
Wajah Mira memerah menahan marah pada adik tirinya itu.
Tanpa basa basi Mira menghampiri Alisha yang masih berdiri di ambang pintu ruang kerja Erik.
"Apa sebenarnya mau mu ? Aku tak mengenal mu sebelumnya, kita tak saling mengenal, aku tak pernah mengusik kehidupan mu, tapi kenapa kau menggangu hidup ku ? Kau ambil ibuku, kau ambil tempat tinggalku, sekarang apa lagi yang kau inginkan dari ku, huh ?" suara Mira terdengar agak bergetar, tak pernah dia semarah ini pada orang asing.
Ya, Alisha memang orang asing bagi Mira, mereka baru bertemu saat Tita memohon agar dia berbagi tempat tinggal dengan anak bawaan suami barunya itu, sebelumnya dia sama sekali tak tau ada mahluk bernama Alisha di kehidupan ibunya, dia hanya tau kalau ibunya juga sudah punya seorang anak dari hasil pernikahan nya dengan suaminya sekarang, namun bagaimana bentuk dan rupanya Mira tak tahu dan tak pernah ingin tahu, bahkan siapa namanya pun Mira tak pernah mengetahuinya.
"Kak, kamu salah sangka, ibu sangat menyayangi mu, tapi kakak memilih hidup sendirian, dan aku menemani ibu karena ibu merasa kesepian hidup terpisah dengan mu, dan masalah tempat tinggal, kita bisa tinggal bersama, tapi kakak yang memilih untuk meninggalkan apartemen dan tinggal bersama---" Alisha tak melanjutkan kata katanya, namun matanya sengaja melirik ke arah Erik yang maasih diam melihat situasi, akan terasa aneh jika dia ikut masuk ke dalam ranah masalah keluarga Mira sementara dirinya bukan siapa siapa gadis itu, meski setahu Alisha dirinya adalah kekasih kakak tirinya,
"Kau sengaja melakukan ini semua, berkoar koar di depan orang banyak agar aku terlihat sebagai anak durhaka, kakak yang jahat, dan wanita murahan karena tinggal bersama pria tanpa ikatan kan ? Cih, kau pikir aku peduli ? Kau salah mencari musuh anak kecil !" ucap Mira lirih, tepat di sebelah telinga Alisha yang sedikit kaget ternyata Mira bukan wanita lemah yang gampang dia tindas.
Alisha tersenyum miring,
"Aku suka gaya mu, sepertinya permainan kita akan sebanding, kau jaga baik baik pacarmu, karena apapun yang aku inginkan aku pasti akan mendapatkannya , kakak !"Balas Alisha yang sepertinya engibarkan bendera perang pada Mira.
"Maka ambilah jika kau mampu, jalllang !" Mira menabrak kasar bahu Alisha dan keluar dari ruangan Erik tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada bosnya itu.
"Mira !" panggil Erik, saat melihat asistennya melenggang pergi membawa kekesalan.
"Kak Erik, sudahlah, kak Mira sudah mengijinkan aku mewawancarai mu, tolonglah, sekali ini saja !" mohon Alisha setengah memaksa.
"Apa mau mu,? Apa yang ingin kau tanyakan padaku ? Waktu mu lima menit tidak lebih !" Ucap Erik, dia tau tipe wanita seperti Alisha yang akan terus mengganggu jika keinginannya belum terpenuhi, dan Erik akan menerima wawancara Alisha agar wanita itu tidak menganggu Mira dan dirinya lagi.
"Oh ayolah kak, yang benar saja, lima menit ?" protes Alisha.
"Lima menit atau tidak sama sekali !" tegas Erik, matanya terus tertuju pada pintu ruangan yang terbuka lebar, berharap Mira kembali masuk kembali ke ruangan itu secepatnya, namun harapan tinggal harapan, sampai waktu istirahat siang habis Mira tak kunjung kembali ke ruangannya, sementara Alisha setelah wawancara selama lima menit, wanita itu langsung di usir paksa oleh sekretaris Erik yang menemani selama Alisha mewawancara dirinya.
Rasanya sudah ratusan kali Erik menghubungi ponsel Mira, namun tak pernah bisa terhubung, sepertinya Mira sengaja mematikan ponselnya.
__ADS_1
Erik mulai di selimuti rasa cemas dan gelisah, dia ingat terakhir kali Mira meninggalkan ruangan itu dengan wajah kesal, sebelummya juga dia sepertinya masih merasa kesal pada dirinya.
Akhirya Erik meninggalkan ruangannya, mencari tahu lewat cctv kantor kemana Mira pergi, ternyata Mira pergi meninggalkan kantor degan mengendarai motornya siang tadi.
Eril membelah jalanan dengan mengendarai mobilnya sangat pelan, berharap Tuhan mempertemukannya dengan Mira tapa sengaja di jalan atau di mana pun, hatinya kacau sekali, dia tak menyangka, hanya di tinggal Mira beberapa jam saja dirinya sudah kalang kabut seperti itu.
