
"Aku pengen rujak serut, Kak." pinta Amel menginginkan makanan itu, entah kenapa tiba-tiba ia menginginkan rujak yang di serut bermacam buah dengan bumbu rujak yang mengunggah seleranya.
"Rujak serut, malam-malam begini. Di mana kakak mencarinya." tanya Arka begitu aneh dengan permintaan istri kecilnya itu, malam seperti ini tak mungkin ia bisa menemukan apa yang di inginkan sang istri.
Amel mengangguk tanda mengiyakan apa yang di katakan oleh sang suami, ia sudah membayangkan makanan itu ada di depan matanya.
"Jangan aneh-aneh, Mel. Kamu kan belum makan sedari siang." ucap Arka sepertinya menolak apa yang di inginkan sang istri.
"Tapi, kak. Aku ingin itu " rengek Amel seperti anak kecil.
"Gak." tolak Arka tak mengizinkan sang istri untuk memakan makanan itu, ia pun keluar dari kamar yang di pilih sang untuk tidur bersama.
" Kamu kenapa, Ka?" tanya Mamah Nayla heran dengan sikap Arka lagi merengut kesal.
"Amel menginginkan rujak serut, Mah. Tapi, Arka menolaknya." jawab Arka memberitahukan apa yang tadi sang istri inginkan.
"Rujak serut? Amel menginginkan itu?" tanya mamah Nayla memastikan lagi jika mantunya itu menginginkan hal itu.
Arka mengangguk, ia pun mengambil nasi untuk ia makan. Karena seharian ini tak makan sama sekali karena mengikuti adiknya itu.
"Kamu harus cari, Ka." menarik tangan putranya sedang menyuap kan nasi kedalam mulutnya.
"Mamah apaan sih, Arka lapar, Mah." omel Arka tak habis pikir dengan tindakan sang Mamah menarik tangan sedang makan.
"Kamu harus cari, Ka. Semua yang di inginkan Amel kamu harus mencarinya." kekeh Mamah Nayla, ia punya firasat jika mantunya sedang berbadan dua.
"Gak boleh, Mah. Nanti kalau Amel sakit perut gimana? Dia kan belum makan siang, Mah." tolak Arka mentah-mentah, ia tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya itu.
"Kalau cucu Mamah ileran gimana? Apa kamu bisa menjaminnya, hah. Pokonya jika cucu mamah ileran kamu yang harus Mamah hukum." ancam Mamah Nayla membuat Arka mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan perkataan mamahnya.
"Apaan sih, Mah. Gak jelas banget." elak Arka, ia pun kembali lagi ke meja makan untuk meneruskan makan yang tadi tertunda.
Dengan rasa gemes, Mamah Nayla pun menarik tangan putra sulungnya kedalam kamar tamu sekaligus kamar putranya sekarang. Sang mantu yang memilih kamar tersebut sebagai kamarnya.
"Apaan sih, Mah. Aku masih lapaaarrr." rengek Mamahnya memaksa dirinya lagi. Ia benar-benar aneh dengan sikap sang Mamah aneh hanya perkara rujak serut.
**Ceklek**.
Arka dah mamah Nayla masuk ke dalam kamar melihat Amel sedang nangis sesenggukan di pinggir ranjang.
"Kamu kenapa, Mel?" tanya Mamah Nayla begitu khawatir takut putranya itu menyakiti lagi.
__ADS_1
Arka tak kalah paniknya, ia pun menghampiri sang istri lalu duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit." tanya Arka ingin memastikan tidak terjadi sesuatu pada sang istri.
"Rujak serut, kak." sahut Amel masih terisak menangisi permintaan yang belum di kabulkan.
"Jadi, sedari tadi kamu menangis karena rujak serut." tanya Arka lagi.
Amel mengangguk sambil mendongakkan kepalanya melihat tatapan memelas ingin di turutin. Dengan wajah sembabnya sehabis menangis hanya perkara rujak serut.
