
Amel mematung saat pria di hadapannya sekarang sudah memutuskan jika dirinya akan tinggal di rumah tinggi seperti ini. Entah apa yang Amel rasakan sekarang, ia begitu bingung di satu sisi ia begitu bahagia karena tak bersama dengan Tantenya lagi selalu memarahinya dan menghukumnya. Tapi, di satu sisi ia juga pasti merindukan Om nya satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.
"Kenapa?" tanya Arka yang peka dengan apa yang sedang gadis itu pikirkan.
Amel menggelengkan kepalanya, ia tak mungkin untuk mengatakan apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Di tolong juga ia sudah berterima kasih, sudah di tolong dan di beri tempat tinggal pun ia sudah bersyukur.
Apartemen milik Arka begitu mewah, Amel tak bisa membayangkan jika guru ini tak ada di restoran itu mungkin nasib ia tak sebaik ini.
"Kamar mu di sebelah kamar ku, jika perlu sesuatu kamu tinggal bilang saja." ucap Arka bangun dari duduknya, ia akan masuk kedalam kamar pribadinya yang ada di apartemen miliknya.
Amel mengangguk mengerti, ia pun berjalan dengan menuju kamar yang tadi di tunjuk oleh pak Arka.
Rasa senang berkali-kali lipat saat ia membuka pintu bercat putih ini, kamar begitu mewah dengan nuansa warna abu dan putih menandakan jika pemilik apartemen ini adalah seorang laki-laki.
Amel masuk kedalam kamar ini, ia berjalan menuju ranjang dengan ukuran besar muat untuk empat orang pun. Tak seperti di rumahnya ia tidur beralaskan kabur bulu hanya ukuran badannya saja. Apakah ia harus bersyukur dengan apa yang ia dapatkan saat ini. Tapi, Amel tak ingin besar kepala desa apa yang ia rasakan saat ini.
Melihat lihat sudut kamar ini begitu luas dan bersih membuat Amel penasaran dengan kamar mandi di dalam kamar ini.
Cek lek.
Kamar mandi pun begitu mewah dengan peralatan mandi lengkap, Amel masuk ke dalam kamar mandi tersebut membayangkan begitu indahnya bisa merasakan apa yang ia lihat sekarang.
"Bagus ya, kaya di tv." puji Amel, di rumahnya memang ada kamar mandi tapi tak seluas kamar mandi ini dan tak semewah ini lengkap dengan peralatan mandi.
"Kalau mandi sekarang seger kali ya," ucap Amel ingin mencoba mandi di kamar mandi semewah ini. Saat ia melucuti pakaiannya ia baru ingat jika ia datang ke apartemen ini tak membawa pakaiannya sehelai pun.
"Ya ampun, untung gue gak langsung mandi." ucap Amel merutuki dirinya sendiri karena lupa jika ia datang ke sini tak membawa baju satu pun hanya yang ia pakai saja.
Saat ia ingin keluar dari kamarnya, Amel begitu terkejut melihat sosok yang sedang berdiri siapa lagi kalau bukan pak Arka.
"Eh, pak. Ada apa?" ucap Amel begitu gugup dan malu karena melihat wajah pak Arka dengan jarak sedikit dekat.
"Ayo makan, kamu belum makan kan?" tanya Arka berdiri di depan kamar gadis itu, ia tak berani lagi untuk masuk ke dalam kamar tersebut yang sudah di tempati oleh gadis itu yang ia bawa ke apartemennya.
__ADS_1
Amel hanya mengangguk, ia tak mungkin membantah apa yang sudah di katakan oleh pak Arka. Hidupnya ia sudah serahkan karena pak Arka lah ia di tebus dengan nilai yang fantastis dari seorang pria baya yang sudah membelinya dari Tantenya sendiri.
Arka berjalan lebih dulu, ia sudah segar dan mengganti pakaian rumahan yang ada di apartemen miliknya. Arka hanya sesekali tinggal di sini jika pikirannya sedang tak baik-baik saja. Contohnya saat ia di tinggalkan begitu saja oleh masa lalunya yang sudah punya kehidupan bersama pasangannya yang ia tak ketahui.
