Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 16


__ADS_3

Titah Arka melihat gadis itu hanya berdiri seorang diri di depan gerbang sambil celingukan ke kanan dan kiri. Arka sudah pergi sedikit jauh berputar kembali karena kepikiran dengan gadis itu. Ia membelokkan kendaraannya kembali ke sekolah pertama ia ngajar.


Pengerjaan di kantor ia biarkan entah kenapa rasa kasihan terselip di hatinya saat melihat raut wajah gadis itu seperti murung ia pergi dari hadapannya tadi.


Amel menggelengkan kepalanya, ia tak ingin merepotkan lagi pria itu untuk mengantarkannya pulang. Bukan ia menolak tapi takut jika Tante berpikir yang tidak-tidak padanya. Kemarin saja saat ia membawakan makanan yang di belikan oleh Arka, Tante sudah berprasangka yang tidak-tidak terhadapnya menganggap dirinya menjual pada pria hidung belang.


"Kamu gak mau saya antar pulang?" tanya Arka menawarkan untuk kedua kalinya.


Amel tetap menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin merepotkan untuk kedua kalinya. Cukup untuk terakhir kalinya ia merepotkan saat ia bolos sekolah karena telat.


Arka turun dari mobilnya. Kesabaran menghadapi gadis labil seperti ini harus turun tangan seperti ini. Entah ada dorongan dari mana Arka begitu perduli pada gadis ini yang baru ia kenal kemarin. Hatinya meras ada sesuatu yang sedang gadis ini rasakan.


"Eh, eh. Pak. Ngapain sih, saya sudah bilang gak mau." ucap Amel yang memberontak saat di gendong oleh pak Arka.


Rasa panik dan takut jika ada orang lain terutama siswa di sekolah melihat kejadian yang di lakukan oleh guru baru ini. Bukan Amel senang ia malah takut, takut di buli, takut di gosip tentang yang tidak tidak terhadap hanya seorang siswa dari kalangan sederhana ini.


"Diam, semakin malu berontak semakin orang-orang lihat kita. Makanya jangan keras kepala." omel Arka memasukan Amel ke jok depan di samping mengemudi. Setelah mendudukkan gadis itu Arka pun berjalan memutari mobilnya untuk ke tempat ia mengemudikan kendaraannya.


"Bapak paksa banget sih, saya kan gak mau juga." ucap Amel tak kalah emosi karena tindakan guru barunya itu memaksa.


"Terus kalau aku gak paksa kamu. Mau sampai kapan tungguin angkutan umum lewat Hem." tanya Arka yang tahu jika siang menjelang sore susah mendapatkan angkutan umum lewat.


Amel terdiam, memang benar yang di katakan oleh pria di sebelahnya jika menjelang sore susah mendapatkan angkutan umum. Amel merutuki dirinya karena menolak ajakan dari Ayu mengajak pulang bareng.

__ADS_1


Kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang, Arka tak perlu bertanya lagi pada gadis di sebelahnya alamat rumahnya itu yang kemarin pernah mengantarkan setelah menemani makan siang yang lebih tepatnya dirinya lah yang menemani gadis itu.


Di perjalanan tak ada satu kata pun hanya ada keheningan di antara keduanya. Amel dengan perasaan entah kemana dan Arka memikirkan tentang alasan saat di tanya oleh papah jika ia tak bisa masuk kerja hari ini. Ia melimpahkan pekerjaan itu pada asistennya yang sudah ia percaya dengan hasil kinerjanya.


"Ayo turun, malah melamun. Kamu kenapa sih?" tanya Arka yang mulai penasaran dengan gadis di sampingnya yang sering melamun.


"Eh, iya. Udah sampai ternyata." gumam Amel kaget sambil mengedarkan pandangannya melihat halaman rumahnya sendiri.


Amel pun turun tak lupa ia berterima kasih untuk kedua kalinya karena di antarkan sampai depan rumah. Arka pun melanjutkan perjalanan setelah mengantarkan gadis itu dengan selamat sampai rumahnya.


.


.


.


Perasaannya lega karena tak melihat sosok yang ia hindari saat di sekolahnya. Amel pun merasa senang ia pun berjalan untuk mengganti pakaian dengan pakaian biasa, tapi baru mau menutup pintu itu ia di kejutkan dengan teriakan yang tak lain adalah Tantenya itu.


"Bagus ya baru pulang, kamu enak ya kelayapan mulu. Sedang pekerjaan rumah menumpuk." teriak Tante Ratna selalu bikin Amel tak betah di rumahnya sendiri.


"Amel baru pulang, Tan. Boleh Amel istirahat sebentar setelah itu baru mengerjakan semua." pinta Amel ingin istirahat agar tubuhnya segar saat mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri.


Saat orang tuanya masih ada ia tak pernah mengerjakan sesuatu di rumahnya sendiri, ia menjadi tuan putri walaupun dengan keluarga sederhana. Orang tuanya selalu menyayanginya sepenuh hati dan penyabar. Tapi apa setelah kepergian kedua orang tuanya, rumah ini bagai surga tapi setelah kepergian orang Amel Sayang bagai neraka baginya. Hanya Om saja selalu membela jika Tantenya itu keterlaluan saat menghukumnya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Gak bisa, setelah pekerjaan rumah selesai kamu harus pijitin Tante. Dan hukumannya kamu tak boleh makan malam. TITIK..


__ADS_2