Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 57


__ADS_3

Selesai sarapan bersama penuh ketegasan Arka memerintahkan ART untuk menyiapkan sarapan buat Amel, setelah selesai berbicara dengan Papah ia akan mengantarkan makanan tersebut ke kamar tamu.


"Apa motif kamu melakukan ini, Ka?" tanya seorang ayah pada anaknya saat tahu apa yang di lakukan sang anak itu sangat keterlaluan. Kedua pasangan sudah halal di mata agama dan negara malah mempermainkan sebuah ikatan pernikahan sudah sakral.


"Maafkan aku, Pah. Awalnya memang Arka mengajak Amel hanya jadi istri sementara saja tapi--," jawab Arka menghentikan ucapannya.


"Tapi kenapa? Apa kamu tak memikirkan kedepannya, Ka. Banyak sekali orang yang di rugikan dengan tindakan mu terutama Mamah mu, dia kecewa saat mendengar semua ini yang kalian sembunyikan dari kami."


"Ini juga semua salah, Papah. Jika saja aku tak kuliah diluar negeri mungkin aku tak mungkin menyakiti hati seorang gadis, Pah. Mungkin aku sudah bahagia dengan cinta pertama ku." elak Arka.


"Apa maksud mu?" tanya Papah Rayyan tak mengerti.


"Di saat aku pergi ke kota X, aku meninggalkan wanita yang aku cintai, Pah. Aku meninggalkannya tanpa pamit atau pun berkabar padanya di tambah Papah melarang ku berkomunikasi pada siapapun kecuali keluarga saja kan." jelas Arka meluapkan apa yang selama ini ia pendam selama ini. Rasa itu belum sepenuhnya hilang dalam benaknya. Bukan ia masih menyimpan perasaan untuk masa lalunya, ia masih merasakan kekesalan apa yang sudah di lakukan oleh keluarganya.


"Apa gadis yang kamu ceritakan itu istri mu," tanya Papah Rayyan ingin memastikan.


"Bukan, Pah. Dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya sekarang. Aluna, gadis yang aku cintai sejak itu, aku pertahankan tapi takdir berkata lain. Kami tak berjodoh."


.


.


.


Selesai mengatakan hal itu Arka pamit karena ia ingin mengantarkan sarapan untuk sang istri, ia tak ingin jika istri kecilnya itu tambah sakit dengan keadaannya belum stabil.


"Mbok, mana sarapannya?" tanya Arka menghampiri ART baruh baya sudah lama bekerja di rumah ini.


"Ini, den Arka. Si Mbok sudah siapkan. Mau Mbok antarkan." tawar Mbok.


"Terimakasih, Mbok. Biar Arka saja." tolak Arka, ia ingin mengantarkan langsung di tambah ingin melihat keadaan istrinya.


Arka berjalan menuju kamar di mana Amel berada, ia ingin menjelaskan sesuatu pada gadis itu agar hubungan rumah tangganya baik-baik saja. Arka ingin menyelesaikan masalahnya yang ia buat sendiri melibatkan gadis itu untuk masuk kedalam hidupnya.

__ADS_1


******Tok.. Tok .. Tok******..


"Mel, buka pintunya. Aku boleh masuk." pinta Arka, ia begitu cemas dan khawatir tak tidur satu kamar dengannya. Walaupun tak pernah satu ranjang atau satu selimut dengannya tapi Arka selalu mencium kening setelah sang istri terbuai mimpi. Ia mencuri kesempatan itu agar tak ketahuan oleh si empunya.


Tak ada sahutan dari dalam membuat Arka terpaksa membuka pintu kamar tamu, ia masuk sambil membawa tampan berisi sarapan untuknya.


Masuk kedalam, ia edarkan pandangan untuk mencari keberadaan sang istri tapi nihil segera Arka menaruh apa yang tadi ia bawa ke atas nakas dekat ranjang.


"Mel, apa kamu di dalam?" tanya Arka lagi, ia mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan jika gadis yang ia cari berada di dalam.


Kosong. Kamar mandi itu pun kosong tak ada siapapun membuat Arka segera mengecek lemari pakaian sang istri. Dan, benar saja pakaian sang istri pun kosong, semua barang-barangnya pun tak ada di kamar ini.


