Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 44


__ADS_3

Pinta Mamah Nayla ingin di panggil sebutan Mamah, ia ingin sekali mempunyai seorang anak perempuan tapi Tuhan tak lagi mempercayai untuk hamil lagi.


Arka hanya tersenyum saat melihat kebersamaan sang Mamah dengan Amel tak perlu untuk memperkenalkan atau pun mencari cara agar sang bisa menerima gadis yang akan berpura-pura menjadi calon istrinya.


Ketiganya makan siang bersama, masakan Mamah Nayla tak kalah enak juga dengan masakan yang Amel buat tadi. Arka merasa beruntung karena di kelilingi seorang wanita yang pandai memasak.


Selesai makan bersama, Amel bergegas mengumpulkan bekas piring kotor untuk ia cuci. Ini adalah kebiasaan di rumahnya setiap hari.


"Biar Amel saja, Mah. Mamah duduk saja." cegah Amel ketika mamah Nayla ingin membereskan bekas piring kotor.


Mamah Nayla tersenyum, di usianya masih muda gadis ini sudah tahu cara melakukan apa yang harus di lakukan. Dan tak ada rasa gengsi atau pun takut kotor saat memegang piring kotor.


"Terimakasih ya, Nak. Mamah mau ke sana dulu." ucap Mamah Nayla bergegas menghampiri putranya berada di sofa sambil memangku laptop.


"Kamu gak ke kantor lagi, Ka?" tanya Mamah Nayla melirik jam dinding berada tak jauh darinya.


Arka menoleh lalu melihat jam di pergelangan di tangan, ia memang akan kembali ke kantor. Tapi, setelah pulang ia merasa malas untuk kembali lagi.


"Ya benar, Mah. Arka mau cek email dulu." jawab Arka ingin melihat email yang tadi di kirim oleh asistennya.


Setelah beberapa menit Arka bangun lalu pamit pada Mamah, ia meminta sang Mamah untuk menemani Amel di apartemen sendirian.


"Aku pergi dulu ya, kamu di sini bersama Mamah ku." pamit Arka pada Amel sedang berdiri selesai ia mencuci piring kotor.


Amel mengangguk, entah kenapa ia merasa aneh dengan sikap Arka beberapa hari ini. Ia seperti di perlakukan berbeda tak biasa Arka selalu marah jika ia ada yang salah.


Mamah Nayla tersenyum melihat tingkah putranya seperti suami yang meminta izin pada sang istri saat ingin pergi mencari nafkah. Dan ia beruntung semoga hubungan putranya dengan gadis ini berjodoh sampai Tuhan dan yang menyaksikan mereka mengatakan sah atas hubungan mereka ini.


Ia tak perduli dengan tanggapan orang jika calon mantu hanya orang biasa yang terpenting gadis itu benar-benar tulus mencintai putranya dan menerima kekurangannya. Ia tak memikirkan dari mana gadis berada dan dari keluarga mana. Yang terpenting putranya dan gadis itu saling mencintai satu sama lain.


Mamah Nayla pun ingat dengan dirinya di saat sang suami melamar tak ia duga sama sekali. Sejak dulu ia mati-matian menolak pria yang akan melamarnya sampai ia berniat untuk kabur demi cintanya pada cinta pertamanya.


Lucu.

__ADS_1


Membayangkan saja merasa geli sendiri saat itu ketika pria yang akan melamarnya adalah cinta pertamanya si bos tempat kerjanya di kota.


"Mamah kenapa senyum senyum?" tanya Arka mengernyitkan dahinya saat ia ingin pergi melihat Mamah aneh seperti ini.


Mamah Nayla kaget, ia tentu sedang bernostalgia di mana ia sedang memutar masa lalunya dengan sang suami.


"Gak apa-apa, Mamah cuma kangen saja sama papah mu." elak mamah Nayla, ia enggan untuk berbicara soal masa lalunya di mana ia ingin menolak perjodohan dengan sang suami.


