
Ucap Amel dengan terbata, ia melirik kearah Arka yang sedang melotot agar Amel menuruti kemauannya tempo hari meminta menjadi istri bohongannya.
"Bener Arka?" tanya Mamah Nayla ingin memastikan jika gadis ini beneran calon istri putranya.
"Iya, Mah. Mamah dengarkan jika Amel mengatakannya." balas Arka meyakinkan sang Mamah seperti tak percaya dengan apa yang di katakan oleh gadis yang ada di samping putranya.
"Sudah berapa lama tinggal di sini? Kenapa gak bilang sama Mamah, hah. Apa kamu ingin menyembunyikan calon mantu mamah , iya?" tanya Mamah Nayla menginterogasi putra dan calon mantunya. Ia takut jika kedua pasangan itu melakukan hal di luar batas tanpa ada yang mengawasi mereka berdua.
"Sudah 2 mingggu, Tan." lirih Amel takut jika dirinya akan di usir oleh wanita baya masih saja cantik.
Mamah Nayla melirik ke arah putranya meminta jawaban atas apa yang telah terjadi antara mereka.
"Tenang saja, Mah. Arka sama Amel tak melakukan apapun termasuk tuduhan Mamah itu." jawab Arka tahu jika Mamahnya begitu khawatir dengannya saat menampung gadis di apartemennya.
"Kapan rencana pernikahan kalian?" tanya Mamah Nayla membuat mereka berdua tersedak berbarengan karena kaget.
Uhuk.. Uhuk...
"Kalian kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaan Mamah." tanya Mamah Nayla mengernyitkan dahinya karena aneh dengan sikap keduanya sampai tersedak berbarengan.
"Gak apa-apa, Mah." jawab Arka setelah minum. Ia tersedak karena kaget dengan apa yang di katakan oleh sang Mamah.
__ADS_1
"Terus kapan? Mamah gak sabar pengen lihat kamu menikah, KA." antusias Mamah Nayla ingin segera memamerkan mantu nya pada teman arisannya.
Arka tak menjawab ia malah melihat kearah Amel dengan wajah yang tertunduk merasa tidak nyaman dengan pertanyaan dari Mamah pak Arka soal pernikahan.
Ia dan Arka belum membahasnya tapi Amel memang sudah menerima penawaran itu sebelum membahas tentang pernikahan.
"Kita bicarakan lagi ya, Mah. Amel kan baru lulus sekolah, Mah." jawab Arka dengan jujur kalau gadis ini baru lulus sekolah.
"Apa? Baru lulus sekolah dan kamu ingin menikahinya? Apa kamu waras, KA. Apa Mamah hanya bermimpi." sentak Mamah Nayla kaget luar biasa, ia melihat gadis cantik yang masih imut memang kelihatan masih muda dan dugaannya benar jika gadis ini masih muda.
"Dimana orang tua mu?" tanya Mamah Nayla bertanya pada gadis itu.
Amel menggelengkan kepalanya tanda jika dirinya tak ada orang tua yang akan mendampingi atau pun menemani hari-harinya. Rasa sedih saat teringat kedua orang tuanya yang tiada dengan keadaan tragis ketika kecelakaan tunggal tersebut.
"Orang tuanya sudah tiada, Mah." sahut Arka menjawab pertanyaan dari Mamah tentang orang tua Amel.
"Apa? Inalillahi wainna ilaihi Raji'un, maafkan, Tante ya sayang. Tante tak bermaksud untuk mengingatkan kamu pada orang tuamu." kata Mamah Nayla memeluk Amel sedang sedih. Ia tak pernah merasakan hal itu karena kedua orang tuanya masih ada di kampung.
"Tidak apa-apa, Tante. Amel yang seharusnya minta maaf karena telah merepotkan putra Tante." lirih Amel dalam pelukan wanita baya masih cantik begitu nyaman berada di pelukannya. Entah sejak kapan ia baru merasakan pelukan hangat ini begitu nyaman yang ia rasakan saat ini.
"Sabar ya, sekarang kamu tidak sendirian. Kami akan selalu ada untuk mu." ucap Mamah Nayla menenangkan gadis masih ada di pelukannya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan sedih lagi ya, sekarang kan kamu akan menjadi bagian keluarga kami. Anggap saja Tante adalah orang tuamu ya...