
Tita kembali ke apartemen menemui Alisha, dia harus memastikan siapa ayah dari bayi yang di kandung anak tirinya itu, karena sepertinya Erik dengan begitu yakin kalau dia tidak merasa pernah berhubungan dengan Alisha.
Jauh di lubuk hatinya, Tita sebenarnya berharap kalau anak itu adalah hasil perbuatan Alisha dan Erik, karena tentu saja itu akan semakin mengubtungkan dirinya karena dapat menekan pengusaha terkenal itu agar menikahi Alisha juga, sehingga dirinya akan sangat tenang dan bahagia karena kedua putrinya menjadi istri Erik sang pengusaha yang bisa menjadi tambang uangnya, menjamin kebahagiaan di hari tuanya.
Namun jika ternyata Alisha mengandung bayi dari pria lain, apalagi bukan dari kalangan atas, dia sudah bertekad untuk menjadikan semua agar sesuai dengan harapannya.
"Alisha, cepat katakan, siapa sebenarnya ayah dari bayi mu itu ? Erik menyangkal pernah berhubungan dengan mu !" Tita memicingkan matanya, menatap tajam Alisha yang duduk memeluk lututnya di lantai.
"Siapa pun ayah bayi ini sebenarnya, aku hanya ingin kak Erik yang menjadi suami sekaligus ayah dari bayi ini !" ucap Alisha bergeming, tak memberitahu ibu tirinya perihal siapa ayah biologis bayi yang di kandungnya itu.
"Kau ini, benar benar membuat kepala ku pening ! Apa kau tak tau ada alat yang namanya kontrasepsi ? Mengapa kau begitu bodoh !" umpat Tita kesal.
"Sudahlah, mom ! Jika tak bisa membantu atau memberi ku solusi, setidaknya jangan memarahi ku, kalau tidak, sebaiknya mon pergi saja !" sinis Alisha.
"Kau mengusir ku ? Kau bisa apa tanpa bantuan ku ? Tidak usah manja seperti ini, ayo ikut aku ke rumah sakit !" ajak Tita.
"Apa mom mau menggugurkan bayi ini ?" Alisha tampak ketakutan.
"Tentu saja tidak, bayi mu itu akan menjadi tiket untuk menjadikan mu nyonya muda Erik Wijaya,!" Tita menyeringai, tatapannya tampak mengerikan.
"Tapi bagaimana caranya, bayi ini jelas jelas bukan anak nya, mana bisa seperti itu," ucapan Alisha terdengar pesimis.
"Itu urusan ku, kau hanya bertugas menjaga kesehatan mu dan bayi mu saja !" tegas Tita.
"Apa itu berarti mom menginginkan aku menjadi istri kedua kak Erik ?" tanya Alisha.
"Ya,,, paling seperti itu, meski aku lebih berharap kalau kamu yang menjadi nyonya Erik Wijaya satu satunya !" ujar Tita, yang lagi lagi tersenyum karena lamunan manisnya.
__ADS_1
***
Sepasang mata terus memperhatikan gerak gerik Tita dan Alisha, dan mengikuti kemana pun mereka melangkah di rumah sakit ternama itu secara diam diam, berjuta pertanyaan mulai muncul dan menari nari di benaknya saat dua wanita itu memasuki ke dalam ruang poli kandungan.
"Usia janin dalam kandungan mu masih satu bulan, belum begitu kentara, kita harus gerak cepat, sebelum perut mu semakin membuncit, dan aku akan segera berbicara dengan Mira, aku sudah menyuruhnya untuk bertemu kita di restoran dekat sini," ucap Tita.
Mira tampak sudah duduk sendirian di sebuah kafe sesuai arahan Tita di telpon, tadi ibunya itu begitu memaksanya agar bertemu dengannya untuk membicarakan hal penting, dan Tita juga mewanti wanti agar Mira harus datang.
"Kalian lama sekali, ada banyak hal yang harus aku kerjakan selain berbicara hal tidak penting dengan kalian !" sinis Mira, sebenarnya dia sangat malas meladeni Tita dan juga adik tirinya itu, namun sepertinya dia juga begitu penasaran atas apa yang akan mereka bicarakan padanya.
"Diam kau, bukan saat nya kau membuka mulutmu dengan mengeluarkan kata kata yang tidak pantas untuk ibu mu ini, sekarang ini waktunya kau membuka telinga mu lebar lebar dan dengarkan omongan ku baik baik !" hardik Tita dengan kasar.
Mira hanya membuang jauh jauh pandangannya dari ibu dan adik tirinya yangp duduk berhadapan dengannya saat ini, sungguh muak dan malas walaupun hanya sekedar melihat tampang mereka, bukan berniat durhaka pada orang tua, tapi rasa sakit hatinya terkadang menutupi semua itu.
