Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 38


__ADS_3

Pagi harinya di unit apartemen milik pak Arka, Amel tak melakukan aktivitas seperti di rumahnya. Selesai menunaikan ibadah sholat subuh ia bergegas membuat kue pesanan tetangga atau pun warung terdekat yang sudah memesan padanya. Tidak di tempat ini ia hanya melakukan aktivitas yang ringan-ringan seperti menyiapkan sarapan pagi atau makan malam jika Arka pulang ke sini. Setelah itu Amel hanya duduk santai seperti tuan putri.


Tok... Tok...


Bergegas Amel membuka pintu kamarnya saat pintu itu di ketuk beberapa kali oleh pak Arka. Amel sudah rapih memakai seragam SMA untuk mengikuti ujian akhir. Di mana ia dan teman-temannya menentukan hari kelulusannya.


Ceklek.


"Pagi, Om," sapa Amel setelah membuka pintu kamarnya sambil tersenyum saat ia melihat pak Arka dengan stelan jas yang begitu pas di tubuhnya.


"Kirain belum siap-siap." ucap Arka, ia tak menjawab sapaan dari Amel.


"Tenang saja, Om. Amel akan selalu siap." balas Amel sambil menyengir memperlihatkan gigi putihnya.


"Ayo sarapan, ini sudah siang. Nanti kamu telat ujiannya." titah Arka melihat jam ada di pergelangan menandakan pukul enam lewat tiga puluh menit.


Amel mengangguk dan mengikuti langkah kaki pria itu menuju ruang makan di mana tempat makan dengan kursi empat pas untuk mereka berdua.


Keduanya duduk di kursi masing-masing sudah tertera sarapan buatan Amel sebelum ia bersiap-siap mengganti pakaiannya.


"Kamu dari mana pinter masak?" tanya Arka menyendok kan nasi goreng buatan Amel kedalam mulutnya.


Rasa nikmat tak pernah Arka rasakan, makanan yang berbeda dari yang ia pernah makan buatan mamahnya dan masa lalunya tak pernah selezat ini menurut Arka.

__ADS_1


"Saya sendiri, Om. Sebentar saya hanya melihat Mamah saya saat memasak saja." jawab Amel dengan apa adanya. Dan saat mengucapkan kata 'Mamah' ia merindukan sosok yang begitu berarti dalam hidupnya.


"Terus Mamah mu kemana?" tanya Arka sibuk dengan sarapan sambil ingin mengetahui tentang Amel.


Amel terdiam, ia tak langsung menjawab malah menunduk karena tak sanggup untuk mengingat atau pun membayangkan kejadian di mana Tuhan telah mengambil lebih dulu orang yang berharga dalam hidupnya.


"Kok kamu diam? Emang saya salah ya tanya sama kamu." ucap Arka menghentikan sarapannya lalu melihat kearah gadis itu yang tertunduk.


"Orang tua saya sudah bahagia di surga, Om. Saya tinggal bersama Om dan Tante saya." lirih Amel menitikkan air matanya.


"Tante mau yang kemarin? Sudah menjual mu pada pria tua itu?" tanya Arka dan menebak apa yang telah terjadi beberapa hari lalu.


Amel mengangguk, ia tak mungkin berbohong atau pun menyembunyikan sesuatu dengan keluarga pada pak Arka yang sudah tahu jika keluarga tak baik-baik saja.


"Tante selalu mengancam ku, Om. Jika rumah peninggalan orang tua saya akan di jual. Sedangkan rumah itu peninggalan orang tua saya satu-satunya. Saya tak ingin meninggalkan rumah itu yang banyak kenangan bersama orang tua saya." alasan Amel masih betah di rumah penuh siksa dan air mata.


Arka terdiam, ia tak tahu jika penderitaan gadis malang ini begitu sedih. Arka pun mengusap tangan gadis dengan berani untuk menenangkan jika dirinya tak sendirian setelah ini.


"Kamu boleh tinggal di sini sesuka hati mu. Di sini kamu akan dari orang-orang yang akan berbuat jahat pada mu." ucap Arka penuh dengan keyakinan, ia biarkan gadis ini untuk tinggal di apartemen tak pernah ia tinggali hanya sesekali saja untuk mengecek.


"Beneran, Om?" tanya Amel mendongakkan wajahnya karena bahagia.


Arka mengangguk sambil tersenyum, ia tak pernah main-main jika sudah mengambil keputusan.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih, Om. Saya tak akan mengecewakan dan akan menuruti apapun yang Om katakan...

__ADS_1


__ADS_2