
Amel pun pergi setelah makanan yang tadi ia pesan sudah di bayar oleh pria itu yang tak lain adalah guru kelasnya sendiri mulai sekarang. Ia akan sering bertemu dengannya setiap hari di sekolah ini.
"Mau kemana, Mel?" tanya Ayu melihat temannya selesai membayar malah pergi begitu saja tak gabung dengannya lagi.
"Mau ke perpus sebentar, Yu. Mau ikut?" ajak Amel pura-pura mengajak, ia sebenarnya hanya ingin menghindar dari kedua temannya yang mulai kepo dengan dirinya.
Ayu menggelengkan kepalanya, ia masih ingin di kantin menghabiskan makanannya yang belum habis.
Amel pun pergi setelah mengajak kedua temannya itu, ia hanya ingin menyendiri sambil membaca buku di perpus jika ada yang ia sukai.
Sampai di perpustakaan, Amel melihat lihat buku satu persatu dan tak ada satu pun menarik hatinya saat ini. Bukan ini yang ia inginkan hanya ingin menyendiri menghindari kedua temannya. Buku hanya pelampiasan saja dari kesal bercampur aneh yang ia rasakan saat ini.
Bel pun berbunyi, saat pelajaran kedua di mulai membuat Amel membuang nafasnya berkali kali agar tekanan darahnya stabil dalam menjalani harinya.
"Mel," panggil Sasa melihat temannya sudah masuk kedalam kelas.
"Apa?" tanya Amel begitu was was dengan pertanyaan dari temannya yang kepo.
"Gue dari tadi pengen tanya Lo, emang Lo ada hubungan apa dengan pak Arka? Kok kesannya kalian seperti sudah kenal lama gitu." tanya Sasa yang penasaran. Jiwa kepo nya meronta-ronta di dalam pikirannya.
"Apa? Kalian tuduh aku dekat dengan pria itu, aku tak tahu apa-apa tentang Pak Arka. Jangan berpikir macam-macam." jawab Amel beralasan seperti itu, ia juga belum bisa menceritakan kejadian kemarin saat pak Arka bilang tak boleh mengatakan apapun termasuk saat kemarin tak sengaja kenal.
__ADS_1
Sasa dan Ayu bernafas lega, ia pikir jika temannya itu sudah menyembunyikan pria seganteng itu pada mereka yang begitu tergila-gila pada sosok pria seperti pak Arka.
"Kalian kenapa?" tanya Amel yang bingung dengan kedua temannya.
"Gak apa-apa, tapi Mel kamu gak taksir gitu sama pak Arka? Dia ganteng loh, masih muda lagi di tambah katanya sih dia punya perusahaan geddeeee bangeeeettt." cerita Sasa begitu antusias, ia mendengar dari kelas sebelah tentang guru baru yang tak lain adalah pak Arka.
"Bodo amat masa bodo, pria itu ganteng, ganteng apanya?" tanya Amel seolah ia belum menyadari dengan detail tentang pria kemarin menghabiskan waktu setengah hari bersamanya.
Bukan Amel tak tahu ia tak memperhatikan dengan wajah pria itu saking takut jika ia memandang wajah pria saat marah padanya.
"Si Amel mah mata harus di periksa kembali, rabun kali dia. Seganteng itu, mubajir Mel kalau gak di pacarin jadi simpanan pak Arka juga gue mau." ucap Sasa asal ngomong saja, ia sudah membayangkan jika pak Arka itu jadi sugar Daddy.
"Hehehe, tahu aja lu, Yu. Gue kan mau dah jadi simpanan sugar Daddy." jawab Sasa mengatakan apa yang ia bayangkan tadi.
Plak...
Pukul Ayu lagi pada temannya yang kurang ajar, Amel hanya terkekeh dengan kedua temannya sedang memperebutkan pria itu tak ada manis-manisnya menurutnya.
"Lu kenapa juga, Mel. Lagi bayangin juga?" tanya Ayu lagi melihat teman satunya lagi sedang menggelengkan kepalanya.
"Enak aja, ngapain bayangin pria modelan begitu mending gue fokus belajar bentar lagi juga ujian." ujar Amel tak ingin di tuduh seperti temannya itu sedang melamun membayangkan pria aneh tersebut.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ehemm, kalian lagi bicarakan saya...
__ADS_1