
Bayangan Mira yang tergeletak tak berdaya di punggir jalan sungguh mengganggu pikiran Erik, apalagi gadis itu belum dia temukan juga.
Mang Jaja berlari di bawah guyuran hujan deras dengan sebelah tangannya yang memegangi payung, melindungi diri nya dari derasnya air yang turun dari langit, pria setengah baya itu membukakan pintu gerbang untuk tuannya.
Namun setelah dia masuk kedalam halaman rumah luas nya itu, hati Erik masih terasa masih ada yang mengganjal.
"Mang jaja, kemari !" panggilnya.
Mang Jaja berlari menghampiri tuannya.
"Apa mang Jaja tau kemana arah perginya perempuan yang tadi mengantarkan saya pulang ?" tanya Erik penasaran.
"Oh nona itu, anu,,, itu,,, nona itu di,,," Mang Jaja menunjuk pos tempat nya berjaga.
Erik mengikuti arah tangan penjaga rumahnya itu menunjuk arah, dia lalu berjalan ke depan, tempat dimana mang Jaja biasa menunaikan tugasnya.
"Ya Tuhan !" pekik Erik, antara rasa kesal, lega dan marah bercampur menjadi satu berkecamuk di dadanya saat melihat sosok Mira, gadis yang dari tadi dia dia cari cari dan membuat dia panik, hawatir bercampur cemas karena berpikiran yang tidak tidak tentang gadis itu.
Namun kenyataannya, Mira sang gadis yang di cemaskan nya itu sedang terlelap tidur di kursi yang berada di pos tempat mang Jaja berjaga sambil menganga.
"Maaf tuan, tadi nona itu menunggu hujan reda, tapi,,, nona itu tertidur," terang mang Jaja ketakutan.
Sebenarnya Erik kesal dengan sikap hawatir nya yang di rasa berlebihan pada gadis yang baru di kenalnya dan telah memberinya banyak masalah dan kesulitan itu.
Tapi melihat wajah polos gadis tengil yang terlelap itu, akhirnya Erik menggendong tubuh Mira dan membaringkannya di kamar tamu di lantai bawah, sepanjang malam bahkan Erik tak bisa tidur, setiap beberapa jam sekali dia melihat keadaan Mira di kamar itu tanpa alasan yang jelas, sampai akhirnya dia ketiduran di sofa yang ada di kamar itu karena semalaman menunggui Mira yang tertidur di sana, padahal entah apa yang laki laki itu hawatirkan.
Tepat pukul 4 pagi Mira terbangun, tenggorokannya terasa kering, dia ingin mengambil minum di dapur, namun karena hujan deras dan petir masih saja menyambar nyambar, Mira memutuskan untuk mengumpulkan keberaniannya dulu, dia memang agak sedikit takut bila di tempat sepi, mungkin trauma karena pernah tinggal sendirian.
"Ada apa ?" tanya Erik yang ikut terbangun pagi itu.
Mira bukannya tak tau tentang keberadaan Erik di sana, hanya saja dia terlalu malas untuk membangunkan laki laki itu, dia juga masih kesal karena tadi Erik mengusirnya dengan kasar.
Erik menghampiri Mira dan meraba dahi gadis itu dengan punggung tangannya.
__ADS_1
"Kau tak apa apa, kan ?" tanya Erik sedikit hawatir.
"Ish, om pasti berharap aku demam seperti cerita di novel novel dan sinetron, terus aku mengigau, terus aku menggigil kedinginan, terus nanti om,,,," belum sempat Mira menyelesaikan kalimatnya dahi Mira sudah di toyor Erik dengan kesal.
"Otak mu itu sudah geser rupanya, gara gara kebanyakan minum alkohol !" gerutu Erik kesal.
"Orang aku lagi ngumpulin nyali buat ngambil minum di dapur, aku tadi kebangun gara gara haus, malah di periksa jidatnya segala rupa !" oceh Mira.
"Hey, tadi aku menggendong mu masuk ke rumah ini, kalau tidak, kau tidur di pos satpam dengan mang Jaja !" ucap Erik ber api api.
"Aku tau ! Aku juga tadi terbangun, saat om gendong aku ke sini, tapi aku pura pura tidur saja, dari pada nanti di usir lagi !" cicit Mira dengan wajah tanpa dosa.
Wajah Erik me merah, dia langsung meninggalkan kamar itu dengan perasaan dongkol.
"Dasar bocah tengik, kurang ajar !" umpat Erik sambil berjalan keluar dari tempat itu.
Selang beberapa menit, pintu kamar terbuka lagi, Erik melempar sebotol air mineral ke arah Mira dari ambang pintu, lantas pergi lagi tanpa berucap apa pun.
"Terima kasih Om ku !" cengir Mira seraya menangkap botol air yang melayang ke arahnya.
***
"Apa kau tidak bisa diam dan tolong berhenti membuat keributan, sebentar saja ? Suara mu mengganggu tidur ku !" bentak Erik dengan wajah yang masih terlihat ngantuk namun harus terbangun karena memdengar suara nyanyian Mira yang memasak sambil bernyanyi tak jelas.
