
Pulang dengan bahagia, Arka kali ini pulang dengan sang istri kecilnya. Ia menemukan di mana keberadaan istrinya berada. Keluarganya lah yang telah menyembunyikan istrinya yang ia cari-cari selama satu bulan lamanya bagai di telan bumi.
"Udah jangan di ciumin terus, kak. Kakak ipar tak akan hilang lagi." goda Arki saat Tah datang untuk menjemput mamahnya untuk datang ke kost'an kakak iparnya.
"Ini semua gara-gara kamu, aku sudah curiga jika kamu yang lakuin ini semua." tuduh Arka, ia tak ada kepikiran tentang adiknya sudah menyembunyikan istrinya.
"Sudah-sudah, ngapain pada ribut sih. Ini juga sebagai pelajaran untuk mu, Ka. Jangan pernah menyia-nyiakan istri mu walaupun kamu menganggap Amel adalah istri bohongan saja tapi di mata hukum dan negara kalian adalah sepasang suami istri halal." pesan Mamah Nayla, ia tak ingin Arka melakukan hal itu lagi pada seorang wanita terutama istrinya.
Apa yang di lakukan oleh putranya adalah salah karena telah mempermainkan sebuah pernikahan yang sakral. Itu membuat ia benci dengan cara anaknya lakukan.
Di usia mudanya, Amel hanya menurut saja saat di tawarkan seperti itu di tambah ia butuh ketenangan selama ini.
"Kak, kedepan dong. Jangan di belakang." pinta Arki, ia tak ingin duduk seorang diri mengemudikan mobilnya.
"Gak mau, kamu saja di depan." tolak Arka, ia begitu merindukan istrinya tak mau jauh-jauh lagi dengan istri kecilnya.
Duduk di samping sang istri sambil bersandar di bahu istrinya , ia seperti anak kecil baru menemukan hadiah yang berharga.
"Dasar bucin." ejek Arki, ia tak habis pikir dengan kelakuan sang kakak berubah 99,9% pada kakak iparnya saat ini.
"Kemarin di sakiti sekarang di peluk terus." goda Arki tak henti-hentinya. Ia bersyukur karena telah melihat sang kakak mulai berubah.
Sampai di bangunan mewah, Arka turun lalu menuntun sang istri untuk masuk ke dalam rumah. Ia bahagia benar-benar bahagia karena sang istri kembali dari sisinya lagi.
__ADS_1
Amel menghentikan langkahnya saat ia di ajak suaminya untuk masuk kedalam kamarnya. Banyak kenangan manis dan pahit yang ia rasakan di dalam sana.
"Kenapa?" tanya Arka, ia pun menghentikan langkahnya seperti sang istri lalu menoleh ke arahnya.
"Aku tak ingin masuk ke dalam kamar ini, kak. Tolong ngertiin aku." pinta Amel, ia tak ingin mengingat-ingat dimana suaminya itu menggagahi tubuhnya dengan cara paksa dan kasar.
Arka terdiam, ia pun merasa bersalah karena telah melakukan hal itu tanpa memikirkannya lagi. Penyesalan yang ia rasakan saat tanpa ia ulang lagi.
"Maafkan aku ya, Mel. Waktu itu aku khilaf karena nafsu ku tak bisa ku tahan lagi. Di tambah aku sangat pusing mendengar ocehan mu tanpa henti." ucap Arka penuh penyesalan, jika ia ingin meminta ia hanya ingin kejadian itu terulang kembali di mana ia tak melakukan hal itu.
"Sudah lah, Kak. Anggap saja itu sebagai pelajaran untuk kita. Itu memang haknya kakak tapi tidak dengan cara seperti itu dan kita tak saling mencintai. Amel hanya ingin melakukan atas dasar suka sama suka." jawab Amel, nadi sudah menjadi bubur itu peribahasa di mana kejadian itu tak bisa di ulang. Tapi Amel hanya ingin yang terbaik untuk rumah tangga kedepannya.
"Ya udah jika kamu tak ingin tidur di sini. Masih banyak lagi tempat tidur untuk kita. Kamu mau di mana?" tanya Arki, ia ingin serahkan pada istrinya tentang semua hal termasuk dirinya.
Arka mengangguk tersenyum, ia akan turutin kemauan sang istri demi rumah tangganya baik-baik saja. Ia ingin menjalin hubungan rumah tangga seperti orang tuanya bersama sampai menua.
Turun kelantai satu membuat Mamah Nayla gmheran dengan pasangan suami istri tersebut, ia takut terjadi masalah lagi pada mereka.
"Kenapa?" tanya Mamah Nayla.
"Amel ingin tidur di kamar itu, Mah. Gak apa-apa kan." izin Arka, ia tahu jika pemilik surganya itu tak akan keberatan.
"Gak apa-apa, yang terpenting Amel nyaman tinggal di sini."
__ADS_1
"Terimakasih, Mah." sahut Amel begitu senang, ia masih di terima dengan baik oleh keluarga suaminya.
Ia dan suami masuk kedalam kamar tamu pernah ia tempati. Lalu ia duduk di pinggiran ranjang dengan raut wajah sedih.
"Kamu kenapa? Gak suka dengan konsep kamar ini, mau ganti?" tawar Arka, ia takut jika istrinya tak suka.
"Bukan, kak." jawab Amel masih murung.
"Lalu apa?" tanya Arka penasaran lagi, ia pun duduk di samping sang sambil menggenggam tangan istrinya sedikit berisi.
.
.
.
.
.
.
Aku pengen rujak serut, kak...
__ADS_1