Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 23


__ADS_3

Goda asisten pribadinya Arka hanya ingin mengetesnya saja, ia pun bergegas pergi buru-buru karena melihat tatapan atasannya begitu mengerikan.


"Semoga aku bisa melupakan mu, Lun. Walaupun berat rasanya menghapus kenangan yang sudah kita lewati bersama." lirih Arka membayangkan kejadian di mana ia dan mantan kekasih itu bersama menjalin hubungan yang baru ia dan Luna mulai.


Arka tak mudah untuk menaklukkan si gadis Tomboy tersebut, ia butuh pengorbanan dan berbagai macam cara untuk mendapatkan perhatian darinya. Sampai Arka mengorbankan dirinya untuk bertanding di area balap liar bersama dengan Aluna.


"Huuuffff..," Arka membuang napasnya dengan perlahan, ia fokuskan pada layar dan tumpukan berkas yang ada di depan matanya. Ia harus belajar, berusaha melupakan cinta untuk Aluna yang masih tertahta di hatinya walaupun sedikit. Rasa rasa kecewa dan sakit mendominasi hatinya sekarang.


.


.


.


.


Pulang bersama dengan pria beda kelas, Amel turun dari motor sport milik Rio dengan tergesa. Ia tak ingin berlama-lama takut Tantenya melihatnya pulang dengan pria lain.


"Aku masuk dulu ya, Rio. Terimakasih." jawab Amel tergesa-gesa, ia buru-buru pergi dari hadapan Rio sebelum pria itu membalas perkataannya.


Rio hanya menarik napasnya lalu membuangnya dengan kasar sambil mengusap wajah sendiri, dengan cara apa lagi untuk meyakinkan Amel jika dirinya menaruh hati padanya. Berbagai cara telah ia lakukan hingga ia tekad ke kelasnya untuk membersihkan sesuatu padanya di saat jam pelajaran masih di mulai.


Cek lek.


Pintu di buka oleh Amel dengan tergesa menimbulkan suara yang cukup keras di dengar oleh orang dalam. Tante Ratna pun bergegas menuju pintu depan ingin melihat siapa yang datang.


"Jam berapa nih? Baru pulang," tanya Tante Ratna seperti biasa. Ia sedari tadi menunggu ponakannya datang untuk menyampaikan sesuatu yang membuat ia gembira.


"Maaf, Tan. Tadi pulangnya jalan kaki." alasan Amel berbohong pada Tantenya untuk melindungi dari kemarahannya. Ia tak ingin di hukum lagi seperti kemarin.

__ADS_1


"Sana ganti baju yang lebih sopan ya dan dandan yang cantik." titah Tante Ratna tak seperti biasanya. Sepulang sekolah Tantenya akan menyuruh mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak untuknya. Tapi, entah sekarang Tantenya menyuruhnya hanya mengganti pakaian dan berdandan cantik tak biasanya menurut Amel.


"Emang mau kemana, Tan?" tanya Amel begitu penasaran. Ia ingin tahu tujuan Tante itu menyuruhnya seperti itu.


"Jangan banyak tanya, lakukan saja. Toh, ini juga demi kebaikan kamu juga." elak Tante Ratna setelah itu pergi untuk masuk ke dalam kamarnya yang tak lain adalah kamar mendiang orang tuanya yang kini di tempati oleh Tante dan Om nya.


Amel pun menurut tanpa bertanya lagi, ia tak pernah curiga soal rencana Tante yang akan di lakukan. Amel pun membersihkan dulu sebelum ia berdandan apa yang di suruh oleh Tantenya itu.


Baru kali ini Amel di perlakukan seperti ini, dengan rasa senangnya Amel pun berdandan natural tapi masih terlihat begitu cantik dengan polesan makeup yang ia punya.


"Tante mau ajak aku kemana ya?" tanya Amel pada dirinya sendiri, ada rasa curiga tapi ia tepis mungkin Tantenya ingin membahagiakan walaupun sesaat.


Dengan pakaian yang ia punya cukup lumayan bagus, Amel pun keluar dari kamar yang tak layak untuknya. Ia edarkan pandangan untuk mencari keberadaan Tantenya itu yang tadi memerintahkan untuk ia berdandan cantik.


"Kemana Tante," gumam Amel tak menemukan Tantenya itu, ia tak berani untuk masuk ke kamar itu setelah di huni oleh Tante dan Om nya. Sebelum Tantenya ia sering keluar masuk ke kamar itu tapi sekarang ia harus berpikir ulang ulang kali untuk masuk ke dalam kamar tersebut.


"Eh, Om. Amel di ajak oleh Tante Ratna. Entah mau kemana." jawab Amel dengan jujur apa yang di katakan oleh Tantenya itu.


Om Agus pun mengernyitkan dahinya, ia mulai aneh dengan tingkah sang istri begitu baik ponakannya yang selalu ribut dan suka marah-marah tak jelas dengan ponakan satu-satunya ini.


"Tante mau mengajak kamu, tumben." balas Om Agus masih curiga dengan tingkah istrinya yang baik terhadap ponakan satu-satunya yang ia punya.


Amel pun menggelengkan kepalanya tanda tak tahu, ia hanya menuruti perintah Tantenya dari pada ia harus di hukum seperti kemarin.


Tante Ratna keluar dengan dandanan begitu glamor seperti orang beriman berada, ia memakai berbagai aksesoris dengan dandanan begitu glamor.


"Kamu mau kemana?" tanya Om Agus pada sang istri.


"Mau keluar sebentar," jawab Tante Ratna hanya menjawab seadanya, ia tak ingin memberitahukan rencana yang sudah ia rencanakan.

__ADS_1


"Sama Amel?" tanya suaminya itu lagi.


Tante Ratna mengangguk, ia pamit pada suaminya karena waktu sudah mulai terlambat untuk datang ke tempat yang sudah ia janjikan.


"Hati-hati, jangan sampai Amel terjadi sesuatu. Jika sampai terbukti kamu melakukan pada ponakan ku awas kamu." ancam Om Agus tak pernah main main, entah kenapa hari ini ia tak ingin mengalah demi ambisi sang istri yang kecewa terhadap kakaknya yang sudah tiada.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Iya, Mas. Tenang saja, aku malah akan memberikan kebahagiaan untuk ponakan mu yang kamu banggakan ini..

__ADS_1


__ADS_2