Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 17


__ADS_3

Setelah mengerjakan pekerjaan rumah, Amel tak bolehkan untuk beristirahat sebentar saja harus memijit kaki Tante yang sedang duduk santai sambil memegang ponselnya. Tak ada kasihan yang di rasakan Tante itu ia malah senang apa yang di rasakan oleh ponakannya itu.


Rasa benci berkali kali lipat pada ponakannya karena orang tuanya itu telah memperlakukan dirinya semena-mena sejak itu dan sekarang ia bisa membalasnya lewat putri satu-satunya ini.


"Yang enak dong, Mel. Kamu bisa pijitin gak sih " bentak Tante Ratna tak enak dengan pijitan ponakannya itu.


"Ini udah Amel pijitin, Tan. Amel tak ada tenaga lagi. Minta istirahat sebentar saja, Tan. Setelah ini baru Amel pijitin Tante lagi." pinta Amel bernegosiasi pada Tante selalu memperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.


Ia rindu suasana dulu, ia rindu dengan kenangan bersama kedua orang tuanya tapi itu hanya jadi kenangan saja karena hidupnya terus berjalan seiring waktu entah sampai kapan berakhir penderitaan ini.


Tante Ratna mendorong tubuh Amel sedikit tersungkur, lalu meninggalkan Amel sedang menitikkan air matanya.


"Apa salah Amel, Tante." lirih Amel menghapus air matanya yang terjatuh di pipinya.


Amel pun terbangun dan menyemangati diri sendiri agar tak terpuruk dalam kesedihan lagi. Cukup untuk menangisi kedua orang tuanya yang sudah bahagia di atas sana. Ia berjalan menuju tempat istirahat satu-satunya kamar berukuran kecil hanya muat kasur dan lemari kecil saja.


Kamar yang dulu ia tempati tak di izinkan oleh Tantenya saat pindah ke rumah ini setelah kepergian mendiang orang tuanya.


"Aku rindu, Mah, Pah. Amel cape." adu Amel meringkuk di atas kasur tipis untuk beralas dirinya jika tidur. Amel memejamkan kedua matanya dengan nahan rasa lapar yang ia rasakan saat ini. Hukuman itu benar-benar di lakukan oleh Tante begitu kejam padanya.


.


.

__ADS_1


.


Keesokan harinya, Amel tak membuat kue pesanan karena ia bangun kesiangan tak bisa tidur karena merasakan rasa lapar.


Tante dan Om nya sedang ada di meja makan lagi sarapan di buat oleh Tante Ratna.


"Tumben Mel bangun siang." tanya Om Agus pada ponakannya yang selalu baik padanya.


"Gak bisa tidur, Om." jawab Amel sambil melirik ke arah Tante Ratna sedang fokus pada sarapannya.


"Ayo sarapan." ajak Om Agus pada ponakannya.


Tante Ratna seketika menghentikan kunyahannya dan mantap ponakan dan suaminya itu bergantian.


"Mah, nasi gorengnya kan masih banyak." ucap Om Agus melihat nasi goreng itu masih banyak dan itu cukup untuk bertiga.


"Buat aku, Mas. Aku masih lapaaarrr." balas Tante Ratna sambil menekan kata lapar dengan mencibir ke arah ponakannya itu lagi memegang perutnya.


"Sini, Mel. Duduk, jangan pedulikan Tante mu. Ayo makan." titah Om Agus sambil menarik tangan Amel untuk duduk di sampingnya. Ia tak perduli dengan tatapan sang istri sedang melotot kearahnya karena ponakannya pasti belum sarapan dengan bunyi keroncongan dari perut Amel sedari tadi.


Tante Ratna begitu kesal dan menyudahi sarapannya itu. Lalu pergi meninggalkan suami dan ponakannya selalu di bela oleh suaminya.


"Awas aja kamu Amel, tunggu pembalasan ku." ancam Tante Ratna dengan suara pelan agar tak di dengar oleh suaminya itu. Ingin rasanya ia menghukum ponakannya yang selalu bikin hari-harinya selalu bikin kesal dan emosi.

__ADS_1


"Makasih ya, Om." ucap Amel begitu senang lalu mengambil nasi goreng itu ke dalam piringnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sama-sama, Mel. Hanya kamu satu-satunya keluarga Om yang ada. Maafkan Om ya...

__ADS_1


__ADS_2