Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 52


__ADS_3

Setelah mengatakan hal itu Amel kembali lagi kedalam kamar mandi. Ia tak ingin di paksa untuk memakai baju itu, membayangkan saja Amel tak sanggup entah harus di pakai di depan pria itu berstatuskan sebagai suaminya. Memang halal tapi Amel hanya sebagai istri bohongan saja.


Tidak dengan Arka, ia mengambil paper bag yang tadi Amel letakkan. Ia tak mengerti dengan gadis itu tak mau memakai pakaian yang tadi ia bawa dari sang Mamah. Memang ada apa dengan baju yang ia bawa sampai gadis itu kekeh tak ingin memakainya.


"Memang kenapa dengan baju ini." tanya Arka pada dirinya sendiri, ia pun mengambil baju itu di dalam paper bag dan betapa kagetnya ia menatap baju yang ia pegang saat ini.


Arka menelan ludahnya dengan pelan, ia juga betapa kagetnya apa yang ia pegang saat ini. Segera ia memasukkan kembali baju dinas malam seorang istri, bukan ia tak suka Arka lebih suka jika yang di pakai oleh wanita yang ia cintai memakai baju itu tapi tidak dengan istrinya sekarang hanya sebagai istri bohongan saja.


Tak di pungkiri ia juga ingin melihat dan merasakan malam pertama bersama orang yang ia nikahi tapi itu hanya bayangan saja karena ia menikahi gadis baru lulus kemarin hanya ingin membuktikan jika ucapan benar pada sahabat dan adiknya bulan kemarin.


"Mamah apa-apaan sih, kan Arka yang repot ini." gurutu Arka, ia sebagai pria normal tentu akan terbakar birahi saat di sungguhkan dengan gadis begitu seksi, sedari tadi saja ia menahan mati-matian saat Amel keluar dari dalam kamar mandi hanya memakai handuk kimono. Gimana kalau Amel memakai pakaian itu ia tak bisa membayangkan hal apa yang akan terjadi antaranya dan dia.


"Om, cepetan Amel dingin ini." teriak Amel didalam kamar mandi, ia rasanya tak sanggup untuk berdiri atau duduk di closed hanya ingin menghindari tatapan pria itu.


Arka mendengar teriakkan Amel hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar, ia tak mungkin untuk keluar hanya mencari koper milik istrinya entah di mana? Tak mungkin ada di dalam kamar tamu pasti sang Mamah sudah merencanakan sesuatu padanya.


"Iya, bentar." jawab Arka, dengan pasrah dan tak ada yang bisa ia lakukan mau tak mau ia mengambil kemejanya yang menurutnya kekecilan untuk ia pakai.


Arka berjalan mendekati kamar mandi di mana Amel berada, ia mengetuk pintu tersebut untuk memberikan bajunya sendiri.


"Nih," Arka menyerah saat tangan mulus putih milik Amel menyodorkan tangannya lewat celah sedikit Amel buka pintu itu.


Kembali duduk setelah ia memberikan baju tersebut, Arka melihat banyak notifikasi dari sahabat pernah datang ke kantor waktu itu tak datang di hari pernikahan untuk membuktikan jika ucapannya benar.


"[Wih, lu hebat, Ka. Bisa dapatin cewek cantik masih muda.] pesan dari temannya.


Pesan yang di baca Arka tak membalasnya, ia malas untuk membalas pesan tersebut karena ia hanya ingin membuktikan pada sahabat agar tak di anggap pembohong.


Amel keluar dengan baju kemeja menurutnya kebesaran, ia memakai baju yang ia pakai karena terpaksa. Terpaksa tak ada baju yang bisa ia pakai selain ia baju aneh tersebut. Membayangkan saja sudah membuat Amel bergidik geli di tambah rasa malu jika sampai ia memakai pakaian itu di depan pria berstatuskan sebagai suaminya.


Arka terdiam, ia menatap Amel tanpa berkedip sedikitpun, dengan tatapan apa membuat Arka susah untuk mengalihkan pandangannya dari gadis ini.

