
Selesai membuat kue hasil karyanya di lanjutkan dengan masak menu makan siang kali ini. Ada kepuasan tersendiri saat masak di apartemen milik gurunya yang sudah menolongnya.
Amel tak sebahagia ini saat memasak atau pun membuat kue buatannya. Di rumahnya ia selalu di perlakukan tak baik oleh Tantenya yang selalu tak menghargai dirinya sebagai pemilik rumah tersebut. Kadang kue hasil buatannya di tumpahkan begitu saja setelah ia selesai membuatnya untuk ia antarkan pada warung-warung terdekat.
Sedih.
Tentu, ia bangun lebih awal dari biasanya di orang masih tertidur nyenyak Amel berkutat katik di depan kompor berserta adonan yang ia bikin. Kadang ia harus cepat membagi waktu di mana ia akan berangkat sekolah sambil mengantarkan kue pesanan tetangga.
"Selesai deh." ucap Amel begitu senang, ia pun bergegas masuk kedalam kamarnya bersebelahan dengan kamar Arka.
Ketika ingin membersihkan tubuh Amel melihat ponselnya menyala menandakan jika ada pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
[Kamu makan saja duluan, mungkin aku tak pulang.] Pesan dari Arka memberitahukan jika dirinya tak bisa pulang ke apartemennya karena pekerjaan menumpuk di tambah pertemuan dengan klien dari perusahaan membuat ia harus lembur.
"Huh, Emang pekerjaan Om itu apa ya?" tanya Amel yang tak tahu, ia pikir pekerjaan pria itu hanya seorang guru di sekolah tempat ia menuntut ilmu tapi melihat kesibukan membuat Amel bertanya-tanya.
Setelah membaca pesan tersebut Amel merasa sedih karena hasil masakan kuenya yang ia buat spesial untuk pria itu gagal total karena tak pulang. Amel hanya bisa tersenyum karena ia tak bisa menuntut apapun terhadap pria yang bukan siapa-siapa dirinya. Ia harus sadar diri dan harus menempatkan dirinya tak boleh egois dengan apa yang ia lakukan saat ini.
"Gak apa-apa mungkin Om itu lagi sibuk." ucap Amel dengan pelan. Bergegas melanjutkan untuk membersihkan tubuhnya karena perutnya yang mulai keroncongan minta di isi.
Di kantor.
Setelah mengirim pesan singkat pada gadis itu Arka sebenarnya merasa bersalah, ia memang sudah mengatakan tak janji untuk pulang ke sana tapi ada rasa berbeda yang di rasakan Arka saat ini.
__ADS_1
Saat ingin bangun dari duduknya ponselnya berdering begitu
Nyaring Arka pun menoleh melihat siapa yang menelepon saat ini.
"Mamah, ada apa ya?" tanya Arka bertanya pada diri sendiri.
"Halo, Mah. Ada apa?" tanya Arka secara langsung pada belahan surganya itu.
"Bisa pulang, KA. Mamah ingin makan siang bersama kamu dan Arki. Bisa?" pinta mamah Nayla secara paksa, ia ingin membicarakan hal serius tentang putranya.
"Ada apa sih, Mah. Kayanya Arka gak bisa, Mah. Setelah makan siang nanti ada pertemuan dengan klien." tolak Arka yang tahu maksud dari Mamahnya menyuruh ia pulang karena sesuatu.
"Baiklah, tapi makan malam bisa pulang kan?" tanya Mamah Nayla.
"Mamah tunggu ya, Nak." pinta Mamah Nayla secara memohon. Ia ingin bertanya soal pribadi putranya yang baru ia ketahui dari ia mendesak adiknya, Arki.
Sambungan telepon itu terputus setelah Mamah Nayla meminta putranya untuk pulang lebih awal, tapi Arka hanya berdehem tanpa berkata sepatah kata pun.
"Mau ngomong apa ya? Tumben banget Mamah maksa aku untuk pulang cepat." tebak Arka yang tak tahu apa yang akan di bahas oleh orang tuanya tentangnya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Woy, malah ngelamun. Nanti susah dapet jodohnya...
__ADS_1