
Selesai mengerjakan ujian akhir semester, kini Amel hanya menanti hari keputusan pihak sekolah mengumumkan kelulusan itu tiba. Rasa cemas dan takut yang kini Amel rasakan, ia takut jika nilai tak sebagus kemarin mendapatkan nilai lumayan baik menurutnya.
"Hey, kenapa? Kok melamun?" tanya Arka menginap di apartemennya.
"Gak, Om. Amel khawatir saja takut nilainya jelek lalu gak lulus deh," ucap Amel memberitahukan apa yang ia rasakan saat ini. Hidupnya sudah lebih baik, ia tak memikirkan nasibnya selalu di cukupkah dari segala hal termasuk kebutuhan yang tak perlu Amel cemaskan.
"Jangan berpikir negatif gitu, yang terpenting kan kamu sudah berusaha maksimal mungkin kan. Saya lihat nilai semester pertama kamu bagus kok." balas Arka duduk di samping Amel sedang menonton televisi.
Kedua menonton film drakor yang sedang Amel tonton, akhir-akhir ini gadis yang akan beranjak dewasa itu gemar sekali menonton film tersebut.
Tanpa di dasari ada seorang wanita baya yang masih cantik berdiri memperhatikan mereka yang asyik menonton dan bercanda ,saking asyiknya tak ada yang menyadari jika ada seseorang di ruang tamu sedang memperhatikannya.
"Sakit, Om." keluh Amel saat hidungnya di tarik oleh Arka.
Arka yang tertawa lemas sudah menggoda dan mengerjai Amel berada di samping hanya terkekeh sambil sesekali menarik tubuh gadis itu untuk masuk ke dalam pelukannya.
Rasa penasaran berkali kali lipat saat putranya begitu dekat dengan gadis dibelahan yang tak tahu sampai sekarang. Jika ia tak datang ke unit apartemen milik putranya entah sampai kapan di sulung menyembunyikan gadis itu padanya.
Ehemm...
Keduanya meloncat kaget mendengar deheman dari seseorang yang menurut Arka mengenal suara tersebut, dengan segera Arka membalikkan tubuhnya dan betapa kagetnya melihat cinta pertamanya berada di apartemen entah sejak kapan.
"Mamah." ucap Arka begitu pelan, ia kepergok bersama seorang wanita di apartemennya tanpa memberitahukan soal ini.
__ADS_1
Mamah Nayla berjalan dengan angkuhnya ke depan sang putranya dengan tatapan berbeda, ia bagai terciduk karena ketahuan seperti mencuri sesuatu dari seseorang.
"Mau jelaskan apa Mamah yang bertanya?" tanya Mamah Nayla berbicara dengan nada dingin, ia kecewa karena putranya telah menyembunyikan gadis itu di apartemennya tanpa memberitahukannya.
"Maaf, Mah. Arka hanya kasihan saja." elak Arka merasa bersalah karena telah berbohong pada belahan surganya.
"Sejak kapan?" tanya Mamah Nayla melirik gadis yang sedang tertunduk karena takut dan malu.
"Baru 2 minggu, Mah." jawab Arka takut jika Mamah akan marah.
"Selama itu kamu sembunyikan gadis orang, Arka. Apa tujuan mu, hah." tanya Mamah Nayla tak habis pikir dengan kelakuan putranya itu.
"Maaf, Tante. Jangan salahkan Om Arka, dia yang telah menolong saya." sahut Amel menyela perbincangan antara putra dan ibunya tentang masalah ia berada di sini.
"Apa kalian pacaran?" tanya Mamah Nayla ingin memastikan hubungan putranya itu dengan gadis di sebelahnya.
Keduanya menggelengkan secara bersama, mereka memang tak ada ikatan apapun termasuk hubungan spesial tapi mereka hanya menikmati kebersamaan yang terasa semakin nyaman dan aman.
"Terus hubungan kalian apa? Kata adikmu kamu akan segera menikah dengan siapa?" tanya lagi tak puas dengan jawaban yang terlontar dari putranya.
"Iya, Arka akan menikah dengannya, Mah. Dia calon istri Arka." ucap Arka memutuskan apa yang sudah lama tak ia bicarakan lagi soal pernikahan yang pernah di bahas sebelum ujian itu tiba.
Amel melotot tak percaya dengan pengakuan pria yang baik selamanya terhadapnya. Ia memang pernah menerima untuk menjadi istrinya setelah ujian berlangsung Arka tak membahas soal itu membuat Amel merasa aman tanpa harus ia di tanya lagi.
__ADS_1
"Apa benar kamu calon istri putraku?" tanya mamah Nayla pada gadis di samping putranya sedang menunduk karena malu.
"Jawab, apa benar." sambungnya lagi merasa penasaran luar biasa atas pengakuan putranya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Iya, Tante. Saya ca-lon istri-nyaa...