"Dengar baik baik, ini hasil usg janin di perut adik mu !" Tita menyodorkan sebuah amplop putih berisi selembar foto hasil usg dan kertas keterangan yang Mira tak mengerti menjelaskan tentang apa.
"Tentu saja ada, aku ingin kau membujuk suami mu untuk menikahi adik mu ini, apa kau tak kasihan padanya harus membesarkan bayi seorang diri, laagi pula di berita berita bukannya sudah tersebar tentang kebersamaan suaminmu dengan Alisha di hotel, semua orang pasti akan langsung menuduh suami mu yang menghamilinya, ingat,,,, hujatan dari netizen itu akan sangat kejam pada mu dan suami mu bila sampai Alisha keburu terlihat membuncit !" urai Tita di bumbui ancaman dan sedikit menakut nakuti.
"Maksud mu, dia harus menjadi madu ku ?" kontan saja Mira tertawa geli.
"Apa yang kau tertawakan ? Bukan nya bagus, suami mu menikah lagi dengan adik mu, daripada menikah lagi dengan orang lain ?" Tita melotot.
"Kau itu seorang wanita, seorang ibu, sungguh aku malu punya ibu seperti mu, apa kau masih waras ibu ? Sampai mati pun aku tak akan pernah membagi suami ku kepada wanita mana pun !" tegas Mira yang merasa ibunya itu sudah mulai terganggu jiwanya.
"Mira, ini demi menyelamatkan adik mu, menyelamatkan nama baik keluarga kita !" ujar Tita dengan suara yang agak meninggi.
"Adik ? Aku anak tunggal, ibu,,, apa kau mulai pikun ? Dan nama baik keluarga ? Keluarga yang mana yang harus aku selamatkan nama baiknya, sementara aku tak punya keluarga selain suami ku ! Kalian membuang buang waktu ku untuk hal bodoh seperti ini !?" Mira bangkit dari duduknya, dia tak ingin ikut ikutan tak waras seperti ibu dan adik tirinya itu bila dirinya semakin berlama lama di sana.
__ADS_1
"Tunggu, aku sudah minta pada mu secara baik baik, jadi... jangan salahkan aku jika aku menggunakan cara yang tidak kau duga !" ucap Tita geram, entah setan apa yang merasukinya, sampai hati dia berkata seperti itu pada darah dagingnya sendiri.
"Lakukanlah semau kalian, semoga beruntung !" jawab Mira dengan malas, sungguh dia merasa menyesal telah memenuhi undangan pertemuan Tita, karena hanya membahas hal yang tak ada faedahnya sama sekali menurutnya.
"Alisha, kita perlu bicara !" seorang pria tiba tiba berdiri di antara mereka.
"Niko !" ucap Mira dan Alisha bersahutan.
Wajah Alisha berubah pucat saat melihat wajah Niko ada di hadapannya,
"Apa yang kau lakukan di sini ?" kegugupan Alisha masih sangat tampak jelas meski dia berusaha untuk tetap tenang.
"Aku sudah mengikuti mu dari tadi saat kamu di rumah sakit," ucap Niko, matanya bak pedang yang tak hanya menghunus mata Alisha, tapi juga menghunus jantung Alisha yang saat itu berdegup sangat kencang.
"Kau,,, kau mengikutiku ? Kau menguntit ku ? Aku akan melaporkan mu pada polisi !" ucap Alisha dengan suara yang sedikit bergetar.
"Anak itu, apa anak itu adalah milik ku ?" tatapan mata Niko turun menatap perut Alisha yang masih rata, lalu berpindah melirik amplop putih yang tergeletak di atas meja.
"Bukan, ini anak ku dan kak Erik !" Alisha meraih dengan cepat amplop putih itu dan merremassnya karena saking gugupnya.
"Berhenti bersikap menyedihkan seperti itu, Erik suami kakak mu, Erik juga tak pernah menyukai mu, bahkan tak pernah melirik mu, mana bisa kamu punya anak darinya ?!" Niko berusaha meraih dan menggenggam tangan Alisha.
"Kau tak usah ikut campur, ini urusan ku !" pekik Alisha menepis tangan Niko.
"Tidak,, itu bukan hanya urusan mu, tapi juga menjadi urusan ku, karena di perut mu ada janin darpi benih ku !" Niko menunjuk perut Alisha.
"Ups,,, Tuhan sepertinya terlalu cepat membuka kebenaran di sini, baiklah,,, cepat selesaikan urusan keluarga kalian, aku masih ada urusan lain yang lebih penting, dari pada harus mengurusi urusan receh kalian !" sinis Mira dengan tersenyum miring, dan bergegas meninggalkan tempat itu setelah dia sedikit memahami apa yang terjadi.
__ADS_1
'Niko ? Oh, no ! Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka ?' Tanya Mira pada batinnya, sambil tersenyum geli, meskipun sebenarnya dia tak begitu ingin tau, tapi lumayan menggelitik rasa ingin tahunya.