Terjebak Cinta Anak SMA

Terjebak Cinta Anak SMA
Bab 58


__ADS_3

Setelah menanyakan kabar tentang kakak iparnya Arki begitu lega, ia membantu kakak iparnya karena kasihan, awalnya ia juga marah dan kecewa tapi saat Amel mengatakan bahwa dirinya hanya ingin hidup lebih tenang dan nyaman seolah mengikuti rencana yang di buat oleh sang kakak.


Marah, kecewa, dan kesal saat sang kakak mempermainkan sebuah pernikahan sakral dan telah membohongi kedua orang tuanya.


"Kakak cari siapa?" tanya Arki melihat sang kakak sedang mencari seseorang dengan wajah khawatir dan cemas.


"Amel gak ada, Ki. Apa kamu melihatnya?" tanya Arka saat ia ingin pergi mencari keberadaan sang istri entah di mana.


Arki menggelengkan kepalanya, ia sudah berjanji tak akan memberitahukan keberadaan kakak iparnya pada sang kakak.


Arka meninggikan begitu saja setelah Arki menggelengkan kepalanya, ia pun bergegas menuju garasi mobilnya berada untuk mencari sang istri.


"Sampai kapan pun kakak tak akan menemukannya, Kak." gumam Arki, ia pun berjalan juga ketempat garasi mobil berjejer di sana.


Biar sang kakak mencari keberadaan kakak iparnya, ia ingin tahu seberapa besar sang kakak untuk mencari istri yang sudah ia sakiti batinnya. Ia tak akan membiarkan sang kakak menyakiti hati seorang wanita yang jelas istrinya.


.


.


.


"Gimana ini, Pah. Amel gak ada di rumah ini. Amel kemana?" gemas seorang wanita yang tak lain adalah ibu mertuanya sedari mengkhawatirkan mantunya pergi entah kemana.


"Sabar dulu, Mah. Papah juga akan berusaha mencarinya." ucap Papah Rayyan menenangkan sang istri sedang khawatir dengan keadaan mantunya di luar sana.


Baru 3 bulan menjadi mantunya tapi mamah Nayla sudah menganggap Amel adalah putrinya. Ia begitu menginginkan seorang anak gadis terkabulkan lewat mantunya yang dibawa dan di kenalkan sebagai calon istri dari di sulung. Tapi, khayalannya sirna saat mengetahui jika mereka menikah hanya sebuah kesepakatannya. Mereka menikah karena sama-sama membutuhkan, Arka ingin membuktikan jika perkataan benar dan Amel membutuhkan sebuah perlindungan dari kejahatan oleh Tantenya.


"Papah harus cari, dia tak punya tempat tinggal lagi selain di sini, Pah." rengek Mamah Nayla seperti anak kecil, ia begitu khawatir di luaran sana sang mantu sendirian tak ada satu orang pun yang menemaninya.


Papah Rayyan menarik tubuh istrinya, ia dekap masuk kedalam pelukannya untuk ia tenangkan. Hatinya sakit melihat belahan jiwanya sedih seperti ini karena ulah kedua pasangan halal itu tak memikirkan kedepannya.


.


.

__ADS_1


.


Setengah hari Arka berkeliling jalan untuk mencari keberadaan sang istri kecilnya, tapi tak ada tanda-tanda atau pun petunjuk keberadaan istrinya. Ia begitu bodoh membiarkan Amel seorang diri di kamar tamu tanpa penjagaannya.


"Kamu dimana, Mel." ucap Arka melihat ke kanan dan kiri, ia begitu teliti takut terlewat jika ada sang istri di jalan. Apakah Amel begitu membencinya saat perawanan nya ia renggut dengan paksa tanpa menghiraukan rengekan dan menolakan sang istri katakan.


Hanya penyesalan yang kini Arka rasakan, ia tak mungkin pulang dengan keadaan tak membawa pulang sang ke rumah orang tuanya. Arka takut jika di tanyakan oleh kedua orang tuanya pulang tanpa sang istri.


Arka lanjutkan lagi perjalanannya, ia mengemudikan sendiri tanpa meminta bantuan pada siapapun termasuk sang adik sepertinya kecewa padanya.


