
Hari yang di tunggu tunggu akhirnya tiba, pernikahan akbar yang membuat banyak wanita patah hati itu menarik perhatian banyak peliput berita juga menggegerkan para pelaku bisnis karena kebanyakan dari mereka tak pernah menyangka Erik akan menikah lagi secepat itu, apa lagi setelah tau ternyata calon mempelai wanita nya adalah asisten pribadinya yang baru baru ini di angkatnya.
Kasak kusuk di kantor pun tak terelakan, mereka saling bergosip tentang Mira yang menggunakan ilmu pelet lah, menjual tubuhnya lah, pokoknya banyak asumsi yang bergulir di kalangan para karyawan, meski pun begitu, tak sedikit juga yang mendukung dan ikut bahagia dengan pernikahan bos besarnya itu.
Mira terlihat cantik dalam balutan busana pengantin berwarna putih dengan model yang sederhana dan riasan wajah yang sangat natural, namun begitu justru dirinya malah terlihat tampil sempurna dengan semua itu, hampir semua tamu yang datang memuji aura kecantikan yang terpancar dari mempelai pengantin wanita yang tampak hanya di dampingi Regan dan Roni sebagai pengganti pendamping keluarganya.
"Lu cantik banget cumi ! Gue gak nyangka lu bakal jadi milik orang lain secepat ini," ucap Regan tersenyum walau demi Tuhan hatinya teramat sangat perih, bagaimana tidak,,, Regan menyimpan rapi rasa cintanya di hati terdalam dan di kemas dengan persahabatan tulus untuk eanita teristimewa yang selalu ada di setiap sedih dan bahagianya.
"Makanya, kalau suka itu bilang, kalau sayang itu nyatain, kalau cinta itu ungkapin ! Nyesel kan lo !" timpal Roni dengan gaya ledekan yang sebenarnya jujur dari lubuk hatinya untuk adik nya.
"Apaan sih sih, bang !" sergah Regan terlihat gugup serba salah.
"Iya, lu mah, cemen ! Udah tau gue cantik, baik hati, bisa bisa nya lu ga tertarik sama gue, aneh, jangan jangan lu sukanya sama cowok, lagi !" sungut Mira di tengah perjalanannya menuju tempat upacara pernikahan,
"Ish, cumi,,, gue waras dan normal, kali ! Lagian kalau gue nyatain cinta sama lu, emang nya lu mau terima, terus lari sama gue gak jadi nikah sama om om mu itu ?" kata Regan.
"Jelas lah,,, jelas gue tolak ! Gue cinta banget sama cowok yang lu bilang om om itu," ucap Mira dengan senyum jahilnya.
"Udah, udah,,, nih udah mau sampe pintu, malah pada becanda, serius dikit napa !" lerai Roni.
Mira berjalan dengan anggun di apit Roni dan Regan di sisi kanan dan kirinya, wajahnya langsung tersenyum merekah saat Erik datang menghampiri dan menjemputnya, merebut dia dari apitan Roni dan Regan.
Tangan kanan Erik terulur menyambut kedatangan calon pendamping hidupnya, dengan tatapan mereka yang saling terkunci.
Mereka berjalan berdampingan menuju tempat upacara pernikahan,
"Kamu cantik sekali sayang,!" bisik Erik, saat mereka berjalan bergandengan tangan.
__ADS_1
"Aku tau, Regan sudah mengatakannya pada ku puluhan kali sejak tadi pagi !" ujar Mira.
"Ish, harusnya aku yang pertama mengatakan itu pada mu !" cebik Erik.
"Tapi aku akan menjadi wanita pertama yang mengatakan kalau kamu pria tertampan yang pernah aku temui di selama hidup ku, sayang !" goda Mira mengeratkan tautan tangannya, Erik pun spontan tersenyum dan melirik gemas.
"Lebih baik kamu berhenti menggoda ku, atau aku akan memakan mu di sini sekarang juga !" kata Erik dengan mengedipkan sebelah matanya genit.
"Auuww !" Erik meringis saat cubitan tangan Mira yang bak capit kepiting mendarat di pinggangnya, kontan saja itu menjadi pusat perhatian beberapa tamu undangan yang hadir.
***
Upacara pernikahan telah selesai dan di lalui dengan khidmat, kini Erik dan Mira yang sudah berubah status menjadi sepasang suami istri itu berdiri mengembangkan senyumnya pada setiap tamu yang hadir dan memberinya selamat dan juga do'a.
Sayangnya kebahagian sepasang pengantin itu berbanding terbalik dengan seorang wanita yang kini berdiri jauh dari podium, namun matanya selalu mengarah ke pasangan pengantin baru itu.
