Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 10


__ADS_3

"Sssssttt, sakit, Sasa. Apa apaan sih, Sa. Ngapain cubit pipi gue." teriak Amel karena kesakitan sontak membuat semua orang menoleh ke arahnya.


Amel pun menelan ludahnya sendiri, ia melihat sekeliling semua orang memperhatikannya. Kelasnya begitu koror dengan tatapan dari guru yang ada di depannya.


"Kamu " tunjuk pak Arka pada Amel yang melihat ke arah depan dan Amel pun celingukan mencari siapa yang di tunjuk oleh gurunya.


"Siapa, Pak." tanya Amel. Ia pikir bukan dirinya yang di tunjuk olehnya.


"Kamu, Mel. Pak guru lagi tunjuk kamu." bisik Ayu menyadarkan temannya.


"Gue." jawab Amel menunjuk dirinya sendiri.


Ayu dan Sasa mengangguk tanda setuju. Amel pun tersenyum dengan kaku karena takut akan di hukum lagi seperti kemarin harus mengikuti apa maunya pria itu.


"I-ya, Pak. Sa-ya, kenapa dengan saya?" tanya Amel dengan terbata takut akan hal sesuatu terjadi pada dirinya.


"Ke depan." titah Arka pada gadis yang kemarin membuat ia kesal.


"Hahhh, mau ngapain, pak." jawab Amel yang melotot tak percaya.


"Kok saya, Pak. Emang saya buat salah apa?" sambungnya lagi membuat kedua temannya kebingungan dengan temannya ini.


"Emang Amel pernah ngelakuin kesalahan sama Pak Arka!" tanya Sasa dan Ayu sedang berpikir keras.


Amel tak langsung ke depan, ia tak ingin ke depan karena takut walaupun pria itu pernah makan bersama sambil di belikan, bukan di belikan tapi minta di belikan.


"Cepetan, Mel. Dari pada Lo di marahin. Pak Arka lihatin kamu terus." bisik Sasa.


"Ini semua gara-gara lo ya, Sa." ketus Amel yang bangun dari duduknya. Ia masih ragu untuk maju ke depan bertemu dengan pria itu dengan jarak dekat seperti ini.


"Cepetan saya tak suka menunggu." ucap Pak Arka tak suka menunggu.


Amel pun dengan terpaksa maju ke depan dengan rasa kesal pada kedua temannya dan paling ia benci dengan pria selalu mengikutinya sampai menjadi guru di sekolah untuk menggantikan Bu Mega. Amel pikir jika pria itu hanya akal-akalannya saja agar ia tak pergi untuk bertanggung jawab atas perbuatannya kemarin.

__ADS_1


"Nama kamu siapa?" tanya Pak Arka guru kelas Amel sekarang.


"Amel, Pak." jawab Amel.


"Oke, kamu tahu kan kesalahan kamu?" tanya pak Arka lagi pada muridnya.


"Emang apa, pak. Kesalahan saya." tanya balik lagi Amel pada gurunya.


"Saya tanya malah balik tanya."


"Saya gak tahu, Pak." jawab Amel yang bingung dengan kesalahannya. Ia tak mungkin mengakui kesalahannya yang kemarin.


"Jika kamu tak tahu kesalahan mu, kamu berdiri di pojokan situ." titah Pak Arka pada Amel. Dan membuat Amel melongo tak mengerti dengan hukuman yang di berikan gurunya itu.


"Berdiri. Saya kan gak berbuat kesalahan, Pak." elak Amel tak mengerti dengan hukuman yang diberikan oleh pria dingin tersebut.


"Mau berdiri atau saya tambahin lagi hukumannya." ucap pak Arka lagi dengan tatapan dingin.


"Sial, hari ini bikin sial mulu." gumam Amel melangkah menuju pojokan untuk menjalankan hukuman yang di berikan guru barunya.


"Jangan mengumpat saya. Saya bisa dengar semua yang kamu katakan." sahut Pak Arka membuat semua murid terdiam tak ada seorang pun buka suaranya.


Amel pun tak percaya, ia hanya mengucapkannya dengan pelan tapi pria itu masih saja mendengar umpatan nya yang ia ucapkan.


"Mimpi apa kemarin bisa bertemu dengan pria ini lagi, jangan sampai jodoh gue dia." batin Amel.


.


.


.


Sepulang dari sekolah, ia masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaian lalu ia pun bergegas langsung mengerjakan tugas tadi pagi di perintahkan oleh Tantenya. Ketika ingin masuk ke dalam kamar mendiang orang tuanya yang kini di tempati oleh Tante dan Om nya Amel pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam ia begitu merindukan sosok sudah tiada untuk selamanya. Amel ingin masuk kedalam kamar hanya ingin mengenang masa-masa dimana kebersamaan dengan kedua orang tuanya masih ada.

__ADS_1


"Mau kemana kamu? Jangan sembarang masuk kedalam kamar ku. Mengerti." teriak Tante Ratna tak suka jika Amel masuk kedalam kamarnya.


"Amel hanya ingin membersihkan kamar ini saja, Tante." alasan Amel, semoga Tantenya percaya apa yang di katakan olehnya.


"Minggir, gak usah. Ini kamar pribadi ku, jadi kamu tak boleh sembarang masuk." cegah Tante Ratna, ia tak ingin bocah itu tahu apa yang ia sembunyikan selama ini.


Amel pun pergi begitu saja saat dilarang oleh Tantenya, ia hanya ingin menghirup aroma pemilik kamar tersebut sudah lama tak masuk lagi semenjak kamar itu di kuasai oleh Tantenya.


"Amel..," panggil Tante Ratna sambil berteriak memanggil nama Amel.


"Iya ada apa, Tante?" tanya Amel setelah selesai mencuci pakaian sudah ia jemur.


"Tolong belikan rujak di depan gang sana cepetan." titahnya lagi.


"Iya, Tante. Uangnya mana?" pinta Amel menyodorkan tangannya.


"Kamu kan jualan kue, terus kemana uang hasilnya. Sana beli pakai uang mu."


"Tapi, Tan. Uang nya untuk membeli bahan-bahan kue lagi. Besok warung di depan memesan kue lagi." ucap Amel, ia menyimpan sebagian uang hasil jual kue tersebut untuk ia tabung.


"Mau belikan atau aku hancurkan barang-barang tempat pembuatan kue itu." ancam Tante Ratna.


.


.


.


.


.


Baik, Tan. Amel akan belikan, tapi janji jangan hancurkan barang-barang itu...

__ADS_1


__ADS_2