
Kata SAH yang terlontar dari para saksi menjadikan pasangan itu sudah halal mata hukum dan agama. Entah apa jadinya jika keluarga besar tahu apa yang sedang pasangan halal itu lakukan dengan pernikahan bohongan itu.
"Ayo cium tangan suami mu, Nak. Sekarang kamu sudah sah menjadi istrinya." titah Mamah Nayla begitu gemes dengan kelakuan pasangan ini sama-sama gugup seperti di jodohkan saja.
Amel melirik seketika lalu ia kembali lagi seperti awal menundukkan wajahnya merasa malu, ia malu dan gugup karena kata demi kata ia dengar begitu jelas dan lantang. Saat Arka mengucapkan ijab kabul menandakan jika dirinya sudah sah menjadi istrinya.
Rasa bahagia atau sedih yang harus Amel rasakan, ia bahagia bisa ada di keluarga hangat seperti keluarga suaminya ini. Di perlakukan seperti anaknya sendiri tak ada bedanya dengan putranya. Tapi sedih, ia hanya istri di atas kertas saja sebagai alat atas apa yang telah pria itu katakan pada temannya itu.
Dengan rasa ragu Amel mengambil tangan kokoh itu untuk ia cium secara takzim, ini pertama kalinya ia rasakan mencium tangan pria lain setelah sang Papah yang sudah meninggal.
Rasa berbeda yang di rasakan Amel saat tangan kokoh itu ia cium secara pelan, ada rasa bahagia bercampur aneh saat ini ia rasakan.
Dengan cepat tanpa ada suruhan dari orang lain Arka menarik tengkuk gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu untuk ia cium keningnya sebagai tanda jika gadis itu sudah sah menjadi miliknya seutuhnya.
******Cuit***...***
Cuit..
Goda Arki pada pasangan baru beberapa detik itu sudah halal menjadi pasangan suami istri, ada rasa bahagia dan senang melihat sang kakak sudah bisa menerima wanita lain dari masa lalunya susah untuk di lupakan sang kakak.
"Diem, nanti juga giliran kamu. Kapan mau kenalin sama Mamah, hah." ucap Mamah Nayla menarik putra keduanya agar tak menggoda kakaknya.
Arki merengut kesal, ia pergi begitu saja saat di tanyakan pasangan oleh sang Mamah. Bukan ia tak laku tapi Arki belum menemukan gadis tambatan nya yang bisa menarik perhatiannya.
Mamah Nayla menggelengkan kepalanya, ia hanya menggoda putra keduanya untuk memperkenalkan pujaannya jika memang ada. Ia takut ada gadis yang di sembunyikan lagi seperti putra sulungnya itu.
Acara inti susah selesai dengan lancar dan hikmah. Semua yang hadir mendoakan pasangan baru halal itu dan memberikan pesan dan saran saat memulai hubungan baru yaitu rumah tangga. Berlanjut makan siang bersama di kediaman rumah papah Rayyan bersama keluarga besar.
Satu persatu orang duduk di kursi masing-masing, begitu pula pasangan pengantin itu merasa malu karena godaan satu persatu dari orang yang ada di rumah itu.
"Kak," panggil Amel mencegah Arka untuk mengambil nasi ke piringnya. Sontak Arka menghentikan ia menoleh kearah sang istri dengan tatapan aneh.
"Ada apa?" tanya Arka.
"Biar aku ambilkan, sekarang kan sudah tugas ku melayani mu." jawab Amel begitu malu karena ia berbicara di depan keluarga besar suaminya.
__ADS_1
"Cie..cie..,"
Semua orang yang ada di meja makan saling ledek meledek menggoda pasangan yang baru halal itu, tak di pungkiri jika jika Arka pun merasa malu jika di goda seperti itu oleh saudara atau oleh adiknya.
Amel mengambil alih yang akan di lakukan oleh Arka, ia akan menunjukkan tugas pertamanya yaitu melayani suaminya di atas meja makan. Semua orang makan begitu nikmatnya dengan obrolan begitu hangat. Amel merasa bersyukur dan sedih ada di tengah-tengah keluarga begitu harmonis ini.
