
Setelah mengatakan pesan itu Arka pamit untuk pergi ke kantor, ia akan menyelesaikan pekerjaan yang sempat ia tunda beberapa hari lalu demi ingin tahu tentang gadis yang telah melemparkan botol bekas padanya. Entah ada dorongan dari mana Arka penasaran dengan sosok gadis SMA yang baru ia kenal dengan cara seperti itu.
Sampai di bangunan pencakar langit tempat ia bekerja menggantikan Papahnya untuk ke depannya. Arka berharap kedepannya bisa jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia bisa meluapkan kenangan dan cinta si masa lalu yang membuat ia susah untuk melupakannya.
Di depan pintu ruangannya ada asisten pribadinya yang sudah sampai lebih dulu untuk menyambut dirinya yang telat beberapa menit saja.
"Selamat pagi, Tuan." sapa asisten pribadinya yang ia percaya untuk menghandle semua pekerjaan termasuk pertemuannya dengan perusahaan Bagaskara.
"Pagi, bacakan agenda ku." perintah Arka sudah duduk di kursi kebesarannya.
Ia buka laptopnya lalu menghidupkan layarnya untuk mengecek sesuatu yang di kerjakan oleh asisten dan sekretarisnya kemarin.
"Gimana pertemuan mu dengan perusahaan itu?" tanya Arka ingin tahu perkembangan kerja sama dengan perusahaan miliknya dengan perusahaan Bagaskara rivalnya itu adalah pria yang telah mengambil kekasihnya itu.
"Berjalan dengan lancar, Tuan. Kemarin sempat menanyakan tentang Tuan tak hadir." jawab asisten itu lalu memberitahukan tentang apa yang di katakan direktur perusahaan itu.
Arka menghentikan aktivitasnya sebenar, ia mengernyitkan dahi ketika memandang asistennya yang terasa aneh jika pemilik perusahaan itu menanyakan dirinya.
Arka tersenyum simpul tak bertanya lagi tentangnya. ia lanjutkan aktivitasnya tanpa bertanya lagi.
.
.
.
.
Amel yang berdiam diri di ruangan dapur, ia menatap satu persatu alat masak yang canggih dan modern. Ia pun mengambil bahan untuk ia membuat kue sebelum ia akan memasak makan siang nanti.
Ketika ingin mengambil wadah untuk membuat adonan, tiba-tiba bunyi bel terdengar olehnya. Arka mengatakan akan datang kurir untuk mengantarkan bahan makanan dan beberapa kebutuhan Amel saat di sini.
Entah harus bagaimana untuk berterima kasih pada pria yang ia temui tidak sengaja itu. Rasa bersyukur karena di pertemuan dengan pria yang benar-benar tulus memotongnya tanpa sarat apapun. Amel pun bergegas membuka pintu apartemen ini yang sudah di ajari sebelum kepergian pemiliknya.
Amel membuka lalu mempersilahkan orang itu yang sedang membawa barang yang lumayan banyak.
"Sejak kapan Om itu pesan ya." tanya Amel dalam hatinya. berbelanja segitu banyaknya Amel begitu syok karena hasil penjualan kue yang ia bikin hanya cukup untuk dirinya sehari-hari dan biaya sekolah.
"Saya sudah menaruhnya di ruang tamu ya, nona. Jika ada sesuatu yang kurang tolong beritahu kami." ucap seseorang yang di tugaskan Arka untuk mengantarkan pesanan yang ia pesan pada orang kepercayaannya. Arka tak mungkin sembarangan orang untuk masuk ke dalam apartemennya tanpa dirinya di sana.
__ADS_1
Amel mengangguk tanda paham, ia berterima kasih pada dua orang yang di tugaskan untuk mengantarkan apa yang di inginkan oleh Amel sekarang.
Setelah kepergian dua orang tersebut, Amel bergegas ke ruang tamu di mana barang belanjaan dan semua kebutuhan dapur dengan dirinya di penuhi oleh pria itu tanpa Amel harus menunda kue pada warung-warung di sekitar rumahnya untuk mendapatkan rupiah.
Amel menitikkan air matanya karena bahagia di perlakukan seperti ini tak seperti di rumahnya sendiri peninggalan orang tuanya satu-satunya. Ia ingin keluar dari rumah tak sehangat dulu lagi saat kedua orang tuanya masih ada.
"Terimakasih Tuhan engkau telah mengirimkan seseorang untuk ku yang selalu tak henti berdoa pada mu." gumam Amel sambil menghapus cairan dari pipinya karena bahagia. Dan semoga saja di menemukan kebahagiaannya keluar dari rumahnya.