Siang berganti malam, Arka pulang dengan keadaan tak membawa Amel pulang. Sang istri hilang bagai ditelan bumi tak ada jejak sedikit pun, menjaga gerbang pun tak tahu jika nona mudanya keluar dari kediaman rumah orang tuanya.


******Brakk******...


Arka pulang dengan wajah begitu kacau, ia berjalan dengan gontai tak menghiraukan panggilan dari orang tuanya untuk meminta Arka menghampirinya.


Rasanya Arka begitu malas harus meladeni orang tuanya akan mengomel tak ada hentinya telah lalai menjaga istrinya.


Masuk kedalam kamarnya, ia edarkan pandangan membayangkan kenangan dimana sang istri menyambut dirinya begitu manis layaknya seperti istri sungguhan. Amel yang memperlakukan seperti suami sungguhan tapi ia menganggap hanya istri pajangan saja.


.


.


.


Makan malam pun tiba, Arki dan orang tuanya duduk di kursi masing-masing sambil Mamah Nayla melayani sang suami seperti biasanya.


Di susul oleh Arka duduk berhadapan dengan adik kembarannya itu tak menghiraukan keberadaannya saat ini saking kecewanya pada sang kakak karena telah menyakiti hati seorang wanita.


"Gimana, Ka. Ada kabar tentang Amel?" tanya Papah Rayyan ingin tahu gimana hasil pencarian si sulung.


Arka menggelengkan kepalanya, ia gagal untuk menemukan sang istri. Rasa khawatir menyelimuti dirinya saat takut sang istri terjadi sesuatu di luar sana.


"Jangan enaknya aja, Ka. Di cari bukan di diemin." ejek Arki, ia geram dengan tindakan sang kakak sudah keterlaluan walaupun itu haknya sebagai seorang istri.

__ADS_1


Arka mendongakkan kepalanya lalu menatap kearah sang adik tak mengerti dengan maksudnya. "Maksud kamu apa? Apa ada kaitannya hilangnya Amel dengan mu." tuduh Arka, ia hanya menebak asal saja.


"Jangan menuduh ku tanpa bukti, kak. Cari dulu baru menuduh orang lain." setelah mengatakan hal itu Arki tak selera untuk makan bersama di tambah ia kecewa dengan kelakuan kakaknya.


"Kamu mau kemana, Ki. kamu belum makan." cegah Mamah Nayla begitu frustasi melihat kedua anaknya berdebat saat ingin makan.


"Jangan ribut di meja makan, jika tak ingin makan pergi." sahut Papah Rayyan tak suka ada keributan saat makan malam bersama.


Arki lanjutkan lagi langkahnya pergi ke kamarnya, ia ingin menghubungi kakak iparnya untuk mengetahui sudah makan apa belum.


Panggilan itu terhubung tapi tak ada jawaban dari si empunya. Arki begitu cemas takut terjadi sesuatu pada kakak iparnya seorang diri di tempat kost yang sudah ia sediakan.


"Kemana kakak ipar ya," tanya Arki khawatir, ia ingin sekali mendatangi kost tempat kakak iparnya berada tapi takut jika ada orang yang akan curiga jika ia membantu kakak iparnya untuk pergi dari rumah ini.


Di tempat kost, Amel sedang mandi di kamar mandi hanya pas untuk dirinya. Tak seperti di kediaman mertuanya semua sudah di layani kayanya seorang putri di kerajaan.


"Kamu harus kuat, Mel. Kamu harus mandiri." ucap Amel menyemangati dirinya sendiri untuk memulai hidup ke depannya.


Selesai mandi, Amel mengambil satu stel pakaian untuk ia pakai tapi ia membelokkan arahnya ingin melihat ponselnya menyala menandakan ada sebuah pesan masuk.


"Arki, banyak sekali. Ada apa ya," ucap Amel ingin menghubungi adik iparnya tapi ia takut dan cemas jika adik berada di dekat keluarganya terutama suaminya.


Ia mengganti nomor ponselnya agar Arka tak bisa melacak keberadaannya, ia ingin menepi dari hubungan entah akan di bawa kemana. Amel membuka pesan dari Arki yang mengkhawatirkannya.


.


.


.


.


.


[Kak, aku sudah pesankan makanan untuk mu, kurir akan mengantarkannya ke alamat kost'an kakak sebentar lagi. Di makan ya.]

__ADS_1


__ADS_2