
"Beneran kan, Om. Yang bayar semua ini? Jangan bohong ya, Om. Bohong itu dosa." Ucap Amel tak pernah ia di ajarkan oleh mendiang kedua orang tuanya untuk tak berbohong.
"Hem," jawab Arka yang malas sekali meladeni gadis yang banyak ngomong tersebut. Ia pun memanggil pelayan itu untuk membayar semua yang sudah di pesan olehnya dan gadis itu.
Amel begitu senang, ia pulang telat pun tak akan di marahi oleh Tantenya yang galak karena ia membawa makanan enak dari resto terbesar.
Arka dan gadis berseragam putih abu-abu itu keluar dari restoran tersebut dan Amel menghentikan langkahnya saat Arka terus berjalan menuju mobilnya barada.
Arka berhenti dan menoleh ke belakang di mana gadis itu tak mengikuti dirinya.
"Kenapa? Mau pesan apa lagi?" tanya Arka yang penasaran dengan keinginan gadis yang baru ia kenal telah melemparkan botol bekas ke kepalanya.
"Saya pulang sendiri saja, Om." jawab gadis itu sambil menenteng banyak makanan yang tadi ia pesan. Amel ingin segera pulang dan menyerahkan apa yang ia dapat hari ini.
"Kamu mau kabur dari ku, iya?" tanya Arka penuh selidik, ia tak pernah membiarkan wanita yang baru ia kenal di perlakukan seperti ini. Hanya pujaan hatinya dan Mamahnya saja yang ia perlukan berbeda dari yang lain.
Amel pun menggelengkan kepalanya, ia tak mungkin melakukan hal itu pada pria yang tak sengaja ia lemparkan botol bekasnya dan kini telah membelikan banyak makanan untuknya sambil ia bawa pulang.
"Saya gak akan kabur, Om." jawab Amel menggelengkan kepalanya. Ia hanya ingin segera sampai di rumah Tantenya.
Arka pun mendekat untuk memastikan jika gadis itu tak akan kabur darinya. Lagi lagi Arka memaksa ingin mengantarkan gadis itu ke rumah dengan alasan tak ingin di tak boleh kabur darinya. Hanya masalah terlempar botol saja Arka melakukan gadis itu dengan tahanannya. Entah apa maksudnya saat ini Arka pun jelas tak mengerti dengan sikapnya saat ini.
Sampai di bangunan rumah yang sederhana gadis itu turun dari mobil mewah milik pria yang baru ia kenal. Entah bertemu dengan pria ini si sebut sebagai keberuntungan atau hari sialnya bisa bertemu dengan pria yang sudah dewasa darinya bisa menghabiskan waktu setengah hari bersamanya.
Langkahnya berhenti saat ada tatapan mata sedang memicingkan matanya kearahnya. Amel takut, ia takut di hukum atau tak di kasih makan nanti malam.
Setelah mengantarkan gadis itu dan tahu letak rumah gadis itu Arka pun melajukan mobilnya meninggal kawasan rumah gadis itu, ia ingin kembali ke kantornya menjelang sore ini. Ia tak ingin cepat pulang ke rumahnya dan bertemu dengan Papah nya sudah tahu jika tadi pagi ia tak ada di kantor setelah pekerjaannya ia limpahkan pada asistennya.
.
.
__ADS_1
.
"Asalamualaikum." sapa Amel begitu gugup dan gemetaran saat pintu itu di buka oleh wanita baya sedang melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.
Cek lek.
"Bagus ya baru jam segini baru pulang." omel Tante Ratna pada ponakan yang di tinggal kedua orang tuanya yang tak lain adalah kakaknya sendiri.
"Maaf, Tante." jawab Amel yang tertunduk karena takut dengan amarah Tante selalu memarahinya setiap hari.
"Dari mana saja kamu? Tante telpon teman mu itu kalau kamu gak masuk sekolah. Iya" tanya Tante Ratna dengan banyak pertanyaan karena kesal jika ponakan telah bolos sekolah.
Amel tak segera menjawab, ia menundukkan kepalanya. "Amel telat , Tante. Jadi tak bisa masuk sekolah." ucap lirih gadis yang malang telah di tinggalkan oleh kedua orang tuanya gara-gara kecelakaan tunggal.
"Bagus ya sudah berani menjawab. Itu bawa apa? Pulang sama siapa kamu?" tanya Tante Ratna dengan banyak pertanyaan karena ia melihat ponakannya itu di antar oleh mobil bagus.
"Makanan. Tante. Dia-- dia" jawab Amel. Belum ia meneruskan perkataannya Tante sudah merebut kantong plastik yang ada di tangannya.
"Makanan traktiran dari Om siapa ya namanya!!! Dia beliin Amel makanan." jawab Amel dengan apa adanya walaupun ia yang meminta pada pria tak tahu namanya.
Setelah itu ia bawa ke dapur untuk melihat dalam plastik tersebut. Ia tak percaya dengan omongan dari gadis yang selalu membuat ia emosi dan kesal. Ia letakkan bungkusan plastik itu dan membuka satu persatu bungkusan itu dan benar. Ternyata bungkusan plastik itu beraneka makanan lezat dari resto yang pernah ia lihat.
"Kamu mendapatkan ini dari mana?" tanya Tante Ratna penuh sedikit dan memicingkan kedua matanya kearah ponakannya.
"Dari Om... Amel tak tahu namanya Tante." jawab Amel tak menanyakan nama pria itu.
"Kamu menjual diri, iya?" tuduh Tante Ratna pada ponakannya.
Deg...
"Amel tak pernah kaya gitu, Tante. Walaupun tak ada lagi orang yang menyayangi ku dan mendidik ku seperti dulu. Amel tak akan melakukan hal sekotor yang Tante tuduhkan... Lebih baik amel mengemis dari pada harus melakukan hal itu."
__ADS_1
Teriak Amel tak suka dengan tuduhan Tantenya itu, ia tak pernah keluar dari rumah kecuali sekolah dan mengantarkan pesanan kue buatannya di warung terdekat dan para tetangganya.
"Kamu tuh sama seperti Mamah mu, sama-sama tukang rebut milik orang." hina Tante Ratna mencibir ke arah ponakannya. Ia tak suka saat melihat wajah Amel seperti kakak iparnya.
"Cukup, Tante. Jangan pernah menghina Mamah. Dia lebih baik dari pada Tante." bentak Amel tak terima jika mendiang Mamahnya di hina seperti tadi. Ia tak akan melawan jika Tante Ratna menghinanya tapi tidak dengan Mamahnya sudah tenang di sana.
******Plak******...
"Berani kamu bentak ku, hah. Kamu itu gadis membawa sial."
Sakit.
Tamparan keras pada pipi kanannya membuat ia meringis sakit, orang tuanya tak pernah melakukan seperti ini dan tamparan ini kesekian kalinya Tantenya melakukan.
"Ada apa ini? Kamu kenapa, Mel?" tanya Om Agus baru datang.
"Tanya saja pada ponakan mu itu," ketus Tante Ratna tak ada ramahnya pada Amel.
"Ada apa, Mel? Kamu di apain sama Tante mu?" tanya Om Agus setelah istrinya pergi.
Amel menggelengkan kepalanya, ia pun pergi begitu saja dengan deraian air matanya masih membasahi pipinya. Ia lari masuk kedalam kamarnya sambil terisak menahan sakit di pipinya. Ia ingin pergi dari sini menenangkan hati dan pikirannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Mah, Pah. Amel lelah, Amel pengen ikut dengan kalian...