Amel akan membereskan barang dan bahan makanan untuk ia simpan di tempatnya. Ia ingin memberikan kesan pertama untuk pria agar tak mengecewakannya.
.
.
Di rumah Amel.
Di pagi hari begitu cerah Tante Ratna sudah rapih berdandan cantik, ia bersemangat bangun pagi karena tak sabar ingin segera mencairkan cek bernilai fantastis menurutnya. Pria itu tak tanggung-tanggung menulis dengan angka belakangnya yang lumayan panjang menurutnya.
Tak pernah melihat uang dengan jumlah seperti di cek yang ia pegang, Tante Ratna hanya tersenyum tak karuan.
"Mamah mau kemana?" tanya Om Agus yang aneh dengan sikap istrinya beda dari yang lain.
"Itu bukan urusan kamu, Mas." jawab Tante Ratna yang ketus.
"Apa kamu tahu keberadaan Amel, Mah. Kamu sembunyikan di mana Amel?" tuduh Om Agus yang sebenarnya dalang dari hilangnya ponakannya gara-gara di ajak oleh sang istri untuk makan di luar.
"Kamu masih menyalahkan ku, iya? Ingat ya, Mas. Aku bisa saja menjebloskan kamu ke penjara karena aku masih menyimpan bukti di mana kamu telah---," belum Tante Ratna melanjutkan perkataannya suaminya malah menghentikan bayangan kejadian dimana ia juga tak tahu dengan kejadian itu. Ia hanya memperbaiki kebocoran selang bensin mobil tersebut yang akan di gunakan oleh kakak dan Kakak iparnya.
Tante Ratna tersenyum senang, ia puas sekali mengancam suaminya yang tau berkutik sedikit pun. Karena kesalahan memang bukan padanya melainkan karena ulahnya yang ingin mencelakai dia orang yang ia benci itu.
Setelah mengatakan itu Tante Ratna berlalu meninggalkan suaminya yang terdiam mematung dengan tatapan kosong karena masih terbayang di mana kecelakaan itu terjadi karena menewaskan dua orang terdekat yang ia punya saat itu.
Tante Ratna pergi ke bank untuk mencairkan kertas berisi uang begitu banyak hasil ponakannya yang ia tukar dengan jumlah rupiah begitu banyak.
Sampai di pusat, Tante Ratna turun dengan gaya glamor dan angkuhnya. Ia ingin segera menikmati uang tersebut di pusat perbelanjaan yang sudah ia mimpikan.
"Selamat pagi, Mbak. Boleh saya bantu." ucap resepsionis menyambut tamu yang datang.
"Saya mau mencairkan cek ini." ucap Tante Ratna datang ke sini untuk mencairkan.
__ADS_1
"Boleh saya lihat?" pinta resepsionis itu mengambil kertas berisi cek tersebut.
Tante Ratna memberikan kertas tersebut, ia tersenyum dengan senangnya karena tak sabar ingin melihat kertas itu berubah menjadi uang.
"Tunggu sebentar ya, Mbak. Kami akan mengecek dulu."
Tante Ratna mengangguk, ia tak masalah menunggu beberapa jam asal kertas itu berubah menjadi pundi-pundi uang untuk ia bersenang-senang hari ini menghabiskan uang itu dengan suka rela.
Beberapa menit kemudian resepsionis itu kembali dengan raut wajah tak seperti pertama menyambut wanita itu. Ia kembali tanpa membawa uang tunai yang tertera di tulisan kertas tersebut.
"Mana uangnya?" pinta Tante Ratna tak sabar.
"Maaf, Mbak. Cek ini palsu," ucap resepsionis itu memberitahukan jika kertas berisi uang itu palsu. Kertas itu memang asli tapi Arka menghubungi pusat Bank jika ada seorang wanita untuk mencairkan cek tersebut bilang jika cek itu palsu agar wanita sadar dengan kelakuan nya salah.
"Apa." teriak Tante Ratna kaget bercampur tak percaya dengan apa yang di katakan wanita itu. Ia telah di tipu oleh pria asing itu telah membawa gadis pembawa sial itu.
"Benar, Mbak. Saya tak bohong. Kamu tak bisa mencairkan cek tersebut." ucap sopan resepsionis itu yang tersenyum karena berbohong.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sialan... Gue di tipu sama pria itu, awas aja jika aku ketemu..