Sampai di meja makan minimalis, Arka duduk lalu mengambil nasi untuk dirinya tapi di cegah oleh Amel yang sudah duduk di depannya.
"Kenapa lagi?" tanya Arka, ia bingung takut gadis itu tak suka dengan makanan yang ia pesan.
"Boleh saya melayani Om? Jangan berpikir macam-macam, Om. Saya hanya ingin membalas kebaikan, Om. Yang sudah membebaskan saya dari Tante dan pria tua itu. Pinta Amel begitu beraninya. Entah ada dorongan dari mana ia bisa senekat ini apa lagi dengan tatapan pak Arka tak ada senyum-senyum nya.
Arka menatap gadis yang ada di hadapannya sekarang, ia pun mengangguk membiarkan jika gadis itu melayaninya saat lagi makan.
Amel pun tersenyum dengan gembira, ia tak mungkin berdiam diri di apartemen ini tanpa melakukan apapun. Dari sini ia akan membalas kebaikan gurunya yang sudah menolongnya.
.
.
.
Ceklek.
"Mah, Amel mana?" tanya Om Agus pada sang istri yang sedang senyum-senyum tak jelas.
Deg.
Ia baru ingat jika ponakannya itu tak lagi tinggal di sini setelah di bawa pria itu, ia akan beralasan apa pada suaminya selalu membela gadis membawa sial itu.
"Mah, di tanya malah melamun." ucap Om Agus sedikit meninggikan suaranya. Ia begitu khawatir dengan keadaan ponakannya tak ia lihat setelah sang istri pulang dengan wajah berseri-seri.
"Ponakan mu itu loh, Mas. Di malah kabur bersama dengan pacarnya. Entah sama siapa? Mamah juga tak mengenalnya." ucap Ratna pada suaminya beralasan seperti itu. Dan semoga saja suami percaya apa yang ia katakan barusan.
Om Agus mengernyitkan dahinya, ponakannya itu tak mungkin untuk melakukan bukan kebiasaannya. Semenjak sekolah pun Amel tak pernah membawa satu orang pun seorang pria ke rumah ini. Tak mungkin jika Amel melakukan apa yang dikatakan oleh istrinya.
__ADS_1
"Jangan ngarang, Mah. Amel gak mungkin seperti itu." elak Om Agus, ia sudah tahu karakter dan kepribadian ponakannya tak mungkin seperti itu. Untuk pergi keluar pun ponakannya itu tak pernah di izinkan oleh sang istri.
"Ya udah kalau gak percaya." cetus Ratna sambil berlalu tapi tangannya di cegah oleh suaminya yang penasaran dengan keberadaan ponakannya dimana.
"Jawab, Mah. Dimana Amel?" tanya Om Agus SE serius, ia sudah berjanji pada kakak perempuan yang sudah tiada. Ia akan menjaga dan merawat putrinya dengan baik.
"Nih, lihat." ucap Tante Ratna menyerahkan bukti di ponselnya yang ia ambil secara mendadak, ia ingat dan segera memotret Amel saat berjalan dengan pria yang ia tahu sambil di gandeng untuk keluar dari restoran tersebut.
Om Agus tak percaya, tapi di lihat dari ponsel sang istri memang itu Amel ponakannya saat keluar bersama sang istri memakai pakaian itu.
"Siapa pria ini?" tanya Om Agus untuk mencari tahu sosok pria bersorban dengan Amel.
"Gak tahu, mungkin pacar kali." kawan Tante Ratna dengan asal, ia tak perduli yang terpenting ia sudah mendapatkan uang untuk ia shopping bersama dengan teman-temannya.
Om Agus mengepalkan kedua tangannya karena marah pada sang istri yang selalu keterlaluan pada Amel, ia diam bukan ia mengalah atau takut tapi ia menghargai sang istri sebagai pendamping hidupnya. Tapi apa yang di perbuat oleh istrinya membuatnya murka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kamu cari atau ku cerai kan kamu sekarang juga...