
Selesai membuat kue, keduanya bergegas merapihkan tempat ruangan dapur di mana mereka sudah mengacak-acak dapur milik Arka. Tapi, keduanya berbangga diri dengan hasil buatan kue mereka dengan hasil yang sempurna.
"Enak ya, bolu lembut. Pasti Arka betah nih di rumah terus sambil di buatin seperti ini. Makanan lezat dan kue enak-enak lagi." puji Mamah Nayla mencicipi kue tersebut sambil ia menilai gimana rasanya dengan bentuk lumayan cantik.
"Makasih, Mah. Habisin saja jika Mamah suka." balas Amel tersenyum karena bangga dengan buatannya.
"Gak ah, takut gula darah Mamah naik. Maaf ya, Mamah tak boleh memakan terlalu banyak." tolak Mamah Nayla dengan cara halus, ia juga ingin menghabiskan kue tersebut karena jika sang suami melihatnya pasti ia di marahi terlalu makan makanan yang bermanis.
Amel mengangguk tanda paham lalu tersenyum, ia tak akan memaksa lagi jika wanita baya tersebut telah mengatakan hal itu.
Di kantor.
Arka ingin menghubungi Amel tak ada jawaban berkali-kali ia menghubungi, ia takut meninggalkan dua wanita baru mengenalnya lebih tepatnya sang Mamah datang secara tiba-tiba tanpa Arka ketahui.
Ia pun tak mungkin menutupi apa yang ia sembunyikan dari orang tuanya, lama atau sekarang pasti orang tuanya akan mengetahui jika ia telah menyembunyikan gadis di apartemen miliknya.
"Kemana gadis itu ya," gumam Arka kesal sendiri, ia pun meletakkan ponselnya di atas meja kaca lalu melihat layar laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tak berselang lama asisten itu datang membawa berkah untuk di tandatangani oleh atasannya. Ia masuk setelah di izinkan oleh sang bos nya.
"Ada lagi?" tanya Arka ingin segera selesai pekerjaan hari ini lalu ia ingin segera pulang ingin mengetahui apa yang di lakukan dua wanita tersebut di dalam apartemennya.
Rasa sabar tak bisa Arka tahan, ia menghubungi kembaran untuk datang ke kantor.
"Ada apa, Kak." jawab Arki setelah ia menjawab panggilan dari sang kakak.
"Cepat ke sini." titah Arka tanpa basa-basi ia memerintahkan sang adik untuk datang ke kantor.
Setelah sambungan teleponnya terputus sepihak, Arka melanjutkan pekerjaan sambil menunggu sang adik datang.
.
.
.
Tiga puluh menit yang di tunggu-tunggu datang juga, Arka bangun dan menyerahkan dokumen pada sang adik yang tak paham.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Arki heran, ia sedang memegang restoran sang Papah, bisnis kuliner sejak masih muda dulu sampai bertemu dengan jodohnya yang tak lain adalah Mamahnya, Nayla.
"Emang kamu gak lihat," tanya balik Arka ingin segera pulang dan melihat keadaan apartemennya.
"Terus Kaka mau kemana? Ini kan pekerjaan kakak, ngapain Arki yang urus semua." tanya sekaligus penasaran pada sang Arka yang sudah bersiap-siap akan pulang.
"Pulang lah, ada urusan. Di apartemen Kaka ada Mamah." jawab Arka tak ingin sang adik lebih banyak lagi bertanya tentang apa yang di sembunyikan oleh selama dua minggu.
"Mamah, kok mamah ada di apartemen milik Kaka?" tanya Arki heran, tak pernah sang Mamah akan lama di apartemen milik sang Kaka atau pun apartemennya jika sendirian di sana.
Arka terdiam, ia bingung harus mengatakan alasan apa untuk sang adik. Tak belum siap untuk mengatakan apa yang sudah ia sembunyikan dari keluarganya.
"Ya... Makanya Kaka cepat pulang takut Mamah kesepian." alasan Arka segera pergi, ia buru-buru agar sang adik tak bertanya lagi.
Arki pun menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia yang baru selesai dari permasalahan di resto sedang bermasalah malah di tambah dengan tumpukan berkas membuat ingin memarahi sang Kaka telah mengerjai untuk segera datang.
"Gini amat ya nasib gue, pacar tak punya. Setiap hari di temenin sama berkas sama laptop terus. Kapan mau cari pacarnya coba." gurutu Arki ingin sekali sibuk seperti temannya dengan sang kekasih. Tapi, itu semua hanya bayangan yang belum bisa ia wujudkan sampai ia menemukan gadis impiannya.
.
.
.
Arka menekan bel, ia masuk menggunakan kartu yang ia miliki sendiri untuk menjaga-jaga dalam keadaan darurat.
"Mah, Mel." panggil Arka mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan kedua wanita berbeda usia itu.
Panik.
Tentu, Arka berlari ke arah dapur tak juga mendapatkan sosok mereka dengan gerakan cepat Arka mengecek ke kamar gadis yang di tempati Amel di sebelah kamarnya.
Dan, betapa terkejutnya Arka melihat pemandangan di depannya sedang damai dalam pelukan begitu hangat membuat Arka mengucek kedua matanya karena tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Aku gak bermimpi kan, mereka..." belum sempat Arka mengatakan hal itu Arka di kagetkan dengan suara sang adik malah mengikuti dirinya dari pada meneruskan pekerjaan yang ia berikan padanya.
"Mamah di peluk siapa, kak?" tanya Arki di belakang sang kakak.
__ADS_1
"Diam," titah Arka tak ingin mengganggu kedua wanita itu sedang terlelap tidur saling memeluk.
Arki mengerucutkan bibirnya karena tak mendapatkan jawaban atas apa di tanyakan. Arka dan Arki mendekat lalu memandang kedua wanita itu secara lebih dekat lagi. Dengan pemikiran yang berbeda Arka pun menarik tangan kembaran untuk keluar dari kamar tersebut.
"Apaan sih, Kak. Siapa dia? Oh, jangan jangan dia--," tebak Arki jika gadis itu adalah calon istri sang kakak yang di maksud oleh temannya itu jika sang kakak akan segera menikah akhir bulan ini.
"Kalau iya kenapa? Tantang Arka, ia sudah mengatakan Jak mungkin untuk mengelak jika gadis itu calon istri pura-pura nya.
"wah, hebat ya, Kak. Emang sudah move on sama Luna?" Tanya Arki hanya ingin mengetes sang Kakak ada masih ada rasa untuk masa lalunya.
"Luna, nama itu akhir akhir ini tak ku ingat sama sekali sekarang. Mungkin, nama itu sudah pergi dengan sendirinya karena hatiku tak pantas untuknya." jawab Arka mengatakan hal itu dengan lancar tak ada keraguan sedikit pun. Entah kenapa Arka pun tak tahu dengan dirinya apakah sudah benar-benar melupakan Aluna atau cinta untuk masa lalunya sudah terkikis dengan berjalannya waktu.
"Wah, ini baru Kaka aku, masa lalu biar jadi pelajaran buat Kaka. Mana yang harus di perjuangkan mana yang harus di pertahankan." ucap Arki sambil menepuk Kaka kembaran hanya berselang beberapa menit saja lahir lebih dulu.
Kali ini Arka mengangguk mengiyakan ucapan sang adik mengatakan kata yang benar menurutnya. Ia hanya tak berani untuk menghilangkan dan menghapus masa lalu di hatinya.
"Itu calon Kaka ipar ya, Kak?" tanya Arki antusias ingin memastikan jika gadis itu benar calon Kakaknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Iya, Nak. Amel adalah calon Kaka ipar mu....