"Amel, kamu dimana?" teriak Arka setelah keluar dari dalam kamar tamu, sejak kapan sang istri keluar dari rumah ini tak ada satu orang pun yang mengetahuinya.


"Mbok, lihat Amel tidak?" tanya Arka dengan wajah cemasnya.


"Tidak, Tuan. Memangnya kenapa dengan neng Amel." tanya pembantu paruh baya itu.


"Dia gak ada, Mbok." jawab Arka semakin cemas.


Arka pun berlari ke arah halaman belakang, ia mengeceknya siapa tahu sang istri ada di sana. Dan nihil, tak ada siapapun kecuali tukang kebun sudah memulai aktivitasnya.


"Ya Tuhan, dimana kamu, Mel." frustasi Arka takut jika sang istri pergi dari rumah ini tanpa sepengetahuannya.


Arka kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya, ia akan mencari keberadaan sang istri di luar sana.


"Kamu mau kemana, Ka?" tanya Papah Rayyan melihat putranya akan keluar tapi dengan wajah panik.


"Cari Amel, Pah." jawab Arka setelah itu berlalu meninggalkan sang Papah masih bengong mencerna apa yang di katakan oleh putranya.


"Cari Amel, memang Amel kemana? Arka, Arka." teriak Papah Rayyan tak di gubris oleh putranya pergi begitu saja dengan langkah tergesa.


Mbok Yem yang akan keluar untuk membuang sampah di cegah oleh Papah Rayyan masih penasaran dengan kabar yang ia dengar.

__ADS_1


"Neng Amel gak ada, Tuan. Den Arka mencarinya kemana-mana tak menemukan juga." jawab Mbok Yem hanya tahu soal itu saja. Hilangnya mantu di keluarga ini tak ada yang tahu perginya kemana gadis itu.


.


.


.


Di perjalanan Arka mengemudikan mobilnya dengan pelan sambil ia melihat sekeliling keberadaan sang istri, ia sudah bertanya pada penjaga gerbang tak ada sosok satu pun yang keluar dari rumah ini.


******Aaarghhhh******...


"Kamu kemana, Mel. Kenapa kamu pergi setelah aku menyadari keberadaan mu sangat lah berarti untuk ku." ucap pelan Arka sambil memukul setir karena menyesal sudah terlambat untuk menyadari perasaan pada sang istri.


Kebersamaannya selama 3 bulan bersama, satu kamar yang sama tapi tak satu ranjang membuat Arka terbiasa adanya sosok sang istri ada di dekatnya. Perasaan itu muncul saat sang istri mengatakan hubungan ini akan di bawa kemana tanpa ada penjelasan sedikit pun, Amel tak ingin selamanya menjadi istri pajangan keinginan Arka, ia juga tak ingin mengecewakan lebih lama lagi pada sosok ibu pengganti untuknya yaitu mamah Nayla.


"Apa kamu tak mau hidup dengan ku? Apa kamu tak ingin menghabiskan waktu bersama ku." tanya Arka pada dirinya sendiri, ia begitu bodoh karena menyia-nyiakan apa yang sudah ada di depan mata. Perlakukan dan pelayanan Amel padanya begitu baik dan lembut, ia bersyukur di usia Amel masih belia gadis tahu cara mengurus suaminya dengan baik.


"Gue harus cari di mana pun kamu berada, Mel. Kamu tetap milikku selamanya akan menjadi milik ku." tekad Arka, ia pun melajukan kendaraannya untuk mencari keberadaan sang istri.


Di dalam kamar si bungsu, Arki menelpon wanita yang ia bantu semalam untuk keluar dari rumah ini dengan cara memohon siapa lagi kalau bukan kakak iparnya. Ia yang tak tahu apapun begitu terkejut dengan pengakuan kakak iparnya itu semalam.


Mau tak mau ia pun membantu kakak iparnya untuk keluar dari rumah ini sesuai keinginannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kakak baik-baik saja kan? Jika terjadi sesuatu di sana kabarin Arki ya, kak..


__ADS_2