
"Apa yang kalian sembunyikan?" tanya Mamah Nayla dari arah belakang membuat pasangan halal tersebut begitu terkejut terutama Arka.
"Mah," ucap Arka begitu pelan, ia langsung membalikkan tubuhnya saat terdengar suara dari arah belakang yaitu sang Mamah.
"Apa yang kalian sembunyikan dari Mamah?" tanya ulang untuk kedua kalinya dari pertanyaan yang tadi.
Kedua pasangan halal tersebut diam seribu bahasa, bingung untuk menjawab pertanyaan dari Mamah sudah mengetahui apa yang di katakan tadi.
"Jawab." bentak Mamah Nayla sudah habis kesabarannya, ia sudah bahagia dan berharap pada anak mantunya untuk memberikan cucu begitu lucu sudah ia bayangkan dari dulu.
"Ok, jika kalian tak ada yang mau menjawab pertanyaan dari Mamah. Mamah akan mencari tahu sendiri, tapi Mamah kecewa pada kalian." pekik Mamah Nayla setelah itu meninggalkan kedua pasangan halal itu masih tak mau menjawab pertanyaan darinya.
Sepeninggalnya sang Mamah, Arka mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tak mungkin bisa menutupi kebohongan yang ia buat sendiri.
"Gimana ini, Kak. Aku takut." tanya Amel, ia takut melihat wajah kecewa ibu mertuanya sedari tadi.
"Kamu istirahat saja biar aku yang pikirkan." titah Arka, ia akan menjelaskan apa yang terjadi padanya.
.
.
.
Didalam kamar, Mamah Nayla terisak begitu sedih apa yang ia dengar barusan membuat hatinya begitu sakit. Harapannya untuk memiliki seorang cucu dari putra sulungnya itu hanya tinggal harapan saja, ia dan suami telah di bohongi oleh anak dan mantunya.
"Mamah kenapa nangis? Siapa yang bikin kamu begini?" tanya Papah Rayyan begitu khawatir melihat sang istri sedang berderai air mata.
"Arka, Pah. Arka, mereka telah membohongi kita." ucap Mamah Nayla begitu lirih.
"Memang Arka kenapa? Bukannya Amel yang tadi di periksa." tanya Papah Rayyan begitu aneh.
"Mereka telah berbohong, Pah."
"Berbohong gimana? Jelaskan yang benar, Mah. Papah gak ngerti."
Baru saja Mamah Nayla ingin mengatakan apa yang ia dengar dari kamar sang putra ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
"Masuk saja." ucap Papah Rayyan mempersilahkan orang di luar kamarnya untuk masuk.
"Arka, ada apa?" tanya Papah Rayyan pada si sulung.
"Pah, Mah. Arka akan jelasin."
__ADS_1
Arka pun menjelaskan dan mengatakan apa yang ia sudah lakukan di belakang keluarganya. Ia menikahi Amel hanya karena bohongan saja.
"Apa? Jadi kamu telah mempermainkan sebuah pernikahan, Arka." teriak Papah Rayyan begitu menggema seisi kamarnya. Ia tak menyangka dengan kelakuan putrinya itu.
"Maafkan aku, Pah." ucap Arka dengan pelan sambil menunduk, ia takut untuk menatap wajah Papahnya.
"Dia anak gadis orang, Arka. Apa jadinya jika tahu apa yang kamu lakukan selama ini. Apa kamu memikirkannya lagi, hah." bentak Papah Rayyan tak habis pikir dengan kelakuan putranya. Ia sudah menerima gadis pilihannya tanpa mengungkit keluarganya.
"Keluar, kita bicarakan lagi besok." titah Papah Rayyan sudah kecewa dengan sikap putranya. Ia ingin menenangkan sang istri begitu terpukul dengan kejadian ini.
Dengan pasrah dan langkah gontai Arka kembali lagi kedalam kamarnya. Ia pasrah dengan keputusan papah besok, entah apa yang akan di katakan oleh sang Papah.
Masuk kedalam kamarnya tak ada sosok sang istri, ia edarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Amel tapi tak ia temukan sampai ia lari untuk melihat kedalam kamar mandi takut terjadi sesuatu padanya.
"Mel, Amel. Kamu dimana." teriak Arka tak menemukan keberadaan. Ia pusing di tambah tak ada sang istri dengan keadaan tak lagi baik-baik saja.
