
Setelah perdebatan antara Amel dan Tante Ratna berhenti setelah datangnya Om Agus sudah pulang mencari nafkah. Om Agus menghentikan perdebatan antara ponakan dan istrinya membuat ia merasa pusing bukannya di sambut dengan senyuman malah di sungguhkan dengan perdebatan antara kedua wanita yang bikin tambah pusing.
Amel pun masuk ke dalam kamarnya yang sederhana hanya ada kasur kecil muat untuk dirinya sendiri dan lemari kecil untuk menyimpan pakaian yang tak seberapa. Tapi Amel selalu bersyukur pada Tante dan Om nya yang mau mengurusnya walaupun rumahnya sendiri, ia hanya sebatang kara tak punya orang tua lagi selain pasangan paruh baya itu. Kadang ia rindu dengan kedua orang tuanya telah lama meninggalkan untuk selamanya.
Tante Ratna pergi setelah ia puas menampar Amel, ia pun bergegas menuju dapur untuk bungkusan plastik yang di bawa amel. Lalu ia membuka plastik berisi makanan yang di bawa tadi oleh Amel, ia penasaran dengan makanan yang di bawa Amel sangat menggugah indra penciumannya. mengambil satu sendok untuk ia mencicipi makanan tersebut.
"Enak juga, dari mana bocah itu mendapatkan kalau bukan dari jual diri atau merayu Om Om seperti Mamahnya merayu Mas Bayu." gurutu Tante Ratna.
Saat suaminya datang melihat sang istri sedang makan makanan begitu banyak di atas meja.
"Makanan ini dari mana?" tanya Om Agus pada istrinya.
"Bocah itu yang bawa."
"Mas.. Sini makan bareng." sambungnya lagi, ia pun memindahkan makanan enak ini pada piring yang ia ambil dari rak piring. Satu piring ia letakkan untuk suaminya lalu menggeser piring berisi makanan tersebut kehadapan suaminya.
Om Agus pun menghampiri sang istri sudah duduk di kursi meja makan sambil memakan makanan begitu banyak tertata di atas meja kecil.
"Kamu dapat dari mana makanan ini?" tanya Om Agus pada istrinya. Ia tak tahu jika yang di debatkan oleh istri dan ponakannya soal makanan.
"Amel yang bawa, entah dari mana gadis itu membawa makanan seenak ini. Ini pasti dari restoran mewah." tebak Tante Ratna yang curiga dengan kelakuan ponakannya suka bikin onar dengannya.
"Katanya dari Om, apa dia ada main dengan Om Om hidung belang?" tanya Tante Ratna selalu menghina ponakannya.
"Jangan sudzon dulu, Mah. Gak baik, mungkin yang di katakan Amel benar jika makanan ini dari pemberian orang." jawab Om Agus yang sudah kenal baik dengan ponakannya selama 5 tahun lamanya setelah kepergian kakaknya yang tragis.
__ADS_1
"Amel tuh gak pernah keluyuran gak jelas, Mah. Tahu sendiri kan setelah pulang sekolah ia akan menghabiskan waktunya di rumah ini dia rela berdagang untuk membuat kue," sambungnya lagi, ia sudah yakin dengan ponakannya karena sudah mengenal Amel sebelum tinggal di rumahnya.
Tante Ratna merengut kesal, selalu saja gadis itu bela oleh suaminya tak pernah menganggapnya atau pun membela dirinya sebagai istrinya. Tante Ratna pun memakan makanan yang ada di atas meja makan yang sederhana. Ia begitu lahap menikmati makanan enak ini tak pernah ia rasakan.
Di dalam kamar, Amel tidur hanya beralaskan kasur berukuran pas untuk satu orang. Ia rebahkan tubuhnya begitu lelah lalu melihat atas langit langit sambil membayangkan pria yang baru ia temui tadi siang.
"Apa tujuan Om itu ya. Aku hanya melakukan kesalahan kecil saja kenapa harus mengikuti kemauannya sih. Gimana dengan sekolah ku sebentar lagi mau ujian lalu pesanan kue ku." gumam Amel sedang memikirkan sesuatu tentang syarat yang di berikan Om itu. Ia tak tahu namanya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
.
.
.
Pagi harinya seperti biasa Amel bangun lebih awal, ia akan membuat kue pesanan warung di sebelah pertigaan belok kiri. Amel bersyukur di usia mudanya ia bisa menghasilkan uang dengan keahliannya memasak dan membuat kue. Itu semua berkat ilmu yang ia dapat dari mendiang Mamahnya sudah meninggal.
Setelah selesai, Amel menyusun beberapa kue yang tadi ia bikin untuk di kirim pada orang yang telah memesannya sejak kemarin. Ia meninggalkan beberapa potong untuk Tante dan Om nya untuk sarapan atau sekedar mencicipi kue buatannya, Amel pun bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaian biasanya dengan seragam sekolahnya.
.
.
.
.
__ADS_1
"Kamu sudah cuci baju belum?" tanya Tante Ratna yang berpapasan dengan Amel setelah mengganti pakaiannya.
Amel pun menggelengkan kepalanya, ia tak sempat untuk mencuci pakaian untuk hari ini karena waktu tak memungkinkan untuk ia kerjakan. Di belakang pakaian kotor sudah menumpuk. Tak ada waktu untuk ia kerjakan di tambah ada pesanan kue lumayan banyak untuk di kirim ke warung-warung. "Gimana setelah pulang sekolah saja, Tante. Amel gak keburu, takut telat lagi." pinta Amel, ia tak ingin terulang lagi saat kemarin tak bisa masuk ke sekolah karena telat datang.
Tante Ratna menoleh seketika, ia melotot tak percaya dengan perintahnya di bantah oleh ponakan tak tahu diri itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Apa? Enak aja, gak bisa. Di kerjakan sekarang ya sekarang....