
Syahila menjalani hidupnya sebagai Hilya di desa mak Ijum. Dia tengah makan siang.
Namun bayangan Rendra yang tenggelam dada wanita itu selalu melintas di benaknya, membuat hatinya kembali terluka. Ia tetap meneruskan makannya, demi asupan buat bayinya, walau air matanya bercucuran.
Mak Ijum janda tua yang mengurus seorang cucu yang bernama Fatma. Saat ini Fatma duduk di kelas 12 SMA.
"Sudah makan mak?" Sapa Syahila.
Mak Ijum hanya membalas dengan senyuman, dan mengangguk. Syahila baru ingat, kalau mak Ijum tidak punya pencarian, rumah yang dia sewakan pun karena perlu uang untuk membayar sekolah Fatma.
Syahila kembali ke dapur, mengambil telor dan mie instan yang dia beli, dia pun membawa semua itu ke luar. Lalu menyerahkannya pada Fatma.
"Fatma, sini, ini bawa, soalnya tadi kaka belinya kelebihan." seru Syahila, dia menyerahkan mie dan telor yang ia bawa dari dapurnya.
"Makasih kak Hilya" sahut Fatma.
Setelah Syahila kembali masuk ke dalam rumah, segera Fatma berlari kedapurnya untuk memasak, karena dia dan neneknya belum makan.
Syahila merenung di kamarnya, dia sangat merindukan Rendra, namun kebohongan Rendra sangat menyakitkan hatinya, lagi-lagi air mata Syahila menetes membasahi pipinya
"Oke sayang ... mommy ngga akan cengeng demi kamu." Guman Syahila. Dia membaringkan tubuhnya untuk tidur siang.
****
Sejak kedatangan Syahila, Ijum sangat bahagia.
"Sepertinya ka Hilya orang kaya." kata Fatma.
"Orang kaya atau tidak, tapi Neng Hilya teh pribadi yang sangat baik." seru Ijum.
"Sejak kedatangan ka Hilya, kita tidak pernah kelaparan lagi nek." seru Fatma.
"Iya, tapi tapi nenek tidak enak, karena ka Hilya selalu bantu kita," sahut Ijum.
"Mungkin ka Hilya sengaja datang ke penjuru desa untuk membantu orang seperti kita." ucap Fatma.
" Mungkin juga sih nak." sahut Ijum, membenarkan perkataan cucunya.
______
Di kota Effan menyusun rencana untuk menemukan Syahila. Rendra hanya mendengari semua instruksi effan ke semua bawahan nya.
"Biar aku ikut mencari Fan." pinta Rendra.
"Tidak perlu pak ... anda fokos bekerja saja." sahut Effan.
__ADS_1
"Aku tidak bisa bekerja Fan, pikiranku hanya Syahila dan bayi kami." jawan Rendra. Wajahnya nampak kusut dan memprihatinkan.
"Kalau anda tidak mengurus pekerjaan, lalu bagaimana kami menemukan nyonya? Apa anda rela membiarkan istri dan anak anda hidup kesusahan, karena seorang Rendra meruntuh usahanya sendiri." seru Effan.
"Baik Fan, aku fokos bekerja, kau fokos mencari Syahila." Rendra kembali bersemangat.
Rendra pulang ke rumahnya, tekanan fisik dan mentalnya begitu berat. Dia masuk ke kamar Syahila lalu merebahkan diri di kamar Syahila.
"Sayang kamu di mana? Mas rindu kamu sayang, kamu sungguh sangat pandai menghilang. Mas harap kamu bisa segera kami temukan." lirih Rendra. Rendra tenggelam mengingat kenangan bahagianya bersama Syahila di kamar itu. Mata lelahnya pun terpejam.
***
Di desa.
Syahila yang merubah namanya jadi Hilya, dia menjalani kehidupan seperti masa smp nya dulu, dia masih ingat seperti ini persis rumah ayah dulu. Lamunan Syahila terhenti saat melihat Fatma cucu mak ijum duduk sendirian di teras rumah tersebut.
