
"Benarkah? Apapun yang aku inginkan." jawab Arka penuh keyakinan pada gadis yang ada di hadapannya sekarang.
Amel mengangguk tanda mengiyakan apapun yang di perintahkan pria itu, itu cara ia membalas kebaikan yang telah menolongnya.
"Apapun termasuk jika kamu mau jadi istri ku." ucapnya lagi untuk mencari keyakinan gadis itu jika pertanyaan itu tak membuatnya kaget.
Amel seketika berhenti mengunyah sarapannya, ia menatap dan mengernyitkan dahinya kearah pria yang mengatakan hal itu.
"Om gak bercanda kan?" tanya Amel ingin memastikan jika pendengarannya tak salah.
"Gak, itu juga jika kamu mau. Ya kalau gak mau pun aku akan--," belum juga Arka melanjutkan ucapannya tapi Amel malah menyela perkataan Arka.
"Saya mau, Om." jawab Amel menyela ucapan pak Arka jika ia mau menikah dengan pria yang ada di hadapannya sekarang tanpa memikirkan tentang kedepannya.
Arka melotot tak percaya dengan jawaban gadis SMA sebentar lagi akan lulus. Ia tak menyangka jika ajakan akan di iyakan oleh gadis hanya bercanda. Memang ia lagi memikirkan gadis mana untuk ia jadikan sebagai istri saat ia mengatakan akan menikah bulan depan dan hal itu sudah di ketahui oleh adik kembarannya. Dan, sang adik pun pasti akan memberitahukan pada orang tuanya.
"Kamu beneran?" tanya Arka ingin memastikan lagi dengan jawaban Amel.
Amel mengangguk memantapkan keputusannya untuk menikah setelah lulus nanti, bukannya ia memikirkan tentang kelanjutan akan kuliah di mana Amel malah menyetujui permintaan pria yang telah menolongnya.
"Mengapa kamu mau menerima tawaran dari ku? Apa alasannya?" tanya Arka penuh selidik, ia tak mengerti dengan jalan pikiran gadis cantik ini sebentar lagi akan lulus.
"Apa kamu tak ingin kuliah gitu?" tanya Arka lagi, pertanyaan yang tadi saja Amel belum menjawabnya sudah di tanya lagi oleh Arka saking gemesnya dengan jawaban gadis itu di luar dugaannya.
"Buat apa, Om. Kuliah, sedangkan untuk biaya saja saya tak punya. Tempat tinggal pun saya menumpang di rumah, Om. Ka, makanya saya mau menerima tawaran, Om. Kalau pun saya juga terkejut dengan ajakan yang Om katakan." jawab Amel menjelaskan tentang apa yang sudah ia katakan. Pertama ia hanya ingin membalas budi karena pak Arka telah menolongnya dan yang kedua ia hidup sendiri tanpa siapapun termasuk Omnya pun tak tahu kabarnya sekarang. Ia hanya bisa memasrahkan dirinya pada pria satu-satunya yang ia percaya di dunia ini.
Arka terdiam, ia pun mengajak Amel untuk berangkat karena hari sudah mulai siang. Di hari pertama ujian Arka tak akan masuk ke sekolah itu. Ia ada meeting penting bersama para petinggi untuk membahas perusahaannya sebentar lagi akan jatuh padanya.
Di perjalanan kedua terdiam seolah memikirkan tentang omongan di meja makan tadi pagi, Amel merasa jika jawabannya itu tak di terima oleh pak Arka karena ia sudah lancang menerima tawaran itu. Tapi, tidak dengan pak Arka memikirkan nasib gadis itu kedepannya jika tak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Dan memikirkan tentang jawaban Amel menurutnya begitu berani mengambil keputusan tanpa berpikir lebih dulu.
"Sudah sampai ayo turun." titah Arka membuyarkan lamunan Amel sedang memandang ke luar jendela mobil.
"Ah, iya. Terimakasih, Om. Saya permisi dulu." kaget Amel, setelah itu ia turun dari mobil mewahnya milik pak Arka.
"Tunggu dulu," cegah Arka menghentikan langkah kaki Amel untuk masuk ke sekolahnya.
