
Kalian saja yang datang, aku tidak mau." tolak Arka tak ingin datang ke acara tersebut. Bukan ia cemburu tapi ia tidak ingin bertemu lagi dengan masa lalunya sampai sekarang belum sepenuhnya ia lupakan. Banyak kenangan bersamanya sudah ia lewati bersama dengan Aluna. Dan sampai sekarang pun Arka tak bisa melupakan kenangan itu.
Arki menghempaskan bokongnya di sofa, ia tak mungkin memaksa sang kakak untuk hadir di acara tersebut yang pasti akan sakit jika melihatnya. Melihat gadis masa lalunya sudah bahagia bersama dengan pasangannya.
Ia pernah bertemu dengan Aluna saat sang kakak sedang melanjutkan studi di luar kota. Ia pernah memohon untuk bertahan walaupun Aluna pernah menanyakan hal serupa di mana keberadaan kekasih itu. Arki bisa saja memberitahukan keberadaan sang kakak tapi ia sudah berjanji pada kedua orang tuanya untuk merahasiakan keberadaan sang kakak agar fokus pada kuliahnya di sana.
Hanya percaya tak boleh ada yang menggangu putranya agar lulus dengan nilai yang baik, kedua orang tuanya Arka sudah egois hanya mementingkan dirinya sendiri. Mereka seolah lupa jika hubungannya pun tak luput dari perjuangan mereka.
"Kaka masih mencintai Luna?" tanya Arki menanyakan hal pribadi. Tapi, Arki yakin jika sang tak akan jujur soal ini.
Arka menghentikan aktivitasnya ia menatap kearah adik kembarannya itu dengan dahi mengkerut.
"Apa maksud mu? Kenapa kamu peduli padaku? Kemarin kemana saja, hah." marah Arka, ia hanya meminta pada sang adik untuk menyampaikan sesuatu pada kekasihnya yang telah ia tinggalkan secara mendadak.
Ia tak di perbolehkan mengakses informasi tentang Aluna dan sebaliknya sang adik tak memberitahukan informasi apapun tentang Aluna. Ia merindukan belahan jiwanya bertahun tahun ia pendam sampai sekarang ia bertemu lagi sudah terlambat. Terlambat untuk bisa bersama dengan yang sudah bersama seorang suaminya.
Ingin rasanya ia marah pada keluarga gimana ia sudah mengorbankan cinta tulusnya pada seorang wanita yang ia jaga cinta di hatinya tapi kenyataan membuat ia tak bisa bersama lagi dengannya.
"Maafkan Arki, kak. Ini juga demi kebaikan kakak juga. Arki tak tahu jika Luna akan di jodohkan dengan pria lain." jelas Arki, ia juga pernah bertemu dengannya hanya sekali untuk memastikan jika gadis pujaannya sang kakak baik-baik saja.
__ADS_1
Arka tersenyum simpul, ia merindukan seseorang yang tak lain adalah istri dari orang lain. Arka hanya merutuki kebodohannya karena tak bisa berbuat apapun kecuali pasrah dengan keadaan.
Setelah menyampaikan hal itu Arki keluar dengan raut wajah dinginnya. Ia juga sama halnya dengan sang Kaka yang terasa dingin jika diluar atau pun berinteraksi dengan orang lain.
Asisten pribadinya itu masuk sambil membawa beberapa berkas dengan sekretarisnya itu membawa makan siangnya yang telat beberapa satu jam lalu.
"Silahkan, Tuan. Makanan sudah saya siapkan." ucap seorang gadis cantik yang tak lain adalah sekretarisnya.
Arka menyudahi pekerjaannya, ia akan mengisi perutnya yang mulai keroncongan karena telat makan siang gara-gara di parkiran sekolah itu.
Arka duduk di temani oleh asistennya yang sedang mengoreksi beberapa berkas kerja sama dengan perusahaan itu.
"Saya bisa mengaturnya, Tuan. Jika Tuan tak ingin bertemu dengannya." jawab asisten pribadinya Arka yang akan menghandle semua pertemuan dengan klien dari perusahaan yang di pimpin oleh Revan.
"Terserah kamu saja, yang terpenting aku tak ingin bertemu dengannya bulan-bulan ini. Jadi tolong handle urusannya.
Asisten pribadinya itu mengangguk, ia tak ingin terjadi perang lagi atau takut perkelahian antara dua pria itu terjadi.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Siap, Tuan. Ada lagi? Apa Tuan tak ingin mengucapkan selamat buat mereka yang sudah di karuniai bayi kembar...