"Kamu lagi apa Fatma?" sapa Syahila.
"Ngga apa apa kak, cuma menikmati pemandangan sore " sahut Fatma.
"Boleh kaka gabung?"
"Ayo sini kak," seru Fatma sambil menepuk kursi yang ada di sampingnya. Syahila pun duduk di samping Fatma.
"Kaka ... kenapa kaka bisa sampai ke desa ini?" Tanya Fatma.
"Suami kaka dimana? " Tanya Fatma.
"Suami kaka sibuk, dia sering pindah tugas," Syahila menjawab pertanyaan sambil mengukir senyuman kecil di wajahnya.
"Kaka punya ponsel?"
"Tidak punya." jawab Syahila.
"Sudah berapa bulan kandungan kaka?" Tanya Fatma lagi, seraya mengisyarat ke perut Syahila
"Jalan 5 bulan."
"Eeh ... pada ngumpul disini?" Sapa Ijum. Dia juga ikut duduk bergabung bersama Syahila dan Fatma.
"Nak Hilya ... bagaimana? apa betah tinggal di gubuk emak?" Tanya Ijum.
"Betah banget mak, ini lebih dari cukup, dari kecil juga aku sama almarhum ayah tinggal di kontrakan, bahkan lebih kecil dari ini." sahut Syahila
"Oh, syukurlah, mak kira nak Hilya biasa tinggal di rumah gedong." seru Ijum.
__ADS_1
Seorang tetangga Ijum mendekati mereka bertinga yang tengah duduk santai. "Mak, semuanya, malam ini ba'da isya kerumah saya ya.., saya adakan syukuran, sekalian ajak neng Hilya juga." ucapnya.
"Iya bu, kami usahakan datang." jawab Ijum.
Syahila benar-benar merasa nyaman disini.
"Mak ... boleh Hilya minta tolong?"
"Tolong apa nak Hilya?" tanya Ijum.
"Mak ... Hilya kan hamil, rasanya sulit dan berat untuk gerak bebas, apalagi masak. Hilya boleh minta tolong? Hilya mau, emak yang masak dan hilya yang belanja gimana?" Tanya Syahila.
"Tapi mak gak pandai masak neng." sahut Ijum
"Ngga apa-apa atuh mak, yang penting mateng dan bisa dimakan." sahut Syahila.
"Sekat dinding pemisah yang ada di dapur itu buka aja, biar kita bisa makan sama-sama." pinta Syahila. Mak ijum pun setuju.
"Maaf ya, bukannya Hilya memerintah emak, tapi mak atau Fatma yang belanja ya ..." pinta Syahila sambil menyodorkan uang.
"Buat beli makan kita bersama mak." ucap Syahila begitu lembut.
"Nak Hilya kok rasanya uangnya ada terus?" Tanya Ijum.
"Saya ngepet makkk!" seru Syahila.
Seketika mak Ijum bungkam.
"Bercanda makkk, semua ini hasil jual warisan ayah saya mak." sahut Syahila.
Mak Ijum menggeleng mendengar candaan Syahila barusan.
***
Setelah ba'da Isya, Syahila, Fatma dan Ijum berjalan bersama menuju tempat hajatan tetangganya. Syahila disambut ramah semua warga, dia pun memperkenalkan dirinya sebagai Hilya.
**
Di kota ...
Rendra sengaja menyibukan dirinya dengan semua pekerjaannya, agar hatinya bisa sejenak melupakan Syahila karena fokos pada pekerjaannya.
Effan sangat gusar, dia seakan menyerah, karena semua usahanya mencari Syahila tidak membuahkan hasil.
"Ini pertama kalinya aku tidak bisa menjalankan tugas ku." ringis Effan yang bersandar pada Monica.
__ADS_1
"Sabar sayang, kamu sudah berusaha semampunya, ayo istrirahat dulu, biar semangat untuk melanjutkan tugas." seru Monica. Effan pun merehatkan tubuhnya, dengan memejamkan matanya.