Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 53


__ADS_3

Sahut Arka dari arah belakang, ia tujuannya untuk ke dapur lagi lupa membawa minum untuk Amel malah di kejutkan dengan perkataan dari sang Mamah jika baju Amel di sembunyikan oleh Mamahnya.


Kaget.


Tentu Mamah Nayla merasa kaget, ia berbicara dengan Arki tak melihat kanan kiri untuk memastikan jika rencana tak ada yang tahu.


Hanya deretan gigi putih saja menunjukkan bahwa tuduhan si sulung benar, ia tak bisa mengelak lagi apa yang sudah di ketahui oleh putranya itu.


Arka pun tak bisa marah atau pun memarahi sang pemilik surga tersebut, ia pun berlalu untuk mengambil minum untuk Amel.


Sepeninggalnya sang putra Mamah Nayla dan Arki saling pandang, mereka bertanya lewat sorot pada masing-masing melihat tingkah Arka berbeda dari biasanya.


"Kak Arka kenapa, Mah?" tanya Arki penasaran.


Mamah Nayla mengangkat bahunya lalu berlalu meninggalkan putra keduanya di meja makan sendirian. Rasa ngantuk sedari tadi ia rasakan membuat ia tak memberikan jawaban apapun termasuk ia juga penasaran.


.


.


.


.


Usia rumah tangga Amel dan Arka berjalan semestinya, tak ada yang tahu dengan kebohongan yang mereka lakukan termasuk sang adik yang dekat dengan sang kakak sebagai kembarannya.


Arka maupun Amel bisa berpesan sebagai suami istri sungguhan di depan keluarga Arka, begitu pun dengan Arka tak ada niatan atau pun memperjelas hubungan ini akan di bawa kemana.


Tiga bulan berlalu, rumah tangga mereka berjalan biasa saja Amel hanya menjadi seorang istri yang baik saat di depan kedua mertuanya yang baik hati tanpa membedakan sama sekali.


Entah, harus bersyukur atau menyesali apa yang sudah ia lakukan dalam hubungan sakral ini. Ia dan Arka sudah mempermainkan sebuah pernikahan sakral ini.


"Cepetan, Mel. Aku buru-buru." teriak Arka menunggu istrinya itu sedang ada di dalam kamar mandi.


"Bentar, Kak. Aku sembelit. Jika masih lama tinggalkan saja." jawab Amel berada di dalam kamar mandi. Perutnya yang tiba-tiba sakit saat bangun tidur.

__ADS_1


Arka jadi serba salah, ia tak mungkin meninggalkan istri kecilnya itu sedang tak baik-baik saja. Ia bisa saja memanggil sang Mamah untuk menemani istrinya itu tapi rasa khawatirnya melebihi dirinya. Entah apa yang kini Arka rasakan akhir akhir ini begitu khawatir dan takut terjadi sesuatu pada istri kecilnya itu.


Setengah jam sudah Amel berada di dalam kamar mandi, ia keluar merasa perutnya mulai sedikit aga baikkan. Dan, betapa kagetnya melihat sosok suaminya bohongan itu masih setia menunggunya di dalam kamar.


"Kak Arka belum keluar?" tanya Amel mendekat kearah suaminya sudah rapih dengan stelan jas begitu pas di tubuhnya.


"Aku tak mungkin meninggalkan kamu sedang tak baik-baik saja." jawab Arka setelah itu meraba perut Amel yang sakit.


"Apa masih sakit?" tanya Arka.


Amel terpaku dengan tindakan pria berstatuskan sebagai suaminya ini, ada rasa terharu dan senang di perlakukan seperti tapi ia takut jika perlakuan suaminya hanya bohongan seperti dirinya sebagai istri bohongannya.


"Kita periksa ya." ajak Arka lagi, ia tak ingin terjadi sesuatu pada istri kecilnya.


Amel segera menggelengkan kepalanya, ia tak ingin merepotkan suaminya. "Tidak usah, kak. Amel sudah sedikit mendingan kok." tolak Amel merasa gugup. Hubungannya dengan Arka tak ada kemajuan atau pun penjelasan apapun ia menjalani rumah tangganya sebagai mestinya walaupun ia merasa takut, takut tak ingin di tinggalkan di kemudian hari jika Arka tak butuh lagi sebagai istri bohongannya.


