
Di rumah Amel lain pula di di kediaman rumah milik papah Rayyan begitu hangat sedang sarapan bareng berkeluarga. Kumpulnya istri dan anaknya membuat suasana semakin bahagia yang di rasakan oleh pasangan baya tersebut.
Sarapan kali ini berbeda dari biasanya. Papah melirik kearah putra sulungnya yang tak lain adalah Arka yang ia perintahkan untuk meneruskan perusahaan turun menurun itu. Arka anak pertama yang ia andalkan sekarang karena anak keduanya sudah terjun langsung di bisnis kuliner miliknya yang ia sukai sejak dulu.
Dengan obrolan begitu hangat membuat Papah Rayyan begitu penasaran dengan tak hadirnya putranya kemarin di kantor. Sudah beberapa kali menelpon putra sulungnya itu tapi panggilan itu tak pernah di angkat membuat papah Rayyan begitu menyerah dan tak menghubunginya lagi. Tapi rasa penasaran sampai sekarang masih ada dan sekarang ia akan menanyakan secara langsung.
"Dari mana kemarin, Ka?" tanya Papah Rayyan pada putra sulungnya yang lahir lebih dulu dari kembarannya yang tak lain adalah Arki.
Arka menoleh sekilas dan melanjutkan sarapannya lagi, ia sudah menebaknya jika papah pasti akan menanyakan tak datangnya ke kantor kemarin.
"Ada urusan, Pah." jawab Arka dengan singkat dan Arka tak memberitahukan tentang apa yang ia lakukan di luar rumah.
"Urusan apa?" tanya Mamah Nayla begitu penasaran dengan apa yang di lakukan putranya di luar sana.
"Arka tak bisa memberitahukan pada Mamah, maaf. Itu urusan Arka, Mah." jawab Arka tak bisa jujur dengan apa yang ia lakukan. Jik di pikir ia juga tak tahu bisa melangkah sejauh ini untuk mengetahui informasi tentang gadis saat pertemuannya terkesan tak baik.
Mamah Nayla maupun papah Rayyan saling memandang satu sama lain untuk mencari jawaban dari perkataan dari putranya itu, ia tak mungkin menginterogasi putranya lebih banyak lagi karena ia takut jika putra sulungnya akan nekat apa yang ia lakukan. Sudah cukup ia paksa putranya menuruti keinginannya untuk kuliah di luar negeri hanya demi keinginannya saja. Kali ini ia biarkan apa yang di lakukan putra sulungnya itu yang terpenting tak merugikan nama baik keluarga dan perusahaannya.
"Papah dan mamah tenang saja di kantor baik-baik saja, asisten Arka bisa di andalkan dan Arka pun tak diam saja bekerja walaupun tak datang secara langsung." jawab Arka menyudahi sarapannya karena hari semakin siang untuk pergi berkerja di kantor milik kakeknya itu.
Mamah Nayla memandang kembaran dari Arka untuk meminta jawaban dari Arki yang mungkin tahu apa yang dilakukan oleh Arka akhir akhir ini.
"Arki gak tahu, Mah. Arki sedang sibuk mengurus beberapa cabang restoran kita sedang bermasalah." ucap Arki yang tahu dengan tatapan wanita hebatnya itu sedang meminta jawaban atas kakaknya.
"Sudah lah, Mah. Arka sekarang sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri." sahut Papah Rayyan menyakinkan dan menenangkan sang istri pada putra sulungnya itu.
__ADS_1
"Cabang yang mana, Ki. Yang bermasalah?" tanya Papah Rayyan yang selalu senang jika membahas soal bisnis yang ia sukai sejak muda.
Arki pun memberitahukan cabang yang bermasalah pada Papahnya dan papah Rayyan pun memberikan saran dan masukan apa yang sedang putranya kerjakan saat ini.
"Terimakasih, Pah." ucap Arki begitu senang karena ia menjalankan bisnis tersebut dengan dorongan dan saran tak hentinya dari Papahnya yang sudah berpengalaman di bidang ini.
Semua orang beraktivitas Masing-masing termasuk Arka sudah jalan lebih dulu dari mereka yang masih di meja makan.
Arka mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan sedang untuk menikmati jalanan yang mulai ramai oleh orang-orang yang akan beraktivitas sepertinya.
Tak sengaja Arka melihat sosok seorang yang ia kenal dengan memakai seragam sekolah sedang berjalan di pinggir jalan.
Arka menjalankan mobilnya begitu pelan sambil menekan tombol klakson mobilnya untuk mengagetkan pengguna jalan dekat wajah yang di tekuk.
"Mau bareng gak," tawar Arka pada gadis itu yang tak lain adalah Amel.
Arka pun tak berkata lagi, ia melanjutkan perjalanan tanpa membalas perkataan dari gadis itu yang menolak tawarannya.
Beberapa menit, motor metik berhenti di hadapannya Amel dengan wajah ceria yaitu Sasa tamannya yang bar-bar.
"Ayo naik, Mel. Masih jauh loh, nanti telat lagi." ajak Sasa dan kali ini Amel mengangguk dan tersenyum. Ia mau jika temannya yang mengajak dirinya untuk bareng ke sekolah.
"Tadi siapa, Mel." tanya Sasa setelah motor itu berjalan.
"Siapa?" tanya Amel tak tahu dengan pertanyaan dari temannya itu.
__ADS_1
" Mobil yang tadi, siapa?" tanya Sasa lagi.
"Oh, itu, pak Arka menawarkan untuk berangkat bareng." jawab Amel dengan jujur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
What, Lo nolak di ajak sama cogan ganteng itu, otak mu dimana Mel...