Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Terpojok


__ADS_3

Erik terlihat sibuk berbicara dengan Jaja dan kemal yang sengaja di panggilnya ke rumah malam itu, entah apa yang mereka bicarakan, naamun sepertinya sangat serius, mungkin itu terkait dengan ketegangan yang terjadi tadi siang.


Mira memang sengaja tak ikut berdiskusi dengan para pria, karena dia harus memasak makan malam di temani Yanti.


"Baiklah, segera kirim file ini ke Hartono, dan siapkan juga berkas berkas untuk untuk pembuatan akte Jemi, untuk notaris, nanti aku yang hubungi saja !" ucap Erik pada Kemal mengakhiri diskusinya karena Mira terlihat sudah datang menghampiri mereka untuk segera mengajak menyantap makan malam yang fia buat bersama Yanti.


"Apa sebenarnya yang kamu rencanakan, mas ?" tanya Mira tak dapat lagi menahan rasa penasarannya.


"Aku hanya akan menyudahi drama mereka secepatnya," jawab Erik seraya membetulkan posisi tidurnya,


"Kamu tak ingin bercerita pada ku ?" tanya Mira lagi, menyandarkan kepalanya di dada Erik.


"Aku bisa menyelesaikan nya sendiri, tenang saja !" Erik tersenyum hangat sambil mengecup kepala istrinya, menghirup wangi shampo yang selalu membuat Erik seakan terbius oleh pesona Mira, sang istri.


***


Seperti yang sudah di janjikan hari sebelumnya, siang ini Citra sudah datang ke kantor membawa berkas berkas yang di perlukan untuk membuat akta Jemi yang menyatakan kalau Jemi adalah anak kandung dari Erik.


Di ruang kerja Erik sudah berkumpul notaris, pengacara, Kemal, dan juga Erik yang di dampingi Mira.


Citra melangkah dengan pasti dan duduk bergabung di antara mereka, wajahnya berseri seri, sudah terbayang olehnya bagaimana dirinya nanti akan kembali dekat dan mengambil hati Erik lewat jalan Jemi, sudah dia susun sedemikian rupa juga rencana yang akan di lakukan setelah dirinya berhasil membuat akta itu.


"Apa semuanya sudah siap ? apa yang di tunggu lagi, bukankah semua sudah berkumpul di sini ? ayo kita segera selesaikan semuanya dengan cepat, ini berkas berkas yang kamu perlukan," Citra menyodorkan beberapa lembar kertas yang dia satukan pada sebuah map.


"Tunggu, kita masih menunggu satu orang lagi," ucap Erik, memandang ke arah pintu dimana seorang pria yang baru saja masuk ke ruangannya berhasil membuat wajah Citra pucat seakan tak di aliri darah.


"Ro- Roni ?" gumamnya dengan suara terputus putus.


"Selamat siang semuanya, maaf saya terlambat memenuhi undangan anda pak Erik !" sapa Roni seraya menyalami semuanya satu persatu, tak terkecuali Citra, sikap Roni yang seakan orang asing pada Citra pun membuat dirinya sedikit merasa nyeri, bagaimana pun mereka masih terikat tali pernikahan, meski kini sudah tak se atap lagi.

__ADS_1


"Undangan ? Apa maksud ini semua Erik ? Kenapa kamu melibatkan dia dalam masalah ini ?" protes Citra.


"Tentu saja dia harus terlibat, dia suami mu, dia harus mengetahui semuanya, ayo kita mulai saja, bukankah kau ingin semua ini cepat selesai ?" Erik mengangkat sebelah sudut bibirnya sedikit, memberikan kesan semakin mengerikan penampakan wajah dingin dan arogan itu.


"Tunggu, apa kau menjebak ku ?" mata Citra memicing menatap tajam Erik.


"Apa kau merasa di jebak ? padahal tujuan mu sedari awal ingin menjebak ku ?" Erik terkekeh geli.


"Tidak usah khawatir, aku di sini hanya berperan sebagai saksi saja, kenapa kamu begitu gugup istri ku ?" ucap Roni.


"Kau,,, kau tidak seharusnya melibatkan diri pada masalah ini, kau sudah berselingkuh bahkan di depan mataku !" emosi Citra akhirnya meluap, dan sialnya Roni yang kini menjadi sasaran kemarahannya.


"Halo nyonya yang terhormat, bukannya anda juga berselingkuh dari suami anda lalu menikah dengan ku ? anggap saja Tuhan sedang membuat impas apa yang kamu lakukan !" tutur Roni.


