
Malam.
Amel duduk di pinggiran ranjang sambil melamun memikirkan tentang perkataan dari ibu mertuanya menebak jika sakit perutnya karena sedang mengandung. Amel tak menjawab apa yang terlontar dari mulut ibu mertuanya, ia tak mungkin berkata jujur jika hubungannya dengan putranya tak semanis apa yang mereka lihat. Di dalam kamar ini kedua pasangan halal ini akan merasa asing atau lebih tepatnya mengurus dirinya masing-masing termasuk tidur tak satu ranjang.
"Gimana aku mau hamil sedang kan aku dan kak Arka tak tidur satu ranjang." gumam Amel dengan lirih, ia tak pernah satu ranjang atau pun satu selimut berdua dengan pria selama 3 bulan ini menjadi suaminya.
Cek lek.
Orang yang di tunggu-tunggu sedari tadi datang juga, Amel bangun lalu menghampiri suaminya untuk mengambil tas kerjanya.
"Tumben pulang cepat, Kak. Kerjaannya udah selesai ya." tanya Amel.
"Belum, aku khawatir dengan mu." jawab Arka sedang mengendorkan dasi masih melekat di lehernya.
"Aku sudah sehat kok, tapi tidak dengan hubungan ini." ucap Amel.
Arka langsung menoleh saat perkataan istrinya itu membahas tentang pernikahan ini.
"Maksud mu?" tanya Arka.
"Mau sampai kapan gini terus, Kak. Apa kakak tak bosan membohongi mereka terutama Mamah. Dia mengharap cucu dari kita, sedang kan kita menikah hanya saling menguntungkan kan." ucap Amel, ia sebenarnya lelah dan takut jika esok atau entah kapan akan ketahuan oleh orang di rumah ini. Entah nasibnya gimana jika itu ketahuan.
"Tolong beri aku waktu untuk memikirkan ini, aku belum bisa memutuskan hubungan ini." setelah mengatakan hal itu Arka berlalu meninggalkan Amel sendirian di pinggir ranjang.
Amel terdiam, ia bingung dengan perasaannya saat ini. Ingin rasanya hubungan ini ada penjelasan tapi Amel tak mungkin meminta lebih dulu dari suaminya. Ia ingin seperti istri pada umumnya di akui sebagai istri sungguhan.
"Apa kak Arka tak ada rasa sedikit pun untuk ku. Apa aku hanya istri pajangan saja." lirih Amel meneteskan air matanya. Ia sudah merasakan nyaman di perlakuan layaknya seorang istri sungguhan. Tapi itu hanya di depan keluarganya saja.
"Kamu kenapa? Apa yang menyakiti mu?" tanya Arka berada di samping Amel, sejak kapan Arka berada di sampingnya.
Segera Amel menghapus air matanya, ia tak mungkin mengatakan apa yang ia inginkan sekarang.
__ADS_1
"Tidak ada, semua orang yang ada di rumah ini memperlakukan ku dengan baik tapi tidak dengan mu, Kak." jawab Amel begitu lantang.
"Maksud mu?" Arka mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Jika kita masih jalan di tempat tak ada yang perlu kita lakukan lagi, aku mau mundur, Kak. Aku tak ingin membohongi terus-terusan keluarga mu. Mereka sudah baik terhadap ku, terutama Mamah mengganggap ku sebagai anaknya sendiri. Entah reaksi mereka apa jika tahu apa yang sudah kita lakukan ini, Kak." kata Amel meneteskan air matanya, ia mengatakan hal itu karena kepikiran akan kebohongan apa lagi untuk melabui pasangan baya itu.
"Terus mau apa?" tantang Arka, ia ingin tahu apa yang akan Amel ucapkan.
"Bercerai, walaupun berat bagi ku meninggalkan keluarga mu sudah ku anggap seperti keluarga ku sendiri." jawab Amel, keputusan tak pernah terlintas dari pikirannya membuat Arka begitu kaget.