Nasib baik sepertinya berpihak padaya, Tuhan benar benar mendengar permintaan Erik, dia melihat Mira yang keluar dari sebuah mini market dan melaju kembali dengan motor matik kesayangannya.
Erik mengikuti kemana Mira pergi dari belakang, dan ternyata masuk ke sebuah klub malam yang rasanya sudah lama tidak dia sambangi semenjak tinggal bersama Mira, begitu pun Mira, setahu Erik gadis itu tak pernah lagi keluar malam semenjak tinggal bersama dirinya, tapi untuk apa Mira siang siang begini datang ke klub malam yang masih tutup.
Erik memarkirkan kendaraannya agak jauh dari pandangan Mira,dia tak ingin gadis itu tau kalau dirinya mengikutinya sampai ke tempat itu.
Namun saat Erik akan masuk ke tempat itu, seorang security menahannya,
"Maaf, klub masih tutup, dan hanya karyawan yang boleh masuk !" ucap scurity itu menghentikan langkahnya.
"Tapi, pacar saya di dalam ! Barusan saja dia masuk, saya harus bertemu dengan nya," ucap Erik beralasan.
"Saya punya kartu keanggotaan klub ini,!" Erik mengeluarkan kartu keanggotaan vvip klub itu agar dia di perbolehkan untuk masuk.
"Maaf pak, kartu anda bisa di gunakan saat jam operasional klub sudah berjalan, sekarang kami masih tutup!"
"Om, ada apa ini ? Kok Om ribut ribut di sini ? Maaf pak, dia bos saya !" ucap Mira pada security yang langsung mengangguk tanda mengerti.
"Om? Kenapa ? Om belum jawab pertanyaan ku" Mira memicingkan matanya meminta penjelasan.
"Aku mencari mu sejak tadi, ponsel mu tak bisa di hubungi, lalu aku tak sengaja melihat mu masuk ke sini, aku menyusul mu masuk, tapi security melarang ku masuk," urai Erik mendetail.
"Daya ponsel ku habis, ponsel ku mati, maaf aku tak meminta ijin saat pergi, Regan sakit dan meminta ku membelikan obat dan beberapa makanan." terang Mira,
__ADS_1
Mira memutuskan untuk kembali ke kantor bersama Erik, sedangkan morornya dia titipkan di sana.
"Apa kamu sedekat itu dengan Regan ?" Erik meembuka pertanyaannya
"Ya, hanya dia yang aku punya di dunia ini !" jawab Mira.
"Kalian pacaran ?" tanya Erik lagi hati hati, Mira menggeleng.
"Atau pernah pacaran ?" sambung Erik.
"Tidak, kami berteman,hanya berteman tidak lebih, dan berharap tidak akan lebih dari itu," ucap Mira.
"Lalu, apa yang kamu harapkan dari kebersamaan kita ?" tanya Erik.
"Aku tidak berani berharap apapun !" jawab Mira, meski hati kecilnya berteriak mengatakan kalau dirinya berharap bisa menjalin sebuah hubungan dengan Erik meski itu tak mungkin.
"Bagaimana kalau aku meminta mu untuk kita mencoba semuanya dari awal, ayo kita coba memulai sebuah hubungan !" ucap Erik yang benar benar tanpa Mira duga sebelumnya kalau Erik akan mengatakan hal itu.
"Om yakin sudah bisa melupakan masa lalu ? Sudah bisa melupakan mantan istri dan merelakan dia pergi dengan kehidupan barunya ?" tanya Mira yang tak mendapat jawaban apaun dari pria yang terlihat seperti sedang berpikir keras itu.
"Om, aku tak mau di jadikan objek coba coba, dan aku juga tak mau hanya menjadi sebuah opsi, jika aku tak akan pernah menjadi prioritas," tegas Mira menohok jantung Erik, pria itu menepikan kendaraannya dan meraih kedua tangan Mira,
"Aku tak berani menjanjikan apapun pada mu, tapi aku ingnin mengatakan apa yang aku rasakan, aku merasa bahagia bila bersama mu, aku mulai bisa merelakan masa lalu sejak aku bersamamu, aku juga merasa cemas dan hawatir jika jauh dari mu, aku selalu ingin melindungi mu, tak bisa berdiam diri jika ada yang mencoba mengusik mu, apa kamu tau apa arti perasaan yang aku rasakan untuk mu itu ?" Erik mencium kedua tangan Mira yang berada di genggamannya itu.
"Aku tak tau, aku hanya takut,,, takut kalau ini hanya pelarian mu saja,!" ucap Mira tertunduk tak berani menatap mata Erik yang menyimpan berjuta harap padanya.
"Aku sudah tak ingin lari kemana pun, sepertinya aku sudah menemukan rumah yang nyaman untuk ku bernaung, di sini, ya di sini aku merasa nyaman," Erik menunjuk dada Mira.
"Jadi, maukah kamu mencobanya, menjalani hari sebagai pasangan ku ?" tanya Erik lagi.
__ADS_1
"Ayo kita mencobanya !" ujar Mira yakin,