Semua mata yang ada di ruangan itu tertuju pada pasangan suami istri yang sedang beradu mulut dengan sengit itu, saat mereka sadar kalau amereka sedang menjadi tontonan orang orang yang berada di sana, mereka menghentikan perdebatan dengan sendirinya.


"Sudah cukup ? atau masih perlu waktu untuk kalian beradu argumen ? Kami masih bisa menunggu," sarkas Erik dengan wajah datarnya.


"Bagaimana, apa bisa kita lanjutkan ? Notaris sudah menunggu akan mengesahkan dan sebelumnya kau harus membuat surat pernyataan siapa ayah biologis Jemi yang sebenarnya, di tambah bukti pendukung pernyataan mu, karena dalam hal ini, kau mempunyai suami dan kau mengatakan kalau Jemi anak ku," urai Erik panjang lebar.


Mulut Citra seakan terkunci rapat, rak sepatah kata pun terucap darinya, justru sikapnya semakin kikuk dan terlihat gelisah.


"Aku sudah tau sebenarnya, aku tak sengaja menemukan surat hasil tes dna Jemi saat kita akan membawa Jemi pulang dari rumah sakit," beber Roni.


Deg,


Citra sedikit terhenyak.


"Apa perubahan sikap mu pada ku dan Jemi karena surat hasil tes itu ?" tanya Citra dengan suara tercekat, tenggorokannya terasa sakit bahkan hanya untuk bernapas.

__ADS_1


"Seandainya kamu mau jujur, padahal aku sudah sangat menyayangi Jemi seperti anak ku sendiri !" Roni membuang pandangannya jauh jauh dari Citra yang seakan bingung menentukan sikapnya.


"Tapi sepertinya Jemi memang benar benar anak kandung mu," sambar Erik, menyela pembicaraan pasangan suami istri yang sedang tak akur itu.


"Apa maksud mu ?" Roni beralih menatap Erik.


"Tanya saja pada istri mu itu, mengapa anaknya ingin sekali di akui sebagai anak kandung ku ! Kalau aku pribadi dan istri tidak pernah keberatan, anggap saja mengadopsi anak, iya kan sayang ?!" ucap Erik sambil meraih tangan Mira yang sejak tadi hanya diam dan memposisikan diri sebagai penonton dan pendengar yang baik.


"Cukup, kau sengaja ingin mempermainkan ku, kan ?" Citra berdiri dan menunjuk kesal Erik yang tetap duduk dengan angkuhnya.


"Apa kau tak salah menuduh ? Bukannya kau yang sejak semula ingin menjebak dan mempermainkan ku, dengan mengatakan kalau Jemi anak kandung ku ?" sanggah Erik masih tetap mode tenang.


"Hasil tes itu yang membuktikannya, bukan kah kau sendiri sudah melihatnya ? Bahkan golongan darah kalian pun sama !" kelit Citra, terlanjur malu.


"Ribuan orang bahkan mempunyai golongan darah A sama seperti diriku, bukan berarti kami semua ada ikatan darah kan ?" sangkal Erik.


"Apa, golongan darahnya A ? Bukankah itu juga berarti sama dengan ku ?!" cicit Roni.


"Tidak, bukan ! Hasil tes itu menunjukkan kalau Jemi anaknya bukan anak mu !" tolak Citra.


"Lalu apa artinya ini ?!" Erik memberikan lembaran kertas pada Citra dan Erik masing masing satu lembar.


"Kenapa hasil tes yang aku lakukan berbeda dengan hasil tes yang kau berikan pada ku ?" tanya Erik.


"Kau, kau sudah tau tentang ini semua, kenapa seolah olah menyetujui permintaan ku, apa pertemuan ini sengaja di lakukan untuk mempermalukan dan menjebak ku ?" Citra meremas kertas hasil tes DNA yang di lakukan Erik.


"Harus ada bayaran yang setimpal atas apa yang telah kau lakukan, masih untung aku tak melaporkan mu pada yang berwajib karena memalsukan surat hasil tes DNA itu," ucap Erik dingin.


"Katakan, siapa ayah Jemi yang sebenarnya, dengan siapa lagi kau berselingkuh ?!" teriak Roni.

__ADS_1


Tuduhan Roni memang terdengar sangat kejam untuk Citra, tapi dia sadar, dia sudah bertindak sejauh itu, saat ini seperti tak ada celah lagi untuknya membela diri, karena dirinya sepertinya sudah benar benar terpojok.


__ADS_2