
Setelah berbicara ditelepon dengan Denny, Syahila langsung menelpon Harri, meminta persetujuan Harri dengan rencananya yang dari Denny tersebut.
"Ada apa Sya?" tanya Harri.
"Saya punya rencana buat Naura, itu pun jika anda setuju,"
"Rencana apa Sya?"
"Saya punya teman, dia muda dan cantik, saat ini dia sangat perlu pekerjaan, jika anda berkenan beri dia pekerjaan sebagai pengasuh Naura, tapi di depan Naura jadikan dia sebagai mama Naura, bagaimana?" tanya Syahila.
"Rencana kamu sangat luar biasa Sya, bodohnya aku, kenapa tidak dari dulu aku bekerja sama dengan wanita muda pengasuh Naura," seru Harri.
"Nanti siang dia datang ke rumah saya, sebaiknya anda kenalan dulu," seru Syahila.
Harri setuju, panggilan pun ber akhir. Syahila sangat lega bisa membantu Naura tanpa harus menjadi ibu sambung buat Naura.
***
Ponsel Syahila berdering, saat dia cek ternyata Lee yang mengirim pesan kalau dia sudah di depan ruko Syahila. Segera Syahila turun menyambut Lee.
Setalah berkenalan dan berbincang lama Lee langsung mendekati Naura, dia sangat mudah akrab Dengan Naura.
Kedatangan Harri mengejutkan semua orang.
"Papa ...," teriak Naura berlari menghambur kepelukan Harri. Karena Naura yang lebih dulu melihat kedatangannya.
"Maaf, kami terlalu asyik bermain, kami tidak tahu anda sudah di sini," lirih Syahila.
"Papa, aku punya aunty baru lho, itu," Naura menunjuk ke arah Aleena.
Harri terkejut melihat wanita yang di tunjuk Naura, wanita itu pun pura-pura terkejut saat melihat Harri.
"Aleena?" lirih Harri.
"Pak Harri?" lirih Aleena.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Syahila ikut berpura pura.
"Dia Harri manajer utama di kantor tempat aku bekerja dulu," lirih Aleena.
"Iya Sya, aku sudah kenal Aleena, dia mantan reseptionis di kantorku dulu," seru Harri.
"Karena kalian lama tidak bertemu silahkan bicara lebih lanjut masalah kemaren, anak-anak aku yang jaga," seru Syahila.
"Lee, kemaren kamu resign karena ibu kamu, bagaimana keadaan ibu kamu sekarang?" tanya Harri.
"Ibu sudah nggak ada pak," Lee sengaja menangis untuk menarik simpati Harri.
"Maaf," lirih Harri.
Syahila memeluk Lee yang masih menangis.
"Aunty juga nggak punya mama?" tanya Naura.
Lee mengangguk,
__ADS_1
"Kita sama aunty, aku juga tidak punya mama," lirih Naura ikut memeluk Lee.
"Naura mau kalau aunty Lee jadi mama Naura?" tanya Harri.
"Mau pah," seru Naura.
"Tanya Aunty Lee, mau nggak auty Lee jadi mama Naura," seru Harri
"Aunty ... mau ya jadi mama aku," seru Naura.
"Itu bukan nanya sayang ..., tapi maksa," seru Harri.
"Biarin! Mau ya aunty ...." rengek Naura
Aleena mengangguk.
"Yeaayyy!!!" teriak Naura.
"Besok kalian papa jemput, Lee kamu sudah tau kan?" tanya Harri.
"Iya, saya sudah bicara dengan Syahila," jawab Lee.
"Lee, apa kita bisa bicara di bawah?" tanya Harri.
Lee mengangguk, dia dan Harri pun turun ke bawah.
.........................
"Lee, kamu yakin mau pura-pura jadi mama Naura?"
"Apa sulitnya ber pura-pura demi kebahagiaan Naura, jauh dari ibu itu sangat sakit pak, sedang Naura masih kecil, perasaan dia pasti lebih hancur dari saya," Ringis Lee.
"Pasti selama ini Naura sangat menderita, tapi papanya tidak mengerti penderitaannya," Lee semakin dalam dengan tangisannya.