"Iya, Om. Ada apa?" tanya Amel ingin segera masuk karena tak ingin jadi bahan gosip oleh teman-temannya jika ada seseorang yang melihat dengan guru barunya.
"Ini uang untuk kamu." ucap Arka menyodorkan selembar uang merah untuk Amel jajan jika istirahat.
__ADS_1
"Tidak usah, Om. Saya sudah kenyang." tolak Amel tak enak hati. Ia di kasih tempat tinggal dan di perlakukan seperti manusia pun sudah bahagia dan senang.
"Ambil atau aku akan mengusir mu." ancam Arka, jika sudah begitu Amel pun dengan terpaksa mengambil walaupun tak enak hati. Ia tak pernah di kasih sepeserpun oleh Om atau pun Tante soal uang jajan, Amel selalu berusaha dari jualan kue jika ia ingin mendapatkan uang untuk jajan dan ongkos angkutan umum untuk berangkat atau pun pulang sekolah.
Arka pun melesat pergi dengan kecepatan tinggi, setelah mengantarkan gadis itu aga jauh dari sekolah membuat Arka menggelengkan kepalanya karena alasannya tak ingin ada orang yang tahu jika dirinya telah di antarkan oleh guru barunya.
.
.
.
"Ameeeellll." teriak dua temannya yang satu bar-bar yang satunya lumayan pendiam.
"Kangen." ucap mereka berbarengan saat temannya dari kemarin tak masuk sekolah.
"Cih, baru juga satu hari tak masuk sekolah sudah kangen saja." ucap Amel baru masuk ke kelas bertemu dengan dua temannya.
"Hehehe, kan kita sehati, Mel." kata Sasa.
"Kamu kemana gak masuk?" tanya Ayu yang duduk di sebelah Amel.
"Kamu sudah belajar, Mel. Hari kita ujian loh." ucap Ayu.
Amel mengangguk, semalam ia sudah di beritahu dan di peringatan oleh pak Arka jika besok ada ujian kelulusannya di sekolahnya.
"Moga aja soalnya gak sulit-sulit ya, takut tahu, takut gak lulus." sahut Sasa, ia yang punya otak pas-pasan hanya bisa berdoa bisa lulus dengan nilai yang baik.
"Amin." ucap Amel dan ayu berbarengan.
"Mel," panggil Sasa.
"Apa?" jawab Amel melihat ke arah temannya.
"Kamu mau kuliah di mana?" tanya Sasa, ia ingin tahu temannya akan melanjutkan studinya di mana dan universitas mana agar ia bisa sama-sama lagi seperti sekarang.
Amel terdiam, ia tak langsung menjawab pertanyaan dari temannya itu. Ia mengingat dengan jawaban yang telah ia berikan pada pak Arka soal tawaran yang sudah ia berikan jawabannya.
"Woy, kok diem. Kenapa?" tanya Sasa gemes dengan tingkah Amel.
__ADS_1
"Mungkin aku gak akan kuliah deh," jawab Amel dengan pelan.
"Kenapa?" balas mereka berdua secara berbarengan menengok ke arah Amel.
"Kayanya aku mau langsung kerja.' alasan Amel, ia pikir jika menerima tawaran dari pak Arka pun itu sudah termasuk kerja, kerja sebagai istri pura-pura nya.
"Sayang banget loh, Mel. Kamu kan pinter," lirih mereka kedua merasa sedih.
"Dasar kalian, ngomong aja gak ada contekan jika di waktu darurat ya kan." sindir Amel sudah biasa dengan kelakuan dia temannya selalu menyontek jika ada PR atau tugas dari guru.
"Hehehe, tahu aja si Amel mah."
Tak terasa perbincangan mereka berhenti karena guru masuk membawa kertas soal ujian muridnya. Ketua kelas membagikan kertas ujian pada masing-masing murid.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Semoga nilai ku kali ini lebih baik lagi dari sebelumnya. Tapi itu tak mempengaruhi, toh ke depannya aku akan menjadi seorang istri bukan wanita karir seperti impian ku