"Cih, baru saja setengah hari, Mah. Lebay banget." ucap Arka mencibir ke arah sang Mamah sedang mengerucut tak jelas.


"Belum tahu aja rasanya, Ka. Nanti juga kamu akan merasakannya." balas Mamah Nayla meninggal putranya untuk pergi ke kantor.


Arka pun pergi ke kantor, ia akan meeting bersama klien di kantornya membahas tentang kerja sama dan laporan tentang proyek yang sedang ia jalankan.


.


.


.


.


"Kamu sedang bikin apa?" tanya Mamah Nayla menghampiri gadis sedang sibuk.


"Eh, Tan. Maksud saya mamah. Amel sedang bikin kue." jawab Amel begitu gugup. Ia takut jika wanita baya yang masih cantik ini tak suka jika ia mengacak-acak dapur milik putranya.


"Emang kamu bisa?" tanya Mamah Nayla tak percaya dengan apa yang akan di bikin oleh Amel.


"Amel masih belajar, Mah. Di rumah suka bikin ini, dan ini keseharian Amel bikin kue sebelum berangkat sekolah." jelas Amel keseharian menjual dan menunda pada warung-warung terdekat.


"Wah, hebat ya kamu. Tante salut loh dengan apa yang kamu lakukan di usia masih muda kamu sudah bisa masak dan bikin kue. Di umur seperti mu jarang sekali ada anak gadis akan melakukan apa yang kamu lakukan malah gadis sekarang akan mementingkan hepi dan hepi, menghabiskan uang orang tuanya, hura-hura tak jelas. Dan keluyuran tak jelas." puji mamah salut dengan apa yang di lakukan Amel.


"Mungkin itu juga akan saya alami, Mah. Jika orang tua saya masih ada, saya mungkin lebih manja dari orang-orang yang mereka pikir. Cara jalan pikiran orang-orang tuh beda beda, contohnya saya. Saya mandiri demi mencukupi kebutuhan saya sendiri karena tak ada yang akan saya pinta tolong walaupun ada om saya. Di rawat olehnya saya sudah bersyukur dan saya tak ingin merepotkan mereka, makanya saya beranikan untuk mandiri, Tan." jelas Amel, ia tak menyalahkan gadis yang masih tergantung pada orang tuanya. Amel bisa merasakannya dan itu wajar jika anak di usianya masih ingin bermanja-manja dan menghabiskan uang orang tuanya di bandingkan dengannya.

__ADS_1


"Kamu benar, Mel. Tapi, Tante salut banget sama kamu. Bisa mandiri si saat kamu butuh kasih sayang."


"Mau gimana lagi, Tan. Itu sudah takdirnya Amel harus begini. Dan Amel harus menerima apa yang sudah Tuhan garis kan apa sudah Tuhan rencanakan je depannya.


Mamah Nayla mengangguk setuju, ia pun menarik tubuh gadis itu lalu mengusap punggungnya untuk menenangkan dan meyakinkan jika di dunia ini tak sendirian.


Rasa hangat untuk kedua kalinya Amel rasakan saat di peluk oleh Mamah Nayla begitu hangat dan nyaman. Ia memang butuh pelukan hangat seperti ini setelah kepergian kedua orang tuanya terutama sang Mamah.


"Terimakasih ya sayang kamu mau menerima putra Tante." ucap Mamah Nayla dengan pelan.


"Seharusnya saya yang berterima kasih, Mah. Karena putra mamah mau menerima gadis seperti ku hanya gadis biasa." entah dari dorongan dari mana Amel mengatakan hal itu. Ia seperti calon istri Arka sesungguhnya. Amel merasa nyaman dengan keluarga dari pria pertama bertemu terkesan tak baik malah mengajaknya untuk tinggal di apartemen setelah kejadian di mana tantenya menjual pada pria tua itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sama-sama, Sayang. Mamah tak sabar ingin segera menjadikan mu mantu Mamah....

__ADS_1


__ADS_2