Harri menarik Aleena kedalam pelukannya, Aleena pun semakin terisak dalam tangisan palsunya.
"Maaf pak, saya terbawa suasana," lirih Lee menarik dirinya dari pelukan Harri.
"Tidak apa-apa Lee, aku sangat suka padamu, kau sosok yang penyayang juga pengertian, aku masih ada pekerjaan, ayo kita ke atas lagi, aku ingin pamit," seru Harri.
Mereka pun naik ke atas, Harri langsung pulang setelah berpamitan dengan anaknya dan juga Syahila.
________________________
Malam hari, Syahila bersiap, karena akan ketemuan dengan Denny.
"Lee, aku titip anak anak ya ..., itu Denny tiba-tiba ngajak ketemuan," seru Syahila yang sudah rapi dengan dandanannya.
"Iya ..., nikmati aja malam ini, anak-anak aman sama aku," seru Lee.
Syahila pamit pada Lee, dan segera turun kebawah, Saat membuka pintu Denny sudah ada di depannya.
"Ayo berangkat sama aku," seru Denny.
"Kalau sama kamu, pulangnya aku gimana?"
__ADS_1
"Udah ... gampang, ayoo," Denny menarik tangan Syahila. Setelah masuk mobil Denny pun segera melajukan mobilnya.
"Kita ke mana Denny?"
"Club malam," jawab Denny.
"Oh ya ..., aku janjian juga sama Rendra dan Gabby, suapaya kamu tidak canggung, aku minta teman aku untuk pura-pura jadi pacar kamu," seru Denny.
"Terserah kamu Denny," lirih Syahila.
Sesampai nya di Club malam yang di tuju Denny, mereka di sambut seorang laki-laki.
"Sya, ini dia teman aku yang aku maksud tadi," seru Denny.
Syahila dan Chandra berkenalan.
"Kalian nanti masuk 10 menit setelah aku ya, ingat sandiwara nya," seru Denny meninggalkan Syahila dan Chandra.
Denny masuk ke dalam club, setelah menemukan di mana Rendra dan Gabby, Denny langsung bergabung dengan mereka.
"Ya ampun ... lama amat kamu Denny, meny pedy dulu ya?" seru Rendra.
"Oh sorry ..., tadi gue ketemu Syahila di bawah, dia sama pacarnya, ya aku terkejut," seru Denny.
"Nah ... itu mereka," seru Denny menunjuk ke arah Syahila dan Chandra yang berjalan bergandengan tangan.
Rendra sungguh tidak bisa menerima, saat melihat Syahila bersama laki-laki lain.
"Lho ... itu kan Chandra, pemenang lelang proyek kemaren," seru Rendra, berusaha menutupi kecemburuannya. Karena ada Gabby di sampingnya.
"Apa?" Gabby kaget mendengar kalau Chandra pemenang proyek impiannya.
Denny menyuruh pelayan memanggil Chandra dan Syahila. Chandra dan Syahila segera berjalan ke arah Denny setelah mendapat pesan dari pelayan itu.
Wajah Rendra sangat nampak menampakan kemarahannya, karena melihat tangan Chandra yang selalu menggenggam tangan Syahila.
Mata hijau Gabby menyala melihat penampilan Chandra, namun dia kesal karena Chandra bersama Syahila.
Setelah saling sapa Chandra dan Syahila pun bergabung dengan Denny, Rendra, dan Gabby.
Denny menjalankan misinya, dengan sengaja dia berbicara tentang aset dan perusahaan yang di jalankan Chandra.
Mata hijau Gabby pun semakin meronta mendengar segala aset Chandra.
Ponsel Chandra berbunyi.
"Di mana tempat yang nyaman buat bicara, maksud aku yang tidak berisik?" tanya Chandra.
"Di toilet," seru Denny
"Aku permisi ya," seru Chandra sambil menatap nakal ke arah Gabby.
Tidak lama Chandra pergi Gabby pun pergi izi ke toilet.
Setelah Gaby pergi Denny sangat senang, karena dia tahu kemana Gabby pergi.
__ADS_1