
"Aaa, sini aku suapin." tawar Arka menyodorkan sendok berisi makanan dari piringnya.
Amel menatap dan terdiam, entah kenapa tiba-tiba saja ia melongo saat pria rese itu menawarkan makanan itu sampai ingin menyuapinya.
Amel mundur, ia tak ingin jika ada yang yang melihat tingkah laku gurunya itu yang sudah berani padanya. Segera Amel membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan ruangan ini begitu horor baginya.
Di balik pintu itu Amel menetralkan detak jantungnya. Entah apa yang kini di rasakan gadis remaja tak pernah mengenal namanya cinta. Ia hanya fokus sekolah setelah itu ia habiskan waktunya di rumah untuk bersih-bersih dan membuat kue pesanan tetangga.
Bukan Amel tak tahu dengan orang pacaran seperti apa, tapi ia tak berniat untuk melakukan hal itu. Ia hanya ingin fokus dan fokus belajar agar bisa membanggakan kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Amel bergegas pergi dari ruangan itu, ia ingin masuk ke kelasnya sebentar lagi bel berbunyi.
"Dari mana, Mel?" tanya Sasa melihat Amel baru datang ke kelas setelah ia dan Ayu tinggalkan untuk ke kantin.
Bukannya tadi temannya bilang mau ke kantin tapi nyatanya tak ada sosok Amel di kelas.
"Sudah, sudah di toilet." jawab Amel sedikit terbata, ia membayangkan kejadian dimana pria itu bicara di dekat telinga sambil menyodorkan sendok berisi makanannya membuat Amel horor.
Sasa dan Ayu saling pandang, mereka pun percaya saja tapi melihat cara bicara Amel yang terbata membuat mereka sedikit curiga.
"Selamat pagi." sapa Pak Arka masuk ke kelas ini dengan gagahnya.
Semua murid membalas sapaan dari guru barunya itu sambil tersenyum melihat guru barunya begitu tampan.
Tak dengan Amel, ia memanyunkan bibirnya karena kesal bercampur malas saat pria itu mencari muka di depan murid cewek.
"So ganteng." gurutu Amel nyatanya di dengar oleh Sasa yang bar-bar.
"Emang ganteng tahu, Mel. Mata Lo rabun kali ya. Pria sesempurna itu Lo bilang tak ganteng." ucap Sasa sambil menangkup wajahnya sendiri.
"Halaman 10 tolong di buka dan di pelajari." sahut Pak Arka memerintahkan muridnya untuk mengerjakan halaman yang ia berikan.
Semua murid fokus pada tugas yang di berikan guru barunya itu termasuk Amel juga, Arka pun melihat kearah Amel sedang fokus pada tugas yang ia berikan. Arka tersenyum saat kejadian tadi dimana ia meminta Amel untuk membuka mulutnya.
__ADS_1
.
.
.
Pulang sekolah.
"Mel, mau bareng gak?" tawar Ayu mengajak pulang bareng.
Amel mengangguk, ia lebih baik di anterin oleh sahabatnya di bandingkan oleh pria rese itu.
Ketika ingin masuk ke dalam mobil tersebut sudah ada Mamah Ayu di sebelahnya yang tak suka dengan Amel.
"Ngapain ngajak gadis miskin ini, Yu. Kurang kerjaan banget." cetus Mamah Ayu tak pernah suka jika anaknya bergaul dengan kalangan bawah.
Amel terdiam, ia urungkan untuk masuk ke dalam mobil milik orang tuanya Ayu.
"Kasihan kamu bilang, Yu. Mamah ada urusan penting." balas Mamah Ayu dengan ketus tak ada manis-manisnya jika bertemu dengan Amel.
"Tidak apa-apa, Yu. Aku bisa pulang sendiri." jawab Amel tak enak hati melihat perdebatan antara ibu dan anak hanya gara-gara dirinya.
Amel sering pulang bareng dengan Ayu jika ayu di jemput hanya oleh supir saja. Tapi kali ini ada Mamahnya yang ikut menjemputnya.
"Dasar tak tahu diri." mau Mamah Ayu yang marah.
Ayu tak enak hati hanya bisa pasrah untuk masuk kedalam mobilnya. Ia akan meminta maaf esok paginya karena kesalahan Mamahnya.
Amel mau tak mau harus pulang dengan berjalan kaki, ia tak punya ongkos untuk membayar angkutan umum.
Tit... Tit...
Klakson mobil menghentikan langkah Amel yang melamun. Amel terhenti dan menoleh seketika melihat mobil teman laki-laki itu turun.
__ADS_1
"Mau bareng, Mel." ajak Rio teman beda kelas.
"Terimakasih, Rio. Aku pulang sendiri." tolak Amel.
"Jalan kaki lagi, ini jauh loh, Mel. Apa kamu gak pegal?" tanya Rio begitu penasaran dengan kaki Amel jika berjalan kaki dari sekolah kerumahnya itu lumayan jauh.
Memang benar yang di katakan Rio, tapi mau gimana lagi itu resiko dirinya hanya bisa mengandalkan dari dan berjualan kue jika ada yang pesan saja.
"Gak apa-apa, Rio. Itung-itung olah raga kan," jawab Amel sambil tersenyum untuk menghindari ajakan dari Rio.
Rio pun membuang napasnya, ia begitu penasaran dengan sosok gadis yang tangguh seperti Amel yang selalu menolak jika ia ajak untuk pulang bareng.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Amel akan pulang bareng saya....
__ADS_1