Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 46


__ADS_3

"Mamah serius, dia kayanya masih muda deh." tebak Arki memandang gadis itu secara intens.


"Emang, dia masih muda, malah baru lulus sekolah." jawab Arka menimpali orang orang sedang membicarakan Amel. Ia duduk di sebelah sang Mamah dengan sang adik sedang bermanja.


Arki bangun dari pangkuan sang Mamah, ia kaget bukan kepayang mendengar perkataan dari sang kakak mengatakan jika calon iparnya masih muda baru lulus sekolah.


"Kaka serius? Emang gak ada cewek lagi apa selain dia." tanya Arki tak percaya dengan apa yang barusan sang kakak katakan.


"Emang kenapa? Yang penting SETIA kan." jawab Arka setelah itu pergi begitu saja meninggalkan adik dan Mamahnya sedang mengernyitkan dahinya tak mengerti.


"Kaka mu kenapa?" tanya Mamah Nayla penasaran dengan sikap putra sulungnya.


Arki mengangkat bahunya, ia tak ingin menceritakan masalah sang kakak di mana kakaknya di tinggalkan oleh orang yang ia cintai untuk selamanya.


.


.


.


Di dapur.


Arka membuat minuman sendiri tanpa meminta pada Amel maupun sang Mamah. Ia sudah terbiasa melakukan ketika di luar negeri pun. Kebiasaan ini berlanjut sampai di apartemennya ia lakukan sendiri tanpa menganggu jika Amel sedang sibuk atau pun berada di dalam kamar.


"Buatkan satu lagi, Kak." pinta Arki berada di samping sang kakak, entah sejak kapan sang adik berada di dekatnya.


"Bikin sendiri, Ki. Jangan manja." tolak Arka setelah itu pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun pada sang adik.


Arki mencibir ke arah sang Kaka, setelah itu ia membuat sendiri minuman untuknya.


Selesai membuat, Arki ingin membalikkan tubuhnya begitu kaget dengan kedatangan gadis cantik sedang memperhatikannya.


"Kamu siapa? Om Arka kan ada di ruang tamu." tanya Amel baru bangun tidur ia berpapasan dengan pak Arka sedang membawa minuman.


"Saya kembarannya. Emang kamu tak tahu."


Amel menggelengkan kepalanya, ia baru saja melihat wajah mirip dengan pak Arka hanya membedakan pakaiannya saja.


"Perkenalkan aku Arki adik kembarannya, calon adik ipar mu." dengan pedenya Arki memperkenalkan diri sebagai adik ipar pada calon Kaka iparnya.

__ADS_1


"Adik ipar. Kamu adik ipar siapa?" tanya Amel tak mengerti.


"Kamu kan calon kakak ipar ku kan?" tanya Arki aneh dengan sikap gadis itu.


"Calon kakak ipar siapa? Emang siapa yang mau menikah." tanya Amel tak ingat jika dirinya adalah calon istri pak Arka.


"Kamu lah, kan emang kamu mau menikah kan dengan kakak ku, kak Arka." balas Arki aneh sambil mengernyitkan dahinya. Ia curiga dengan sikap gadis itu terasa aneh.


"Ooh, itu, itu. Emang benar saya calon kakak ipar mu." jawab Amel segera, ia baru ingat jika dirinya harus berpura-pura menjadi calon istrinya pak Arka jika keluarga bertanya soal itu.


Arki menggelengkan kepalanya, ia pergi begitu saja tanpa bertanya lagi pada calon kakak iparnya itu.


"Duh, hampir saja ketahuan. Kenapa oon sekali sih ini otak baru on." gumam Amel merutuki kebodohannya karena lupa jika dirinya harus mengaku sebagai calon istri pada keluarga pria itu.


Segera Amel mengambil kue untuk di sungguhkan untuk mamah dan adik pak Arka, ia tak boleh gegabah bertindak sebagai calon istri bohongan di depan keluarganya. Takut mereka akan tahu kebohongan yang sudah Arka dan dirinya sepakati bersama.


