
Suasana hati Mira sedang sangat buruk malam ini, Mira memilih untuk pergi ke klub tempat sang sahabat, yaitu Regan bekerja.
"Kenapa wajah lu di tekuk gitu cumi ? Bukannya harusnya lu seneng, dua hari lagi wisuda !?" tegur Regan saat melihat Mira duduk di meja bar berhadapan dengan dirinya yang sedang asik mencampur dan meracik minuman.
"Gue Bete, mak gue di telpon gak mau ngangkat, di chat juga gak bales, padahal gue juga pengen kali, kaya orang normal lainnya, wisuda di temenin orang tua !" keluh Mira.
"Mak lu sibuk kali, jadi nya belum sempet bales chat lu !" ucap Regan.
"Iya, mak gue emang sibuk, sibuk ngelonin suami baru nya ! Bodo ah, gue mau sewa tukang becak apa tukang gorengan pinggir jalan buat nemenin gue wisudaan !" ucapnya frustrasi.
"Udah lah, gak usah terlalu di pikirin ! Nih, buat lo, gue yang traktir !" Regan menyodorkan segelas whisky,
"Kalo masih kurang gue kasih sebotol botolnya, yang penting lu jangan sedih ! Gue lanjut kerja, ya !" sambung Regan sambil tersenyum manis.
Mira mengangguk,
wanita itu termenung sambil menikmati minuman gratisan yang di berikan sahabat baiknya itu, dia benar benar merasa menjadi manusia yang paling tidak beruntung di dunia ini,
Bagaimana tidak, sejak Mira masuk SMU, dia harus tinggal sendirian di apartemen yang dia beli dari uang warisan yang di tinggalkan ayahnya untuk dirinya yang merupakan anak satu satunya itu.
Ayahnya Mira yang seorang pengusaha meninggal dunia saat Mira duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama, akibat penyakit jantung yang di deritanya, setahun kemudian ibunya memutuskan untuk menikaah lagi dengan pria warga negara asing dan berniat mengajak Mira untuk ikut pindah bersama mereka ke negara asal ayah tirinya itu, tapi Mira menolaknya, dan lebih memilih untuk tinggal sendiri di negaranya sendiri.
Ibunya Mira memberikan rumah, dan segala aset yang dia punya saat menikah dengan almarhum suaminya untuk Mira, dengan catatan dia tak boleh mengganggu kehidupan rumah tangga baru ibunya, karena ibunya sangat kecewa Mira tak mau di ajak tinggal bersamanya.
Sejak pindah ke luar negri dan mempunyai kehidupan baru beserta anak dan suami barunya, ibunya tak pernah menelpon atau sekedar menanyakan kabarnya walau pun hanya lewat pesan, sejak itu lah Mira yang hidup sendiri menjalani hidup bebas tanpa aturan dan semaunya sendiri, termasuk menjual rumah besarnya lalu membeli sebuah apartemen tipe studio, hanya karena dirinya tak ingin kesepian di rumah yang luas itu.
Begitu pun dengan gaya hidupnya yang kadang suka clubing dan minum minuman beralkohol, walaupun tidak begitu sering, itu hanya di lakukan setiap dirinya merasa sedih, bete dan kesepian, dia pasti pergi ke tempat hiburan malam, apalagi sang sahabat juga bekerja di tempat itu, jadi dia tak merasa takut meski harus ke tempat sarang maksiat itu sendirian.
"Beri aku dua gelas minuman yang biasa, !" terdengar suara bariton seorang pria yang duduk di sebelahnya itu memesan minuman.
Mira tak memperdulikan apa yang terjadi di sekitarnya, dia hanya fokus pada gelasnya, sampai bahunya di tepuk seseorang dari arah belakangnya.
"Mira Anisa !" panggilnya.
Mira spontan memutarkan kepalanya melihat siapa orang yang sudah dengan lancang menyentuhnya.
"Eh, bapak !" gugup Mira yang tadinya sudah mau memasang mode ngamuk di wajahnya malah ciut ketika ternyata yang berada di hadapannya adalah Kemal sang dosen pembimbing.
__ADS_1
"Gadis clubing juga rupanya !" seloroh Kemal tersenyum miring.
"Dan anda, dosen penikmat hiburan malam juga rupanya !" balas Mira kesal karena merasa Kemal meledeknya, lagi pula dia sudah akan wisuda, jadi tidak perlu takut lagi dengan dosen pembimbingnya itu.
Erik yang datang bersama Kemal malam itu merasa tergelitik untuk melihat siapa yang menjadi lawan bicara Kemal yang biasanya tak pernah tertarik dengan wanita di tempat hiburan malam itu.
Erik melongokkan kepalanya dari balik tubuh Kemal yang berdiri menghalangi pandangannya ke arah wanita yang ingin dia lihat itu.
"Hai Om ! Kita berjumpa lagi ! Ponsel om sudah saya titipkan sama pak dosen ini, udah nyampe kan ? Jangan jangan di jual lagi !" oceh Mira sekenanya.
Untuk pertama kalinya semenjak kepergian Citra, bibir Erik membentuk senyuman meski hanya sekilas dan beberapa detik saja.
"Kau bilang, pihak klub yang menyimpan dan memberikan ponsel ku pada mu ?" bisik Erik pada asisten nya itu.
"Emh, anu, itu..." Kemal bingung karena kebohongannya terbongkar.
"Sudah lah, tak penting ! Yang penting ponsel ku sudah kembali, aku tak peduli siapa yang mengembalikannya," ucap Erik cuek..