__ADS_1


"Om," panggil Amel seperti biasa, ia memanggil dengan sebutan kakak hanya di depan keluarga pria saja.


"A-apa." jawab Arka gugup, ia gugup melihat kaki Amel begitu putih mulus membuat ia sudah untuk mengucapkan kata demi kata.


"Amel lapar, Om." pinta Amel untuk mengalihkan tatapan suami bohongannya, ia tak lapar hanya ingin memastikan jika suaminya itu keluar untuk menetralkan detak jantungnya saat di tatap oleh suami bohongannya.


"Kamu lapar lagi? Bukannya tadi sudah makan ya." tanya Arka, ia melihat Amel begitu lahapnya saat makan bersama keluarga selesai ijab kabul.


Amel menyengir tanpa rasa malu, lalu mengangguk setelah itu menggelengkan kepalanya. Ia juga tak mengerti dengan tingkah saat ini.


"Ya udah aku ambil dulu, jangan keluar ya." pesan Arka, ia tak ingin ada satu orang pun termasuk adik kembarannya itu melihat lekuk tubuh sang istri bohongannya begitu menggoda, tak mungkin ia juga menyentuh tubuh milik gadis itu walaupun halal baginya.


Keluar dengan wajah di tekuk, Arka mau tak mau harus mengambil makanan untuk gadis itu dari pada harus mengambil sendiri dengan pakaian yang ia berikan.


.


.


.


"Apa kamu gak lihat, hah. Aku sedang apa?" bentak Arka karena malas harus meladeni adiknya mulai kepo.


"Wih kayanya buat ngejar target ya, Ka. Agar cepat kasih cucu buat Mamah ya." ejek Arki, ia tak tahu jika sang kakak menikahi gadis karena perkataan bulan kemarin hanya ingin membuktikan saja.


"Iya, doakan saja sama kamu biar dapet anak kembar tiga." jawab Arka menjawab secara asal, ia pun pergi begitu saja meninggalkan adiknya masih di ruangan dapur.


Arki cekikikan, ia tak bisa membayangkan gimana repot saat sang kakak memiliki anak kembar tiga. Dan membuat Arki merasa geli sendiri tapi ia bahagia karena sang kakak bisa move on dari masa lalunya.


"Kamu sedang apa, Ki?" tanya Mamah Nayla ia pun turun dari lantai dua karena haus di dalam kamarnya air minum habis.


"Mamah, bikin kaget saja." ucap Arki mengelus dadanya karena kaget.

__ADS_1


"Ya kamu kenapa ketawa malam-malam gini bikin orang takut saja." omel Mamah Nayla tak habis pikir dengan putra keduanya ketawa di malam membuat ia merinding.


"Apaan sih, Mah. Arki hanya ingin minum saja."


"Terus kenapa ketawa? Emang ada yang lucu?" tanya Mamah Nayla penasaran.


"Tadi ada kak Arka, Mah. Dia ambil makanan lagi. Mungkin karena laper untuk ngejar target buat kasih cucu buat Mamah." ucap Arki memberitahukan apa yang terjadi di dapur tadi.


"Yang bener, Ki. Berarti rencana mamah sukses dong." jawab Mamah antusias mendengar cerita dari putra keduanya jika di sulung sudah melangkah lebih jauh dari hubungannya.


"Rencana apa, Mah? Emang Mamah merencanakan apa?" tanya Arki penasaran.


"Tadi Mamah sembunyikan baju-baju Amel lalu memberikan baju spesial untuk mantu Mamah agar dia memakai pakaian itu." jawab Mamah begitu senang karena sebentar lagi akan segera mendapatkan cucu dari si sulung.


Arki tahu apa yang di katakan oleh sang Mamah dengan sebutan baju spesial, memang ia tak melihat secara langsung tapi pernah mengantar sang Mamah ke butik langganan untuk mengambil baju tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Oh jadi Mamah yang menyembunyikan baju Amel....


__ADS_2