"Ya udah yuk kita sarapan, aku sudah telat nih." ajak Arka, ia tak ingin memaksa istrinya itu jika sang istri tak ingin di periksa. Arka pun menggenggam tangan putih Amel untuk keluar dari kamarnya.


Hari ini perlakukan Arka begitu manis membuat Amel merasa salah tingkah atau pun di buat gugup. Entah ini hanya bersandiwara atau hanya rencananya agar tak ada satu orang pun yang mengetahui hubungan ini.


Sampai di ruang makan tak ada satu pun orang di meja makan, semua sudah pergi meninggalkan rumah ini dengan aktivitasnya masing-masing hanya Arka dan istrinya saja.


"Tidak usah melayani ku, kamu tak baik-baik saja. Duduk manis saja biar aku yang melayani mu." tolak Arka, ia ingin sesekali memperlakukan istri kecilnya itu sebagai istri sungguhan sebagai mestinya seperti Mamahnya di perlakukan oleh Papah nya begitu manis sampai ia juga iri dengan sikap dan perlakuan papah dan Mamah nya.


Arka pun melayani sebagai suami siaga, ia memperlakukan Amel seperti istri layaknya istri sungguhan. Ia perlakukan dengan lembut dan di suapin seperti apa yang ia inginkan sejak kemarin.


"Ayo buka lagi mulutnya, ini belum habis." titah Arka begitu lembut memperlakukan Amel kayaknya seperti istri pada umumnya.


"Sudah, Kak. Amel sudah kenyang." tolak Amel secara halus, ia tak selera makan saat perut belum enakan.


"Ya udah, jika ada sesuatu langsung kabarin aku ya. Aku pergi dulu." pamit Arka bangun dari duduknya, ia pun mendekat ke arah Amel lalu mencium keningnya begitu lembut dan lama membuat Amel terpaku dengan tindakan Arka.


"Jaga baik-baik ya, ingat pesan ku. Jangan makan yang pedas-pedas ya." pinta Arka begitu perhatian sampai Amel tak tahu harus membedakan mana yang beneran mana yang bohongan membuat ia bingung sendiri.


"Iya, Kak." jawab Amel begitu patuh layaknya seperti anak kecil akan patuh pada orang tuanya di saat orang tuanya melarang.

__ADS_1


Sepeninggalnya suaminya, mamah mertuanya datang bersama ART membawa barang belanjaan bulanan yang mulai habis.


"Mel." panggil Mamah Nayla menghampiri mantunya sedang bengong sendiri di kursi meja makan.


"Eh, iya, Mah. Mamah dari mana?" tanya Amel begitu kaget, ia segera bangun dan mengambil barang-barang yang ada di tangan mertuanya.


"Kamu sedang apa? Kok melamun sendiri di sini. Ada apa?" tanya Mamah Nayla takut jika anak dan mantunya ada masalah.


"Tidak ada apa-apa, Mah. Tadi Amel sama kak Arka sarapannya kesiangan, maaf ya, Mah." jawab Amel menunduk tapi jika ibu mertuanya marah.


"Tidak apa-apa, sayang. Kenapa muka mu pucat sekali , Mel? Kamu sakit?" tanya mamah Nayla begitu khawatir, ia langsung menempelkan tangannya di kening mantunya untuk periksa.


"Amel gak apa-apa kok, mah. Hanya saja perut Amel sakit."


"Apa sakit. Jangan jangan kamu--," tebak Mamah Nayla begitu antusias, ia menunggu putra dan mantunya itu mengabarkan berita gembira atas kehadiran cucunya yang ia nanti-nantikan selama ini.


"Jangan jangan apa, Mah. Jangan membuat Amel takut." ucap Amel, ia tak ingin di tebak jika dirinya mempunyai penyakit serius di perutnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Mungkin kamu hamil, Sayang...


__ADS_2