Mira lantas membuang muka dari kedua pria itu dan kembali menikmati minuman setannya.
Namun sejurus kemudian, dia teringat sesuatu, dia tersenyum iblis.
"Apa kau ingin aku mentraktir minuman mu lagi ?" ketus Erik sambi menarik diri agak menjauh dari Mira, dia sangat tak senang bila tubuhnya di sentuh perempuan lain selain Citra, sang mantan istri, dia seakan merasa bersalah dan menghianati istrinya jika dia berdekatan dengan perempuan selain Citra, tanpa dia sadari kalau sekarang hubungannya dengan Citra sudah lama karam.
"Santai Om, saya bukan pelakor, walaupun Om ganteng banget, tapi saya tau kok, om sudah punya istri, gitu amat ekspresinya !" kesal Mira mengomentari sikap Erik yang di nilainya terkesan berlebihan.
"Lagian, saya tak perlu di traktir Om, Regan sudah mentraktir saya, nih !" Mira mengangkat botol whisky yang tergeletak di depannya.
"Lalu, apa mau mu ?" tanya Erik sinis.
"Om, anda lupa dengan janji anda sendiri ?" tanya Mira.
Erik mengerutkan keningnya, tak banyak yang dia ingat saat pertemuannya dengan Mira saat itu, yang dia ingat hanya mereka mabuk dan dia mentraktir wanita itu minum.
"Om bilang kan, kalau saya berhasil mengalahkan om minum dan meminum setengah botol minuman yang om pesan, saya boleh meminta apa pun dari om !" Mira mengingatkan.
"lalu ?" tanya Erik dengan tampang yang cukup menyebalkan menurut Mira.
__ADS_1
"Apanya yang lalu ? Om tepar ! Kalah minum dari saya, jangan pura pura lupa deh ! kayak nya belum tua banget, tapi kok ya udah pikun !" cicit Mira kesal dengan pria yang seakan pura pura tak ingat janjinya itu.
"Heh ! Jaga ucapan mu, kau bilang aku pikun ?" Erik membelalakan matanya.
"Aku mau menagih janji om, janji adalah hutang !" ucap Mira.
"Kau mau minta apa, uang ? Tas ? baju ?" tanya Erik meremehkan, pria itu menatap penampilan Mira dari atas ke bawah, lagi lagi gadis itu tampil nyeleneh mendatangi klub malam ternama seperti ini.
Mira lagi lagi mengenakan celana jeans robek andalannya dan kaos oblong longgar dengan sneakers yang sudah kumal, bukannya dia tak mampu beli, hanya saja Mira adalah tipe cewek yang tak begitu peduli soal fashion, buatnya selama itu terasa nyaman di pakai di tubuhnya, dia tak akan peduli omongan orang.
"Sayangnya saya tidak butuh itu semua," tolak Mira.
"Jangan bilang kau minta menjadi sugar baby ku !" ejek Erik.
"Ya Tuhan,,,! Ampunilah dosa laki laki ini, jangan turunkan azab yang berat untuk nya, dia sudah tua tapi mulutnya sangat pahit, bahkan lebih pahit dari minuman ku ini !" oceh Mira sambil menengadahkan kedua tangannya seraya sedang berdo'a khusyu.
"Kau !!! Cepat katakan apa mau mu !" teriak Erik kesal dengan jari telunjuknya yang sudah terangkat dan berada di depan wajah Mira.
"Dampingi saya di acara wisuda dua hari lagi, please !" Mira menangkup kan kedua telapak tangannya di dada seraya memohon.
"Maksudnya, aku harus pura pura sebagai siapa mu ?" tanya Erik menautkan kedua alisnya.
"Bebas, anda bisa berpura pura jadi ayah ku, jadi paman ku, atau jadi kakek ku terserah apa pun asal anda nyaman dan mau mendampingi saya wisuda," oceh Mira.
"Apa tak ada pilihan lain selain yang tadi kau sebutkan, ayah, paman, kakek ?" Erik memutar matanya.
Kemal yang sejak tadi mengamati obrolan Erik dan mahasiswi nya itu, sengaja tak menyela pembicaraan di antara mereka, dia hanya sesekali tersenyum dan kadang menahan tawa saat Erik menoleh ke arah nya.
Kemal merasa senang karena baru kali ini ada wanita yang berhasil membuat Erik mau mengobrol lebih dari tiga kata dengan lawan jenis, biasanya duda tampan itu selalu menghindari berbicara dengan wanita mana pun, kalaupun terpaksa kata yang dia keluarkan hanya seputar tiga kata ajaib, yaitu 'ya, tidak, dan Mungkin !'
Tapi Mira bisa mancing Erik untuk mengobrol meski obrolan nya ketus dan terkesan sinis.
"Baiklah, agar terkesan lebih meyakinkan bagaimana kalau anda berpura pura menjadi orang tua saya, anda bisa mengajak istri anda untuk berpura pura menjadi ibu saya, kan saya juga sebelas dua belas lah cantiknya sama istri om, jadi masih pantes lah jadi anak kalian ?!" cengir Mira sambil mengedip ngedipkan matanya memohon.
Erik tiba tiba terdiam saat Mira menyinggung tentang istrinya, rona wajahnya pun berubah tegang.
"Akan aku usahakan untuk datang, semoga saja ada waktu luang !" ketus Erik yang lantas mengajak Kemal untuk segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Om, janji ya ! Ingat, laki laki sejati memenuhi janjinya !" teriak Mira, meski Erik tak menengok sama sekali ke arahnya, tapi dia yakin Erik pasti mendengar teriakan nya.