
Mamah Nayla menguraikan pelukannya lalu melihat wajah gadis cantik sedikit sembab oleh air mata, entah dorongan dari mana Mamah Nayla menghapus sisa air matanya yang masih membasahi pipi mulusnya.
"Jangan sedih lagi sekarang kamu tak sendirian, ada kami selalu ada untukmu." ucap Mamah Nayla lagi meyakinkan jika gadis sedang sedih.
"Terimakasih, Tante. Saya senang bisa kenal dengan Tante." balas Amel tersenyum dengan indahnya. Mamah Nayla mengangguk setuju, entah kenapa saat melihat kedua mata indah gadis ini ia begitu bahagia dan terasa berbeda.
"Pasti Papah mu senang, KA. Sebentar lagi akan mendapatkan mantu." ucap Mamah Nayla antusias ingin segera pulang lalu memberitahukan pada suaminya jika putra sulungnya itu sudah mendapatkan calon istri.
"Jangan dulu, Mah. Nanti saja, biar Amel menerima kelulusan dulu baru memberitahukan Papah." cegah Arka, ia tak tahu dengan reaksi sang Papah jika ia melibatkan gadis baru lulus SMA.
"Kenapa? Papah tak mungkin sejahat itu, Ka. Pasti Papah merestui kalian. Tenang saja ya," balas Mamah Nayla meyakinkan jika tak terjadi sesuatu saat kabar bahagia ini suaminya tahu.
"Mamah akan urus semua, kamu dan Amel tinggal tunggu beres saja. Mamah tak sabar, Ka. Ingin segera melihat mu di pelaminan menggandeng istrimu." lanjutnya lagi, ia sudah membayangkan gimana bahagia sebagai ibu melihat putra sulungnya akan segera menikah. Di usianya sudah kepala tiga Arka belum juga memperkenalkan gadis pujaannya untuk segera menikah.
Semua teman sosialita nya sudah mendapatkan mantu ada juga sudah mendapatkan seorang cucu dari anaknya.
Amel hanya diam, ia hanya jadi pendengar saja tanpa menimpali omongan kedua orang yang menurut Amel merasa aneh. Ia tak sebahagia atau pun gembira sebagai seorang gadis saat membahas soal pernikahan. Ini hanya pernikahan palsu jadi menurut Amel tak akan menimpali urusan yang sudah di susun oleh pria di sampingnya.
"Kalian sudah makan?" tanya Mamah Nayla mengalihkan topik pembahasan tentang pernikahan Arka.
__ADS_1
"Sudah, Mah." jawab Arka, ia memang sudah makan di masakin oleh Amel yang pintar masak.
"Yah, kirain belum makan. Mamah tuh ke sini mau lihat keadaan mu takut tak ada yang ngurus saat kamu ingin menginap beberapa hari di apartemen mu. Tapi, malah Mamah di bikin terkejut dengan adanya gadis cantik berada di apartemen mu, Ka." kata Mamah Nayla menaruh makanan yang ia bawa dari rumah, ia sengaja datang untuk melihat keadaan putranya tak pulang.
"Aku sudah besar, Mah. Jadi, tak perlu khawatir ya, Mamah cukup doakan saja biar Arka bahagia."
Amel tak tinggal diam, ia mengambil piring dan wadah untuk memindahkan makanan yang di bawa wanita masih cantik itu. Ia begitu kagum dengan kecantikannya dan ketulusan tak memandang siapapun dan dari asal mana ia berada. Dan nilai tambahannya sudah di peluk di hari pertama bertemu dengannya.
Pelukan itu bagaikan pelukan sang Mamah sudah tiada, ia rindu pelukan itu yang selalu ia merindukan setiap detik.
"Ayo makan, Nak. Cicipi masakan Tante." ajak Mamah Nayla melirik jika gadis itu akan berlalu.
"Sini, temani ya. Kita makan barengan." ajak Mamah Nayla memaksa, entah kenapa tiba-tiba ia merasa senang dan nyaman.
"Baik, Tante." jawab Amel dengan pasrah, ia sebenarnya masih gugup jika berbincang dengan mamah pak Arka yang baik.
"Jangan panggil Tante dong," pinta Mamah Nayla.
"Terus saya panggil apa, Tante?" tanya Amel merasa gugup.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Panggil Mamah saja ya, seperti Arka memanggil Tante, Mamah. Kalian kan akan segera menikah