
Keesokan harinya Amel pergi sekolah nebeng dengan temannya Sasa, ia bersyukur karena temannya itu selalu ada jika ia membutuhkan.
Sampai di sekolah, Amel turun lalu berjalan berbarengan dengan temannya, Sasa. Ia dan Sasa mengobrol di taman samping sekolah. begitu asyiknya sampai bel berbunyi pun tak ada yang mendengar. ia dan Sasa bergegas pergi ke kelas saat adik kelasnya memberitahukan jika bel sudah berbunyi sedari tadi.
"Mampus kita, Sa. Pasti kita di hukum."
"Lu sih ngapain ngajak ngerumpi tak jelas jadi keasyikan kan gue." kesal Sasa juga, ia pun berlari juga takut kena hukuman.
Sampai di kelas Amel dan Sasa melihat guru sedang fokus melihat nama-nama murid di kelas ini, sampai Sasa masuk dengan berlari agar tak ketahuan jika ia telah masuk. Saat giliran Amel untuk berlari masuk kedalam, ia kepergok oleh guru barunya yang tak lain adalah Arka. Pria menyebalkan yang pernah ada.
"Mau kemana kamu? Kamu gak lihat sekarang jam berapa?" tanya Arka melihat gadis itu sudah ketangkap basah ingin masuk ke dalam kelas ini.
Amel menyengir tanpa dosa, ia pun menggaruk kepalanya tak gatal. "Saya boleh masuk kan, pak." pinta Amel berharap jika pak Arka mau baik padanya menyuruh untuk masuk.
"Berdiri di pojok sambil angkat kaki lalu jewer telinga kamu semuanya." titah Arka tak ingin di bantah, ini sebagai contoh agar siswa di kelas ini disiplin.
"Tapi, pak." elak Amel, ia begitu sial pas gilirannya tak berhasil seperti temannya, Sasa.
Arka menatap tajam lalu meng kode dengan tatapan tajam, ia tak ingin di bantah oleh siapa pun termasuk siswa di kelas ini.
"Mimpi apa ya kemarin bisa bertemu dengan pria ini lagi. Jangan sampai jodoh gue dia." batin Amel mengumpat di dalam hati. Ia kesal benar-benar kesal karena di hukum hanya sendirian. Sedangkan ia telat bersama dengan Sasa.
"Kenapa lihatin saya." tegur Arka melirik kearah gadis SMA itu sedang menatap dengan tatapan permusuhan.
Amel pun menggelengkan kepalanya. Ia mulai melakukan apa yang di perintahkan oleh guru barunya yang tak lain adalah pria rese kemarin bertemu dengannya.
"Yu, lihat deh tatapan Pak Arka seperti sudah kenal ya sama Amel." bisik Sasa melihat tingkah guru barunya dan temannya itu.
Ayu hanya mengangguk saja, ia tak memperhatikan temannya dengan guru barunya yang katanya beda dengan Amel temannya.
__ADS_1
"Sebentar lagi mau ujian, persiapkan diri dari sekarang. Jika ingin lulus belajar lebih giat lagi jangan sampai bolos seperti murid kemarin." ucap Arka pada muridnya yang sekarang ia akan mengajar di sekolah ini sambil melirik kearah gadis yang ia hukum di pojokan.
Amel begitu kesal saat sindiran itu pasti kearahnya di mana ia bolos sekolah karena telat datang.
.
.
Pelajaran pun berlanjut setelah Arka memberikan materi pada siswa di kelas ini sambil melihat gadis itu yang sedang ia hukum. Bukan tanpa alasan ia menghukum gadis itu, ia hanya ingin melihat dan memastikan jika gadis yang kemarin membuat ia kesal tak membuka suaranya tentang pertemuannya dengannya kemarin. Biar itu jadi urusannya dengan dia tak ada satu pun yang tahu, mangkanya Arka menghukum gadis itu tanpa sebab dan salah sedikit pun.
Sampai pelajaran selesai di jam istirahat, Arka membereskan buku dan melihat Amel dengan wajah di tekuk karena kesal dan pegal berdiri sampai 2 jam lamanya.
"Hukuman mu selesai, tapi kamu harus bawa buku-buku ini ke dalam ruangan saya." titah Arka membuat Amel melongo tak percaya. Ia senang karena hukuman sudah selesai tapi apa yang ia dengar barusan membawakan barang-barangnya ke dalam ruangan membuat Amel merengut kesal.
"Tapi, pak. Kaki saya pegal, Pak." rengek Amel, bukan ia tak mau tapi kakinya memang pegal karena berdiri terus tak di bolehkan untuk beranjak sedikit pun.
"Kamu mau membantah saya." tanya Arka, ia sebenarnya kasihan melihat gadis itu tapi ia hanya ingin berbicara dan meminta pada gadis itu untuk tak bicara pada siapapun termasuk pertemuannya kemarin.
Arka pun keluar dari kelas tersebut, ia berjalan menuju ke ruangannya tanpa menoleh dan menghiraukan gadis itu yang kesusahan membawa barang-barangnya.
Sampai di ruangannya, Arka duduk di kursi empuknya. Ia mempersilahkan gadis itu masuk setelah mengetuk pintu tersebut.
"Silahkan duduk." titah Arka pada muridnya yang tak lain adalah Amel.
Saat Amel membalikkan tubuhnya untuk pergi dari ruangan ini. Ia tak ingin berlama-lama ada di ruangan tersebut bersama dengan pria yang menjengkelkan hari ini.
"Ngapain, pak? Jangan macam-macam ya." ancam Amel takut terjadi sesuatu padanya di ruangan pribadi milik guru barunya itu.
"Emang saya mau ngapain, hah? Saya gak selera sama bocah seperti mu." jawab Arka dengan ketus, ia masih bisa berpikir jernih dengan tuduhan yang terlontar dari mulut gadis itu.
__ADS_1
Amel pun dengan pasrah duduk di hadapannya hanya terhalang meja saja. Melihat pria itu sedang fokus pada ponselnya membuat Amel kesal.
"Saya harus ngapain, Pak? Dari tadi diam terus, lihatin pak Arka fokus sama ponsel." tanya Amel memberanikan diri, ia sebenarnya takut akan hukuman yang akan di berikan oleh pria itu saat ia lancang bertanya. Tapi ia tak mungkin diam terus di ruangan ini dengan perutnya mulai keroncongan minta di isi.
Arka mendongakkan kepalanya melihat wajah gadis itu dengan tingkah aneh karena malu di lihatin seperti ini. Arka pun tersenyum dan berkata.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kamu pesan makanan di kantin, setelah itu bawa makanannya ke sini lalu temenin saya makan di sini..