
Pekik Sasa pada temannya itu menolak ajakan dari pria ganteng itu. Sasa sampai menghentikan kendaraan roda duanya menoleh kearah temannya.
"Apa sih, berhenti. Kamu mau mati? Kalau mau mati jangan bawa-bawa aku, Sa." cetus Amel memegang dadanya. Sasa menghentikan kendaraan secara mendadak saat ia mengatakan apa yang di tanyakan temannya itu.
"Lu masih waras kan, Mel?" tanya Sasa masih terkejut dengan apa yang di katakan oleh Amel.
"Ya waras lah, emang lu. Cowok kaya gitu apanya yang ganteng sih, yang ada dia tuh pria tua yang rese." jawab Amel dengan ketus. Ia memerintahkan pada temannya untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah.
Sasa pun menurut, ia kembali menyalakan kendaraan roda duanya menuju sekolahnya. Tapi Sasa masih aneh dengan Amel saat ini.
.
.
.
.
Sampai di parkiran sekolah, kedua turun sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan teman satunya lagi Ayu.
"Woy," ucap Ayu menepuk pundak Sasa dari arah belakang.
"Astaghfirullah." sahut Sasa begitu kaget saat pundaknya di tepuk dengan kencang.
"Sakit, Yu." ucapnya lagi merasakan sakit.
"Alah, lebay lu. Gini aja sakit." elak Ayu.
"Kantin yuk." ajak Ayu.
"Yuk." sahut Sasa, ia belum sarapan pagi karena malas sarapan di rumah.
__ADS_1
Amel terdiam, kali ini ia tak membawa uang sepeserpun, tak ada yang jika ia tak membuat pesanan kue untuk ia tunda. Amel hanya mengandalkan dari penjualan kue yang ia bikin jika ia ingin mendapatkan uang tersebut.
"Ayo, Mel." ajak Sasa menarik tangan Amel untuk ikut dengannya.
Amel menggelengkan kepalanya, ia tak mungkin ke kantin itu saat ia tak membawa uang sepeserpun untuk membayar.
Sasa dan Ayu saling pandang, tak seperti biasanya sikap temannya kaya gini. Biasanya juga Amel bersemangat jika di ajak ke kantin.
"Aku mau langsung ke kelas saja. Masih kenyang, tadi pagi sarapan nasi goreng." jawab Amel dengan jujur. Ia memang masih kenyang dan belum merasakan lapar.
Sasa dan Ayu meninggalkan Amel yang akan melangkah ke kelasnya. Amel dengan langkah pelan sambil sedikit menundukkan kepalanya. Saat hampir datang ia di tarik pergelangan tangannya oleh seseorang.
"Hey, apa-apaan sih." sentak Amel lalu pria itu membekap mulut gadis yang ia tarik tangannya untuk tak berteriak agar siswa lain tak curiga.
"Om," pekik Amel setelah ada di ruangan milik pak Arka.
"Ngapain Om bawa aku ke sini." tanya Amel takut dan khawatir jika ada di ruangan ini hanya berdua saja.
"Ada apa sih, Om? Om, mau ngapain?" tanya Amel curiga dan takut.
"Saya hanya ingin mengajak mu makan bersama, kamu belum sarapan kan?" tawar Arka membuka bungkusan dari resto Papahnya.
"Kata siapa saya belum sarapan? Saya sudah, Om." jawab Amel tak ingin sarapan, ia hanya ingin masuk ke kelasnya saja.
"Ya udah temenin saya saja." pinta Arka dengan entengnya pada muridnya lagi melotot tak percaya.
"Apa, Om?" tanya Amel ingin memastikan jika pendengarannya tak salah.
"Saya tak ingin mengulang perkataan itu lagi cukup sekali." ucap Arka dengan tegas.
Amel pun mengerucutkan bibirnya, lagi lagi ia harus bertemu dengan pria rese ini secara dekat.
__ADS_1
Arka pun memakan makanan yang ia pesan, ia sebenarnya tak merasa lapar tapi mengingat raut wajah gadis yang ada di sampingnya ini sedikit pucat takut jika gadis itu belum sarapan.
Arka melirik di sampingnya ada gadis itu sedang curi pandang melihatnya. Ada rasa ingin dan gengsi yang kini Amel rasakan.
"Mau makan gak?" tawar Arka lagi.
Amel menggelengkan kepalanya, ia tetap dengan pendiriannya tak menolak apa yang di tawarkan pria di sampingnya ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Aaa, sini aku suapin...