"Kamu kenapa?" bisik Arka ia tak sengaja melirik kearah Amel sedang menitikkan air matanya.
"Makasih ya, Kak. Sudah mau menerima aku sebagai istri mu walaupun istri bohongan saja. Tapi, Amel sudah bersyukur bisa merasakan hangatnya di rumah ini." balas Amel berbisik berterima kasih pada pria yang telah menolongnya dari kejahatan Tantenya pernah dilakukan.
Arka terdiam, ia merasa aneh saat Amel mengatakan jika ia merasa senang tapi ujung dari perkataan gadis itu membuat ia sesak.
"Jangan bisik-bisik terus kasihan jomblo yang ada di sebelah ku." ejek saudara dari jauh melirik pasangan itu bikin iri.
"Enak aja jomblo, aku, aku sudah punya ya." elak Arki tahu dengan perkataan itu mengejek padanya.
"Sudah-sudah jangan berisik, ayo lanjutkan makan." ucap Papah Rayyan menghentikan perdebatan antara putranya dan saudara dari jauh.
Arki merengut kesal, ia tak terima jika di katakan dirinya jomblo, memang benar yang di katakan saudara jika jomblo lebih tepatnya belum menemukan pasangan yang tepat untuk dirinya.
Serasa sudah kenyang Arka bangun dari kursinya, ia melihat kearah Amel masih belum habis makanan yang ada di piringnya.
Arka menoleh lalu membalikkan tubuhnya, ia menatap kearah Mamahnya tadi memanggilnya.
"Ada apa, Mah?" tanya Arka.
"Kamu gak mau tungguin istri mu." kata Mamah Nayla, ia aneh dengan pasangan baru halal itu.
Arka tak menjawab, ia malah memandang ke arah Amel sedang menunduk karena takut dengan tatapan pria sudah berstatuskan sebagai suami.
"Dia belum selesai, Mah. Arka buru-buru ingin ke kamar ada yang ingin Arka lakukan." jawab Arka memberi alasan, tapi bukan itu alasan sebenarnya.
"Tungguin, Ka. Bukannya Amel adalah gadis pilihan mu? Kok Mamah aneh sih, seperti kalian di jodohkan tak saling mengenal." tanya mamah Nayla penuh sedikit, ia hanya menerka-nerka saja dari gelagat mencurigakan dari putranya.
"Gak kok, Mah. Arka sayang sama Amel, ya kan, Yang?" tanya Arka penuh penekanan agar Amel harus mengikuti apa yang ia katakan tadi.
__ADS_1
"Iya, Kak. Mamah tak usah khawatir ya, kita baik-baik saja. Mungkin mamah melihatnya seperti itu tapi kami saling cinta kok." balas Amel, ia harus menunjukkan perannya sebagai istri baik untuk pertama kalinya di depan keluarga suaminya agar tak ada yang curiga.
Mamah Nayla hanya mengangguk, ia harus percaya dengan apa yang di katakan putranya dan mantunya. Mungkin ia hanya terbawa perasaan saja karena apa yang ia rasakan beda dari apa yang ia lihat.
Selesai makan siang, Amel di suruh untuk beristirahat di kamar pria berstatuskan suaminya sekarang. Ia di antar pelayan menuju kamar Arka.
"Ini, nona. Kamar tuan muda." ucap pelayan itu mengantarkan nona mudanya.
"Terimakasih banyak ya," setelah itu pelayan itu pergi hanya Amel seorang diri berdiri di depan pintu kamar suaminya.
"Masuk gak ya? Aku takut jika Om akan marah pada ku." gumam Amel merasa ragu untuk masuk ke dalam kamar milik Arka.
Di rasa untuk lama ia berdiri seorang diri, Amel pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Tak di sangka sebelum ia mengetuk pintu tersebut pintu itu sudah di buka oleh sang empunya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kamu sedang apa di sini?....