'Mengapa rasanya se pedih ini, saat melihatnya berbahagia. Terlalu cepat dia berpaling dan melupakan rasa cintanya padaku yang sebelumnya terasa sangat besar dan luas, bahkan rasanya cinta Erik pada ku tak kan pernah tergantikan, aku tak rela dia bersama orang lain, Erik harus kembali mencintaiku, hanya dia yang selalu mengerti dan menyayangi ku, ya,,, aku harus merebutnya kembali, bagaimana pun itu caranya !' perdebatan batin yang terjadi pada diri Citra saat ini sepertinya melibatkan sisi iblisnya yang keluar dengan sendirinya karena rasa egois dan cemburu yang memenuhi hatinya.
"Kau pasti sedang menyesal sekarang, karena tak punya lagi kesempatan untuk menyatukan ayah dan anaknya dalam satu keluarga yang utuh, dia sudah menjadi milik orang lain !" suara seorang pria yang tak asing di telinganya membuyarkan segala lamunannya.
"Kau ? Apa maksud mu ? Ayah dan anak siapa yang kau maksud ?" Citra buru buru menyeka air matanya yang seakan berlomba lomba terjun dari pelupuk matanya dan tak membiarkan pipinya mengering semenjak upacara pernikahan Erik dan Mira di mulai tadi.
"Tentu saja ayah dan anak mu, jangan kau pikir aku bodoh, serapat apa pun kau menyembunyikannya, bangkai pasti akan tercium baunya !" sarkas Roni.
"Kau,,, dari mana kau tau semua itu ?" tangan Citra terkepal, dia baru menyadari, ternyata perubahan sikap Roni karena tentang Jemi.
"Tentu saja aku tau, aku memberi mu banyak waktu untuk mengatakan semuanya dengan jujur pada ku, tapi mulut mu itu selalu bungkam dan terkunci, aku akan mengirim gugatan cerai pada mu !" pungkas Roni kesal.
__ADS_1
"A-apa, cerai ?" Citra sedikit terkejut mendengar perkataan Roni padanya, tapi dia itu tak membuatnya gentar, karena dia sudah memutuskan untuk kembali mengejar Erik, jadi bercerai dan kehilangan Erik bukan suatu masalah besar lagi untuknya.
"Maka uruslah ! Ku pastikan, kau yaang akan menyesal !" sinis Citra, dia menaikan dagunya dengan tatapan mata tajamnya seakan menantang Roni.
"Oke, wait and see, darling !" seloroh Roni menjawil dagu Citra sambil tersenyum melecehkan.
Saat acara sudah hampir selesai, Alisha datang menghampiri Erik dan Mira yang hendak beranjaak meninggalkan gedung menuju hotel tempatnya menginap.
"Kak, aku ingin menyampaikan permohonan maaf dari ibu, karena tak bisa hadir di acara pernikahaan kakak, karena tiba tiba ibu sakit," wajah Alisha terlihat sendu, tidak menyebalkan seperti biasanya.
"Aku bahkan tidak pernah berharap dia akan datang, aku sudah terbiasa melewati hari hari penting tanpa kehadiran ibu mu !" sinis Mira.
"Tapi kak, ada yang ingin aku sampaikan, ibu sebenarnya sakit parah, dia terkena kangker, dan hidupnya tidak akan lama lagi, apa tidak sebaiknya kakak berbaikan dengan ibu ?" Alisha tiba tiba bersikap manis dan bijaksana.
"Semoga penyakit ibu mu lekas sembuh dan perlu kau ketahui aku selalu bersikap baik padanya selama ini," jawab Mira seolah tak peduli, dia bahkana meninggalkan Alisha yang terus menerus mengajaknya berbicara.
"Kak,,,, Ibu menginap di hotel yang sama dengan tempat mu menginap, mampir lah di kamar 501 !" teriak Alisha saat Erik dan Mira semakin menjauh meninggalkannya.
"Sayang, kamu terlihat cemas, apa kamu ingin menemui ibu mu ?" tanya Erik yang menebak kalau saat ini istrinya sedang memikirkan apa yang di sampaikan Alisha padanya.
Erik tak menyalahkan Mira, karena mau bagaimana pun, Tita tetaplah ibunya.
"Ah, tidak. aku tak peduli apa pun yang terjadi pada dia !" sangkal Mira.
"Tapi raut wajah mu mengatakan sebaliknya, sepertinya kamu terlihat cemas, apa sebaiknya kita temui ibu mu bersama ?" tawar Erik.
"Tidak, tidak. Sudahlah, ini malam pengantin kita, mungkin Alisha sengaja ingin mengacaukan pikiran ku !" tepis Mira mencoba menyangkal kekhawatirannya yang hampir saja mengambil alih fokusnya.
__ADS_1