Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 47


__ADS_3

Ejek Arki setelah itu ia berlari dengan kencang takut jika sang Kaka akan mengejarnya. Dan benar saja Arka menoleh seketika saat sang adik berbisik telinganya.


"Mau kemana kamu, Ki." teriak Arka langsung mengejar sang adik karena ejekannya membuat marah.


Keduanya saling kejar-kejaran tanpa menghiraukan panggilan dari ibunya sudah pusing jika melihat kelakuan kedua putranya tak kenal tempat dan sekitarnya.


"Maafkan putra Mamah ya, Mel. Mereka suka gitu kalau di rumah." ucap Mamah Nayla merasa tak enak hati melihat kelakuan kedua putranya seperti anak kecil.


Amel tersenyum simpul, ia memaklumi karena tak punya sodara satu pun. Ia adalah seorang anak tunggal harus siap jika hidupnya sendiri tanpa ada seorang pun yang menemaninya bermain.


"Kapan kamu mau berkunjung ke rumah Mamah?" tanya Mamah Nayla dengan serius, ia ingin segera mengenalkan calon mantunya pada sang suami sudah pulang.


"Entah, Mah. Amel akan ikuti apa yang di katakan oleh Om Arka." jawab Amel masih dengan sebutan ibu, mungkin panggilan itu sudah biasa saat ia memanggil pria itu.


Berselang lama Arka dan Arki datang dengan wajah penuh kegembiraan. Keduanya entah melakukan apa bisa baikan seperti tak ada masalah tadi saling mengejek.


"Ayo, Mah. Kita pulang." ajak Arki, ia tak mau sang Papah marah-marah tak jelas karena tak pulang.


Mamah Nayla bangun dari duduknya, sebelum pergi dari apartemen milik sang putra mamah Nayla menghampiri putranya sedang duduk.


"Jangan sembunyikan Amel terlalu lama, Ka. Jika kalian benar-benar ingin hubungan ini lebih serius datang ke rumah, kita bahas lagi sama papah mu, iya." pinta Mamah Nayla, ia berharap jika hubungan ini tak main-main.


"Iya, Mah. Besok Arka pulang." jawab Arka dengan patuh, sebenarnya ia hanya berpura-pura tapi kenapa hatinya selalu mantap ingin segera menimang gadis baru lulus sekolah.


"Mamah tunggu." setelah mengatakan hal itu Mamah Nayla dan putra kedua pergi dari apartemen ini. Ia tak ingin suaminya marah-marah tak jelas karena tak pulang juga.


.


.


.


"Gimana?" tanya Arka ingin menanyakan hal serius tentang hubungan pura-pura ini.


"Gimana apanya, Om?" balik tanya Amel, ia tak ada rencana apa pun hanya bisa mengikuti rencana yang sudah Arka jalankan.


Arka membuang napasnya dengan kasar, jika berbicara dengan gadis di depannya harus dengan bukti tak bisa dengan kode apapun termasuk saat berkata tadi.


"Apa kamu siap menikah dengan ku?" tanya Arka langsung tanpa kode-kode yang tadi ia ucapkan.


"Terserah, Om. Saya hanya mengikuti saja yang terpenting saya punya tempat tinggal dengan nyaman tanpa ada yang menyakiti saya, Om." pasrah Amel, ada yang mau menolongnya pun sudah bersyukur. Jika seseorang ingin meminta apapun termasuk menjadi seorang istri pun ia pasrah hanya itu yang bisa Amel berikan tanda terima kasih.

__ADS_1


Memang, sebuah pernikahan tak boleh di permainkan tapi hati dan pikiran Amel hanya ingin ketenangan dan nyaman yang kini ia butuhkan. Toh, hanya sebuah pernikahan pura-pura saja, pikirnya.


"Besok kita pulang ke rumah orang tua ku. Dan satu hal yang kamu lakukan adalah tak boleh memanggilku dengan sebutan yang tadi kamu ucapkan." pinta Arka, ia tak ingin sang Papah curiga dengan rencana yang ia lakukan.


"Terus saya harus panggil apa dong." tanya Amel heran, ia harus memanggil sebutan apa pada pria yang ada di hadapannya sekarang.