"Apa? Aku tak akan membiarkan mu pergi begitu saja. Kamu tuh milik ku, paham." tolak Arka, keputusan Amel membuat ia syok.
"Milik mu tapi tak pernah di anggap seperti istri mu." sindir Amel melirik kearah suaminya sekilas.
"Kamu maunya apa? Aku sudah memberikan apa yang kamu inginkan termasuk kasih sayang orang tua ku." ucap Arka meninggikan suaranya.
"Yang aku ingin hanya cinta, Kak. Apa kamu tak sedikit ada rasa untuk ku?" tanya Amel dengan tatapan lirih.
**Deg**.
"Kenapa diam? Apa aku hanya sebagai istri pigura saja. Jika kamu butuh untuk memerankan sebagai istri sungguhan di depan orang tua mu gitu, Kak. Aku cape, aku juga tak lelah jika keluarga mu atau Mamah menanyakan soal cucu terus. Sedangkan kita berhubungan badan pun tak pernah ya kan."
"Ok, aku akan turut kan apa yang kamu inginkan." emosi Arka, ia dorong tubuh mungil sang istri ke atas ranjangnya lalu membaringkan dengan kasar.
"Apa-apaan, Kak. Apa yang akan kamu lakukan." tanya Amel begitu takut dengan tatapan mengerikan Arka setelah ia mengatakan hal itu.
"Aku akan wujudkan impian kedua orang tua ku. Mereka menginginkan seorang cucu kan. Kita akan membuatnya." bisik Arka berada di atas tubuh Amel.
Amel begitu kaget, bukan gini caranya mencari jalan apa yang ia inginkan. Tapi, Amel hanya ingin di cintai dan perlakuan seperti istri sungguhan. Amel memberontak, ia tak ingin menyerahkan mahkota yang ia jaga sampai sekarang harus di renggut dengan paksa walaupun halal bagi Arka karena itu sudah menjadi haknya.
"Lepas, kak. Aku tak ingin seperti ini."
__ADS_1
Arka sudah terpancing birahi saat Amel menantang seperti itu, ia yang mati-matian menahan hasratnya saat satu kamar dengan sang istri, bukan ia tak bisa melakukan kewajiban seorang suami untuk sang istri tapi ia merasa tak pantas karena ia meminta Amel hanya menjadi istri bohongannya saja. Bersandiwara di depan kedua orang tuanya jika hubungan rumah tangganya berjalan dengan harmonis.
"Kamu harus menjadi milik ku." ucap Arka begitu tegas, ia melucuti pakaian Amel satu-satu membuat Arka menelan ludahnya sendiri karena melihat pemandangan begitu indah di depan matanya.
Tenaganya tak sebanding dengan suaminya, ia pasrah dengan keadaan seperti ini. Tubuh polosnya terpampang jelas saat pakaiannya di buka paksa oleh suaminya. Amel menutupi area sensitifnya saja dengan tangannya karena malu dengan deraian tangisnya tak di hiraukan oleh suaminya untuk di hentikan.
Dan, apa yang dilakukan oleh kedua pasangan suami istri terjadi. Mereka melakukan dengan dasar paksa oleh Arka karena Amel menuntut lebih darinya.
Tangisan Amel pun pecah di dalam kamar yang kedap suara. Arka membiarkan istri kecilnya itu menangis karena tindakannya yang telah ia lakukan.
"Kamu jahat, Kak. Aku benci sama kamu." lirih Amel menyelimuti seluruh tubuhnya dengan keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Ia sudah memberikan keperawanannya pada suami sahnya dengan cara paksa.
Rasa sakit luar biasa yang di rasakan saat ini, Amel enggan untuk bangun hanya sekedar membersihkan tubuhnya yang remuk dengan perih di bagian bawah perutnya.
Rasa kasihan melihat sang istri merasakan sakit saat ia gagahi dengan cara paksa, Arka pun berjalan mendekat lalu menawarkan sesuatu agar istrinya tak terlalu sedih dan kecewa.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Mau ke kamar mandi??