"Sayang, maafkan anak Mamah ya, yang tak peka juga." ucap Mamah Nayla merasa bersalah karena tak menuruti keinginannya mantunya ia pikir sang mantu sedang berbadan dua.
Arka tak mencerna perkataan dari Mamahnya telah di kode terang-terangan mengatakan takut ileran pada cucunya. Arka malah fokus pada makanan yang belum selesai.
"Ayo belikan, Ka." titah Mamah Nayla lagi.
"Tapi, Mah." ucap Arka bukan ia menolak tapi ia ingin makan dulu dengan perutnya sedang lapar.
"Ya Allah gusti, harus bagaimana Mamah mengatakan itu lagi supaya kamu percaya jika istri mu sedang hamil."
"Oh, hamil. Ya kalau hamil langsung lahiran kan, Mah. " jawab Arka tak sadar, ia pun terdiam lalu menatap istri dan Mamahnya saat ia baru paham.
"Istri kamu lah, Ka. Masa Mamah itu tak mungkin kan," jawab Mamah Nayla dengan asal.
"Hamil." ucap Arka dan Amel berbarengan. Mereka pun syok saat Mamah Nayla menebak seperti itu.
Mamah Nayla mengangguk tanda yakin, ia pernah berpengalaman seperti itu saat merasakan pertama mengandung buah hatinya.
"Kamu hamil Sayang?" tanya Arka malah bertanya pada istri kecilnya membuat Amel terdiam bingung menjawabnya.
"Sana gih kalian periksa, jika hasilnya positif atau negatif kabarin Mamah ya " titah Mamah Nayla penasaran dengan hasil pemeriksaan yang ia tebak itu
Arka pun menarik tangan istrinya untuk di periksa sesuai keinginan sang Mamah, ia juga penasaran apa yang di katakan oleh sang Mamah benar apa bohong.
Kedua pasangan halal yang baru baikan itu bergegas menuju rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut lagi,ia dan sang istri juga penasaran dengan hasilnya.
.
.
.
__ADS_1
Sampai di bangunan berlantai lima ini, Arka dan Amel bergegas menuju resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan pemeriksaan ibu hamil.
Seorang suster pun mengantarkan pasangan suami istri itu ke ruangan obgyn dimana tempat praktek dokter kandungan.
"Silahkan, Bu, pak. Tunggu sebentar di sini jika nama ibu di panggil langsung masuk saja." ucap suster itu dengan sopan.
"Terimakasih," jawab Amel berterima kasih pada suster itu telah mengantarkan ke ruangan ini. Ada rasa cemas dan takut jika hasilnya tak memuaskan dengan tebakan ibu mertuanya.
"Kamu kenapa? Kok, pucat?" tanya Arka melihat raut wajah sang istri begitu tegang.
"Gak apa-apa, Kak. Aku takut saja." jawab Amel merasa cemas saja, ia tak pede berada di ruangan ini.
Berhubungan badan dengan sang suami secara paksa saat itu, membuat Amel juga merasa aneh dengan tubuhnya berbeda dari sebelumnya. Ia tak ingin menebak sesuatu yang belum terlihat positif di matanya.
Beberapa menit kemudian, kedua pasangan halal itu pun di panggil untuk masuk kedalam ruangan praktek dokter kandungan sudah ada di dalam sana. Arka maupun Amel masuk kedalam dengan wajah berbeda.
Arka begitu tegang dan Amel takut dengan hasilnya tak memuaskan membuat tak pede jika pulang dengan hasil negatif.
"Arka tahu apa yang di rasakan sang istri, ia pun menggenggam tangan sang istri untuk menenangkan apa yang di rasakannya saat ini.
"Santai saja, Yang. Jangan di bawa tegang seperti itu " bisik Arka menenangkan hati istrinya, ia pun merasakan hal yang sama tapi bisa menahan semua jadi lebih tenang.
"Tapi, kak. Aku takut sekali." bisik Amel lagi.
"Tak usah takut, Yang. kan ada aku."
.
.
.
.
.
.
.
Bukan itu, kak. Aku takut di suntik...
__ADS_1