya, di awasi seorang perempuan cantik.
"Papa ...." teriak Naura.
"Itu papa Naura?" tanya Syahila.
Naura mengangguk dan berlari berhambur kepelukan papa nya.
Harri pun mengendong Naura dan berjalan mendekati Syahila, Harri duduk di samping Syahila, namun Naura langsung naik ke pangkuan Syahila, dan memeluk Syahila.
Syahila melihat wajah Harri begitu letih. Syahila dan Harri pun saling berkenalan.
__ADS_1
"Itu anak kamu?" tanya Harri.
Syahila mengangguk.
"Luar biasa, kamu masih muda sudah punya dua anak," seru Harri.
"Saya menikah di usia 19 tahun, dan punya anak pertama pada umur 21 tahun," terang Syahila.
"Dimana ayah mereka?" tanya Harri.
"Kami sudah lama bercerai," jawab Syahila.
"Di mana kamu bertemu Naura?" tanya Harri.
"Di cafe yang tidak jauh dari International School" jawab Syahila.
"Ohh, aku juga mendaftarkan Naura di sana, apa kedua anakmu juga sekolah di sana?" tanya Harri.
Syahila mengangguk.
"Papa, aku mau Aunty jadi mama aku," rengek Naura.
Syahila dan Harri saling pandang, mereka bingung alasan apa yang harus di utarakan pada Naura.
"Sayang ..., tidak mudah lho jadiin orang buat mama Naura," lirih Harri.
"Aku pengen punya maa ...." Naura pingsan.
Syahila Harri panik melihat Naura pingsan.
"Kita bawa ke rumah sakit," seru Harri
Syahila memanggil Reyhan dan Yumna.
"Mobil siapa?" tanya Syahila panik karena melihat darah keluar dari mulut dan hidung Naura.
"Mobil kamu, mobil aku ada sopirnya, dia pasti ikutin kita, seru Harri.
Mereka semua masuk ke mobil, segera Harri melajukan mobil Syahila menuju rumah sakit. Syahila meraih tisu dan menyapu darah yang keluar dari hidung dan Mulut Naura.
Sesampai di rumah Sakit Syahila langsung berlari membawa Naura menuju UGD, sedang Harri memarkirkan mobil Syahila. Hari menyusul Syahila bersama Reyhan dan Yumna. Sedang Naura sudah di tangani petugas medis.
"Apa kami boleh ikut menunggu?" tanya Syahila.
"Tentu saja," jawab Harri sambil menyerahkan kunci mobil pada Syahila.
__ADS_1
Syahila baru sadar, tempat ini adalah tempat dimana dia dan Rendra bertemu pertama kali.