Segera Arka keluar untuk mencari keberadaan Amel, ia begitu khawatir takut terjadi sesuatu padanya.
"Mbok, lihat Amel gak?" tanya Arka berpapasan dengan ART di rumahnya.
"Neng Amel ada di kamar tamu, den Arka." jawab si Mbok.
"Terimakasih, Mbok."
"Mel," panggil Arka.
Dan benar, apa yang ia lihat sekarang sang istri sedang membereskan pakaian kedalam kopernya.
"Kamu mau kemana?" tanya Arka melangkah mendekat ke arah sang istri kecilnya.
"Pergi, Kak. Tugas Amel sudah selesai di sini, semua orang pasti sudah tahu rencana, kakak. Dan Amel di sini tak ada gunanya lagi." jawab Amel begitu lantangnya walaupun hatinya bergemuruh hebat untuk mengatakan apa yang ia katakan tadi.
"Pulang kemana? Bukannya kamu bilang jika rumah peninggalan orang tua mu tak nyaman lagi untuk mu." balas Arka, ia tahu saat Amel menceritakan apa yang ia rasakan di rumahnya sendiri.
"Tidak, Amel akan cari kontrakan sendiri. Mandiri lebih baik dari pada harus tinggal dengan orang tak pernah menghargai kita." ucap Amel begitu sakit apa yang terjadi bersama suaminya.
"Aku tak mengizinkan mu, Mel. Kamu gak boleh pergi tanpa seizin ku, paham." ucap begitu tegas tanpa bantahan sedikit pun.
Amel menoleh sekilas, apa yang ia dengar barusan dari mulut suaminya membuat Amel tersenyum simpul.
"Apa yang kakak bilang, aku tak boleh keluar dari rumah ini. Amel sekarang bukan istri kak Arka lagi, kebohongan kita sudah terbongkar, Kak."
"Aku menikahi kamu secara agama dan negara, jadi kamu sah menjadi istri ku, Mel. Kamu masih istri sah ku, paham."
__ADS_1
"Percuma, kak. Aku istri sah mu tapi tak pernah di anggap atau di cintai oleh mu." jawab dengan pelan.
Arka pun menangkup wajah istri kecilnya dengan kedua tangannya, ia Mun menatap kedua matanya jentiknya selalu menggoda imannya.
"Aku tetap suami mu, kamu juga tetap jadi istri ku." ucap Arka sambil mencium kening Amel tapi Amel menghentikan apa yang akan di lakukan oleh suaminya. Ada rasa trauma saat suaminya menyentuh dirinya.
"Maaf, kak. Tolong tinggalkan aku di sini sendirian." pinta Amel, ia ingin memikirkan dan menenangkan dirinya sendiri.
Arka terdiam, menolakan sang istri membuat ia mengerti apa yang sudah ia lakukan padanya. Dengan cara paksa membuat gadis berumur 18 tahun merasa trauma dan takut.
.
.
.
Pagi harinya, semua bangun seperti biasanya. Arka duduk di kursi seperti biasa ia tempati tapi tidak sama dengan kemarin tak ada sang istri di sampingnya seperti kemarin melayani dengan baik.
"Amel kemana, Ka?" tanya Papah Rayyan tak melihat mantunya.
"Masih ada di kamar, Pah." jawab Arka, semalam ia tidur terpisah kamar. Jadi ia tak tahu apa yang di lakukan sang istri di dalam kamar tamu.
Tak ada sapaan manis dan obrolan manis di meja makan, semua terdiam hanya gentingan garpu dan sendok yang terdengar. Semua terdiam terutama Mamah Nayla begitu kecewa dengan sikap putranya.
"Jangan dulu kerja, Ka. Papah mau bicara dengan mu."
"Iya, Pah." jawab Arka begitu patuh dan pasrah apa yang akan Papahnya lakukan.
Amel pergi diam-diam dari kediaman rumah mertuanya begitu nyaman dan tentram baginya. Ia di perlakukan seperti layaknya seorang anak sendiri tanpa di bedakan sedikit pun.
.
.
.
.
.
.
Aku harus mandiri, jangan cengeng dan jadilah wanita kuat untuk menghadapi kenyataan...
__ADS_1