"Hai, pagi Om ! Aku memasak kan sarapan sebagai ucapan terima kasih sudah menampungku di sini semalam, aku pamit pulang, ojek online ku sudah menunggu di depan, bye om !" teriaknya sambil melambai lambaikan tangannya dan berlalu keluar pintu utama sambil melangkah riang setengah berlari kecil sambil bersenandung.
Erik seperti sudah kehabisan kesabarannya menghadapi sikap sontoloyo Mira yang membuat kepala Erik nyut nyutan pusing di buatnya.
"Maaf tuan, tadi nona Mira memaksa untuk memasak, katanya sudah minta ijin tuan," ucap Yanti sudah siap dengan amukan tuan nya yang tak pernah senang bila barang barang di rumah itu di sentuh sembarangan, apalagi daerah dapur, dimana tempat biasanya Citra memasak di sana.
"Kau telah di bodohi oleh bocah tengik itu, aku tak pernah mengijinkan nya untuk berbuat apa pun !" Erik berlalu meninggalkan dapur itu untuk melanjutkan tidurnya, namun tanpa sengaja dia melirik sepiring nasi goreng yang masih mengepulkan asapnya.
Tiba tiba Erik teringat dengan masa masa awal pernikahannya dengan Citra yang selalu membuatkan nya sarapan, dan masakan yang sering di buatnya adalah nasi goreng.
__ADS_1
Erik mendudukan diri di kursi makan dan menyuapkan beberapa sendok nasi goreng ke mulutnya, seolah olah saat itu Citra sedang duduk dan menemaninya makan seperti biasanya, sebelum perempuan itu berpaling darinya dan mengalihkan hatinya untuk laki laki lain.
Sungguh di setiap sudut rumah itu Erik seperti melihat sosok Istrinya sedang melakukan aktifitas hari hari nya, oleh karena itu dia merasa tak kuat bila harus tinggal di rumah yang penuh dengan kenangan tentang mantan istri tercintanya itu.
***
"Selamat pagi, bos !" suara yang sepertinya tak asing di telinga Erik menyapanya dari dalam lift saat dia hendak memasuki ruangan kotak dan sempit itu.
"Astaga ! Kapan derita ku berakhir, kenapa kau ada di mana mana, untuk apa kau datang ke kantor ku ?!" geram Erik menahan marah nya.
"Bayar utang lah !" jawab Mira sambil nyengir kuda.
"Baguslah, cepat berikan uang nya padaku dan segera pergi dari hidup ku, jangan ganggu aku lagi !" ucap Erik.
"Lha, usia memang tidak bisa bohong,,, kasihan sekali orang tua ini sekarang sudah mulai pikun !" cibir Mira.
"Apa maksud mu !?" Erik memicingkan matanya ke arah Mira yang seperti tak ada takut takutnya dengan Erik yang berwajah galak dan tak pernah terlihat senyum itu.
"Proyek 10 M yang bos suruh aku mengerjakannya kemarin !" Mira mengingatkan, Mira juga mengganti panggilannya pada Erik dengan sebutan Bos karena kini dia menjadi karyawan Erik, pikirnya.
Erik memejamkan matanya, dia merutuki dirinya sendiri yang terlalu ceroboh dan terburu buru memberi gadis menyebalkan itu salah satu proyeknya, dengan begitu, mau tidak mau dia akan bertemu dengan bocah tengik itu setiap hari selama berbulan bulan lamanya sampai proyek itu selesai, memerlukan waktu paling tidak minimal enam bulan untuk menyelesaikan proyek besar seperti itu, dan selama itu dia pasti akan terus di pusingkan oleh tingkah menyebalkan gadis yang menurutnya selalu merepotkannya itu.
Dengan terpaksa Erik membawa Mira ke ruang kerja nya untuk mendiskusikan proyek yang akan di berikan pada gadis itu.
Erik juga akan terus memantau pekerjaan Mira, dengan kata lain, Mira di bawah pengawasannya selama pengerjaan proyek.
"Ruang kerja ku di mana bos ?" tanya Mira saat akan segera melaksanakan tugasnya di hari pertamanya bekerja, setelah dia lulus kuliah, Tuhan sepertinya sedang berbaik hati padanya, belum sehari dia lulus, tapi sudah di percaya menggarap proyek se besar itu, meski itu hanya untuk membayar hutangnya saja.
"Ruangan mu sementara di sini dulu, karena itu proyek penting, aku tak mau kau membuat kesalahan, kau harus tetap ku awasi !" ucap Erik.
Mira lalu duduk berhadapan di meja kerja Erik dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
"Apa kau mau mengganggu ku bekerja ? Aku tak bisa bekerja bila kau juga bekerja di meja yang sama dengan ku !" kesal Erik yang merasa mejanya menjadi penuh dan sempit akibat berbagi tempat dengan Mira.
__ADS_1
"Meja kerja di ruangan ini hanya ini satu satunya, lalu bos mau aku mengerjakan pekerjaan di lantai, kaya anak sd ngerjain pr sambil tengkurep, gitu ? " oceh Mira seakan selalu saja ada stok kata kata untuk membantah perkataan Erik sang bos.
"Terserah kau saja !" ucap Erik putus asa.