"Terserah." bangun Arka, ia masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk menenangkan pikiran karena rencananya akan berjalan ke serius, ia harus memikirkan matang-matang apa yang sudah ia lakukan.


Amel mengerucutkan bibirnya, ia pun bangun juga lalu pergi ke kamarnya di sebelah kamar pria itu.


.


.


.


"Gue harus panggil apa ya!" pikir Amel, ia berpikir dengan serius untuk memanggil pria itu dengan sebutan apa?


"Ahha.. Gimana kalau kakak saja, dia udah tua dari aku. Gak mungkin kan aku panggil Abang, Mas itu terlalu gimana ya. Mending itu saja." antusias Amel sudah menemukan panggilan untuk pria itu. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Di dalam kamar mandi, Amel memandang dirinya sendiri di pantulan cermin yang ada di dalam kamar mandi. Ia melihat raut wajah sendiri dan menilai dengan penilaian sendiri.


"Kenapa harus aku ya? Dia anak orang kaya, terus kenapa mau sama aku hanya gadis biasa." pikir Amel, ia merasa aneh tapi demi balas budinya karena telah menolongnya dari kejahatan Tantenya yang serakah itu.


"Astaghfirullah, kenapa aku membayangkan Om itu sih, " pekik Amel menepuk pipinya sendiri karena tak ingin ada bayangan pria itu lagi.


Segera Amel masuk ke dalam bathtub untuk meredamkan tubuhnya yang terasa lelah. Seharian berkutat dengan alat masak membuat ia butuhkan tubuh yang rileks dan nyaman di dalam air rendaman dengan aroma terapi begitu tenang.


.


.


.


.


Pagi harinya yang di tunggu tunggu oleh pasangan halal itu yang tak lain adalah Mamah Nayla dan suaminya itu sedang menunggu kedatangan putranya untuk membawa calon mantunya itu.


"Mamah yang benar jika Arka simpan gadis itu di apartemennya?" tanya Papah Rayyan penuh selidik, ia tak pernah tahu keseharian sang putra di luaran sana termasuk dengan masa lalunya. Papah Rayyan selalu sibuk dengan pekerjaannya dan bisnis kuliner sudah di serahkan pada putra keduanya yaitu Arki.


"Beneran, Pah. Tanya aja sama Arki." jawab Mamah Nayla melirik ke arah putra keduanya.

__ADS_1


"Ki," panggil papah Rayyan ingin tahu kebenaran tentang kabar tersebut.


"Lihat aja nanti, papah juga akan terkejut sama halnya dengan Arki." sahut Arki fokus dengan sarapannya kali ini, ia tak akan menunggu kedatangan kakak dan kakak iparnya itu datang ke rumah ini karena ia harus menemui klien untuk berkerja sama dengan restorannya.


Tak berselang lama orang yang di tunggu-tunggu itu datang juga, Arka benar-benar membawa Amel untuk di kenalkan pada sang Papah sebagai calon istrinya.


"Asalamualaikum." sapa keduanya, tapi tidak dengan Amel merasa gugup walaupun ia hanya sebagai pura-pura saja. Tapi kenapa hati dah perasaan begitu gemetaran dan gugup saat menginjakkan kaki ke rumah mewah ini.


"Waalaikumsalam." jawab semua berada di ruang makan sambil bangun menghampiri sejak tadi mereka tunggu.


"Pagi, Pah." sapa Arka setelah itu mencium pria baya selalu menjadi panutan bagi dirinya.


"Pagi, Ka." jawab Papah Rayyan tapi tatapannya fokus pada gadis yang di bawa oleh sang putra.


Arka tahu tatapan dari sang Papah, ia segera memperkenalkan Amel pada Papahnya sebagai calon mantunya.


"Ini orang yang mau cintai, Ka?" tanya Papah Rayyan untuk meyakinkan putranya itu.


Arka mengangguk dengan mantapnya, ia mengambil keputusan begitu cepat saat di tanya oleh Papahnya soal masa depan.


"Kenalkan, saya Amel, Om." ucap Amel memperkenalkan diri begitu sopan, ia ingin menarik simpati Papahnya pak Arka agar tak ada curiga sedikitpun.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Kaya Papah dulu dong, menikah dengan Mamah mu yang masih muda... Seperti Amel


__ADS_2