Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 13


__ADS_3

"Biar saya yang bayar semuanya." ucap Arka lagi dan lagi ia datang saat Amel sedang kebingungan. Bingung untuk membayar semua yang ia pesan dengan porsi 2 orang Amel hanya mempunyai uang untuk dirinya sendiri.


Amel dan kedua temannya itu menoleh secara berbarengan ke arah suara begitu asing bagi mereka. Amel lebih terkejut dengan datangnya pria yang tadi marah-marah padanya tak ingin di ganggu oleh siapapun. Entah ada masalah apa yang Amel tahu jika pak Arka ada sesuatu yang membuat ia merasa kacau.


"Pak Arka," ucap berbarengan tak dengan Amel hanya terdiam tak berani untuk berbicara setelah ia di bentak di ruangan milik pria yang ada di hadapannya sekarang.


"Pak Arka tadi bicara apa?" tanya Sasa yang bar-bar tak mendengar jelas apa yang di katakan guru barunya ini.


"Saya hanya ingin mengambil makanan saya yang sudah di pesan oleh Amel." jawab Arka mengambil nampan berisi makanan yang sudah di pesan oleh Amel berada di meja.


Amel hanya menatap tanpa menjawab atau pun berkomentar apapun, ia takut salah berbicara lagi dengan manusia aneh ini lagi.


Pak Arka pun mengambil dan membayarnya termasuk pesanan yang Amel pesan. Setelah itu berlalu meninggalkan kantin tersebut sambil membawa pesanan untuk ia bawa ke ruangannya.


Flashback..


"Kenapa aku jadi kaya gini sih, pasti itu cewe takut dengan ku lagi." ucap Arka kesal dengan dirinya sendiri setelah membentak Amel hanya membawakan makan siangnya yang ia suruh untuk memesannya.


Lagi lagi Arka bangun untuk mengejar gadis agar tak beranggapan jika dirinya pria emosional. Arka pun berjalan menuju kantin untuk mencari keberadaan Amel sudah membawa kembali pesanannya yang ia tolak dengan cara di bentak. Hanya gara-gara ia memikirkan dan membayangkan masa lalunya ia membentak gadis itu yang tak tahu apa-apa.


Arka pun mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan muridnya dan melihat Amel sedang melamun entah sedang memikirkan apa? Arka pun memberanikan diri menghampiri dan mengatakan.


"Biar saya yang membayar semuanya."


Flashback of.


"Mel," panggil Sasa membuyarkan lamunan temannya itu yang sedang melamun.


"Ah, iya, apa?" ucap Amel yang kaget dengan panggilan dari temannya.


"Kamu kenapa? ngelamun." tanya Ayu melihat temannya terdiam.


"Gak kok," jawab Amel dengan singkat. Ia tak ingin di tanyakan sesuatu oleh kedua temannya yang mulai curiga padanya.


"Kenapa dengan pak Arka ya, Mel. Kok aneh banget sama kamu, kaya seperti sudah kenal lama gitu." tanya Sasa yang peka dengan sikap dan tingkah temannya yang beda dari biasanya.

__ADS_1


"Gak ada apa apa, jangan berpikiran aneh-aneh. Aku gak kenal dengan pak Arka." jawab Amel beralasan seperti itu dan semoga kedua temannya itu percaya dengan apa yang ia katakan.


Sasa dan Ayu saling pandang, ia mencari jawaban dari dari temannya. Mencari sesuatu yang entah aneh dengan sikap Amel sekarang tak terbuka ada sesuatu yang di sembunyikan oleh temannya.


"Aku mau bayar dulu." ucap Amel mengalihkan perhatian agar temannya itu tak ada yang bertanya lebih lanjut lagi dengan sikap pak Arka padanya.


Amel pun berjalan untuk membayar pesanannya. Ia gembira karena pesanan satunya lagi sudah di bayar oleh sang empunya yang memerintah untuk memesan makanan itu.


"Bu saya mau bayar." ucap Amel pada ibu kantin.


"Sudah di bayar, Neng. Sama guru ganteng itu." jawab ibu kantin itu yang tersenyum dengan ramahnya.


"Di bayar, sama Om itu. Ya ampun lagi lagi Om itu yang bayar makanan ku. Gak enak banget jadinya." gumam Amel malu sendiri lagi lagi makanannya harus di bayar oleh pria yang yang kemarin ia kenal dan sekarang ia menjadi guru barunya di sekolahnya.


.


.


.


"Mau apa kamu," cegah Tante Ratna menghampiri Amel ingin mengambil nasi.


"Makan, Tante." jawab Amel begitu jujur.


"Nih setrika baju ku dulu baru kamu makan." titah Tante Ratna melempar bajunya.


"Setelah makan ya, Tante. Amel lapar banget." mohon Amel, ia hanya makan sedikit di kantin sekolah.


"Kamu mau membantah ku?" bentak Tante Ratna.


Amel menggelengkan kepalanya, ia pun menunda piring tersebut ke tempatnya lalu mengerjakan apa yang di suruh oleh Tantenya.


Ketika sedang menyetrika baju, tiba-tiba Tante Ratna berteriak lagi memanggil namanya. Buru-buru Amel menghampiri Tante Ratna, ia takut kena omelan lagi.


"Cepetan angkat pakaian di depan. Apa kamu tidak lihat mau hujan." bentak Tante Ratna sedang santai sambil menonton televisi.

__ADS_1


"Tapi, Tan."


Tante Ratna melihat sekilas lalu melotot tak suka jika perintah di bantah oleh bocah ingusan itu. Amel pun berlari ke depan untuk mengangkat pakaian yang ia cuci. Lalu meletakkan di ruang belakang di mana ia tadi menyetrika.


"Bau apa ini? Astaghfirullah, aku kan lagi menyetrika baju." kaget Amel, segera ia berlari menghampiri tadi ia tunda.


"Hah, bolong. Gimana ini? Pasti Tante Ratna marah besar."


"Kenapa?" tanya Tante Ratna, ia pun mencium bau gosong segera datang ke belakang.


"Maafkan Amel, Tante. Bajunya...," ucap Amel begitu gugup.


"Baju ku kenapa?" tanya Tante Ratna langsung menarik bajunya.


"Ya ampun, kenapa jadi bolong seperti ini? Kamu apakah baju ini, Mel?" omel Tante Ratna sudah marah, ia pun menghampiri ponakannya sudah merusak baju kesayangannya.


"Sini tangan kamu." titah Tante Ratna.


"Mau di apakan, Tante." tanya Amel, ia begitu cemas dengan hukuman yang akan di berikan oleh Tante.


Tante Ratna menarik dengan paksa lalu meletakkan tangan Amel di atas alas setrika lalu menekan setrika sudah mati tapi masih panas.


.


.


.


.


.


.


Aaarghhhh... Sakit, Tante. Hiks... Hiks... Hiks...

__ADS_1


__ADS_2