Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 25


__ADS_3

"Ok, saya tertarik. Gadis ini begitu cantik dan imut." ucap pria baya tersebut tersenyum simpul kearah gadis itu.


Tante Ratna tersenyum puas, ia benar-benar senang kali ini ia akan mendapatkan uang begitu banyak hasil ponakannya yang ia benci seumur hidupnya.


Ia benci karena di rendahkan oleh dua orang tuanya Amel yang selalu bertindak sesuka hatinya dan mengatakan yang tidak-tidak terhadapnya saat dirinya dan suami tak punya apa-apa. Orang tuanya Amel hanya menasehati, memberikan saran pada adik iparnya itu tapi Tante berpikir jika dirinya tak mampu untuk melakukan apa yang ia lakukan. Di situ lah kebencian seorang Ratna terhadap kakak dan kakak iparnya itu.


Dan, kini ia limpahkan kebencian itu pada anaknya yang tak tahu apapun tentang masalah kedua orang tuanya dengan Tantenya.


Rasa takut berkali-kali lipat saat pria baya tersebut mengatakan hal itu membuat Amel gemetaran dengan keringat membanjiri tangannya yang sedang menggenggam satu sama lain.


Apakah Tantenya akan menjualnya?


Itu yang ada di dalam pikirannya sekarang. Dan kini ia merutuki dirinya untuk ikut bersama dengan Tantenya yang pura-pura baik terhadapnya.


"Syukur lah jika Pak Beroto suka dengan Amel." ucap Tante Ratna senang karena beberapa menit lagi ia akan menerima pundi-pundi uang yang sedang ia nanti selama ini.


Dengan uang berjumlah banyak yang di tawarkan oleh pria baya tersebut membuat ia tergiur dan buta mata terutama hati menjual keponakan dari suaminya itu. Ia tak perduli dengan semua itu rasa senang dan puas karena dendamnya terbalaskan lewat anaknya tak tahu apa apa.


"Boleh saya meminta uang nya?" pinta Tante Ratna ingin segera pulang membawa pulang uang banyak di janjikan pria baya itu untuk ia nikmati.

__ADS_1


Ia akan merencanakan cara untuk beralasan pada suaminya ketika ia pulang tak membawa keponakan tersayangnya.


Pria baya tersebut memerintahkan anak buahnya untuk memberikan apa yang di inginkan wanita itu yang sudah membuat kesepakatan bersama sebelum pertemuan ini tiba.


Tidak dengan Amel, ia menitikkan air matanya tak bisa ia bendung lagi. Kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga Tante begitu kejam karena menjualnya pada seorang pria tak pernah ia kenal sedikit pun.


Ingin rasanya menjerit begitu kencang dan menampar pipi Tantenya itu dengan kencang. Tapi itu tak mungkin ia lakukan karena Amel tahu dimana ia berada sekarang.


Setelah Tante mendapatkan apa yang ia inginkan, segera pamit dan tak lupa berterima kasih karena keberhasilan untuk melabui ponakannya berhasil.


Amel pun beranjak dari kursinya, ia pun ingin keluar dari ruangan ini tak pernah ia kenal orang yang ada di ruangan ini kecuali ia datang bersama dengan Tante Ratna.


"Aku mau pulang, Tan. Tante boleh lakukan apapun, menghukum aku sesuka hati Tante, memukul aku. Tapi, jangan yang ini, Tan. Amel takut, hanya Tante dan Om yang Amel punya. Ku mohon." rengek Amel sambil menitikkan air matanya begitu deras. Ia tak ingin ikut dengan pria baya itu.


"Minggir, kamu tuh bukan ponakan aku lagi ya. Sana sebelum pak Beroto marah pada mu." titah Tante Ratna tak ada belas kasih pada keluarga dari suaminya itu.


Amel menggelengkan kepalanya, ia tak ingin berada di ruangan ini bersama pria itu tak kenal olehnya. Lebih baik ia di hukum dan di marahi asal bisa bersama dengan Om yang ia miliki di dunia ini.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Minggir, kamu akan enak hidup dengannya. Tak akan ada orang yang akan memarahi kamu lagi mulai sekarang...


__ADS_2