"Mari cicipi, Mah, Om." ucap Amel menaruh kue tersebut di atas meja.


"Kok kamu panggil kak Arka sebutan Om sih." tanya Arki penasaran dan heran dengan panggilan gadis itu pada sang kakak dengan sebutan Om.


Amel maupun arka mematung, ia bingung harus menjawab pertanyaan itu dari mana karena tak mungkin jika harus jujur apa yang telah terjadi dengan sebutan panggilan itu.


"Ah, iya, Mamah baru ingat. Mau bertanya malah lupa." sahut Mamah Nayla aneh dengan panggilan itu.


"Itu panggilan spesial kan sayang." sahut Arka menimpali agar sang Mamah dan adiknya tak ada yang curiga.


Amel hanya mengangguk tanda setuju apa yang di katakan oleh pak Arka, hanya menurut saja tanpa membantah sedikit pun.


"Pasangan aneh, tapi unik sih. Kalian kan beda umur lumayan jauh kan jadi pantas jika gadis ini memanggil mu Om, Kak." ucap Arki sambil tersenyum penuh arti, ia ingin sekali tertawa berbahak mendengar panggilan itu.


Arka mengerucutkan bibirnya ke depan, ia tak suka dengan sang adik mentertawakan dirinya telah memilih gadis baru lulus SMA. Bukan tak laku atau pun tak ada yang suka Arka tak suka di deketin sembarangan gadis lain di saat ia masih menata hatinya ingin menghapus kenangan dan cinta dari masa lalunya.


Ke empat mengobrol dengan begitu senangnya sampai tak tahu waktu jika Mamah Nayla sudah di tunggu oleh suaminya sejak tadi di kediamannya.


Bunyi panggilan telepon itu menghentikan obrolan mereka, semua menatap kearah sang Mamah saat merogoh ponselnya di dalam tasnya.


"Siapa, Mah." tanya Arki.


"Mampus, papah telpon." mamah Nayla merasa bersalah karena lupa waktu jika sang suami sudah pulang.

__ADS_1


"Angkat saja, Mah." titah Arki dengan santainya, ia tak tahu jika sang Mamah sedang berada dalam masakan karena lupa waktu saat pulang tak ada di rumah.


"Halo, Pah." jawab Mamah Nayla dengan suara lembut.


"Mamah di mana? Kok belum pulang." tanya Papah Rayyan begitu khawatir dengan belahan jiwanya tak ada di rumah saat ia pulang, tak sambutan seperti biasa ketika di depan rumah saat ia tiba di rumah.


"Masih di apartemen Arka, Pah." jawab Mamah Nayla dengan jujur.


"Betah banget di situ, emang ada siapa?" tanya Papah Rayyan heran dengan kelakuan sang istri tak biasa akan lama di apartemen milik putra sulungnya.


"Ini loh, Pah. Ada calon mantu kita." jawab Mamah antusias memberitahukan apa yang ia ketahui hari ini.


"Tadi Mamah bicara apa?" tanya lagi papah Rayyan mendengar semar-semar.


"Calon mantu kita, Pah. Bener kata Arki kita akan mendapatkan mantu, Pah. Dia cantik banget, masih muda lagi." lanjutnya lagi memberitahukan pada suaminya.


"Suruh mereka pulang ke sini dan bawa apa yang tadi mamah katakan. papah pengen lihat." titahnya lagi lalu memutuskan sambungan teleponnya oleh papah Rayyan.


Mamah Nayla menyimpan ponselnya ke dalam tasnya lagi dan mengatakan apa yang diperintahkan oleh suaminya jika Arka harus pulang sambil membawa calon mantu.


"Hayo loh, Kak. Pasti Papah---," ucap Arki menakuti sang kakak.


"Jangan takut, Ka. Mamah dukung kamu kok, yang terpenting kamu benar-benar dalam bertindak atau pun memutuskan sebuah hubungan." sahut Mamah Nayla menepuk putra sulungnya merasa grogi dan gugup.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Nanti, Arki dukung dari belakang ya jika Papah tak merestui kakak...


__ADS_2