Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Niko


__ADS_3

Hari hari Erik dan Mira sebagai sepasang kekasih berjalan dengan manis dan nyaris mendekati sempurna, Kehidupan Erik pun semakin berwarna ceria.


"Nyengir terus, ati ati gigi kering tuh !" ledek Kemal yang kebetulan sedang datang ke Jakarta karena hendak mengadakan pertuan rutin di kantor pusat.


"Ish, kau mulai kurang ajar ya, makanya pacaran, jangan jomblo terus !" jawab Erik yang melemparkan senyum manisnya pada sang kekasih yang sedari tadi hanya mesem mesem memperhatikan interaksi dua orang sahabat yang lama terpisah itu.


"Bagaimana aku bisa pacaran kau memberi ku tugas yang banyak sekali, aku bahkan harus cuti mengajar gara gara kau membuangku ke luar pulau demi pedekate mu dengan--- ah, sudahlah, aku ikut bahagia dan sangat bahagia kau menemukan kembali kebahagiaan mu !" kata Kemal yang tiba tiba menjadi melow.


Bagaimana Kemal tak merasa terharu dengan perubahan yang Erik alami saat ini, dia saksi hidup di saat saat masa terpuruknya Erik, bahkah dirinya hampiar saja kehilangan harapan dan mengira kalau Erik tak akan pernah kembali merasakan indahnya jatuh cinta dan kesedihannya membuat dia tenggelam dalam keterpurukan di sepanjang sisa umurnya.


Namun ternyata kebahagiaan itu mampir ke diri Erik dalam waktu yang tidak begitu lama, bahkan terlihat sepertinya lebih bahagia dari sebelumnya.


"Semangat pak dos ! Sebentar lagi jodoh untuk pak dos segera otewe !" ucap Mira mengepalkan tangannya ke udara dan di sambut tawa renyah Erik dan Kemal.


Karena ada Kemal, untuk kegiatan Erik hari ini di temani Kemal, sedangkan Mira di ijinkan untuk mengambil libur seharian penuh, karena kegiatan Erik dan Kemal akan full sampai malam hari.


***


Sudah jam sembilan malam tapi tak ada tanda tanda Erik akan segera pulang, karena merasa jenuh dan kesepian selama seharian tak ada kegiatan, Mira memutuskan untuk menemui Regan di klub tempatnya bekerja, sudah lama rasanya Mira tak menginjakkan kaki di tempat hiburan malam yang biasanya minimal seminggu sekali dia sambangi hanya untuk sekedar melepas penat dari tugas kuliah dan beban hidup yang seakan sangat berat untuk di tanggungnya.


Namun setelah dia bekerja, sepertinya dia sudah tak punya waktu luang untuk sekedar menikmati hiburan malam yang kadang dia rindukan, apalagi sekarang dirinya sudah berpacaran dengan Erik, semakin sudah saja dirinya mempunyai waktu untuk menikmati kesenangannya itu.


"Cumi,,,, masih inget tempat clubing lu ? Gue pikir udah tobat !" teriak Regan begitu melihat sang sahabat duduk di hadapannya yang sedang sibuk meracik minuman di balik meja bar.


"Berisik lu ! Gue sibuk ngurusi kerjaan sama ngurusin laki gue, emangnya lo, jomblo !" ledek Mira.


"Mau maunya lo di goblokin sama laki lo !" Regan tersenyum miring, dia memang sudah tau cerita tentang Hubungan Mira dan Erik, karena Mira pasti menceritakan apapun yang terjadi pada dirinya, termasuk tentang kehidupan pribadinya, tak ada yang dia rahasiakan dari sahabatnya itu.


"Maksud lo ?!" Mira mengernyitkan dahinya.


"Noh, laki lo lagi mabok di ruangan vvip !" tunjuk Regannke sebuah ruangan yang berada di seberang meja bar tempat Mira kini duduk menikmati dentuman musik yang keras memekikan telinga dengan segelas wine di tangannya, dia memang sengaja memesan minuman beralkohol rendah karena niatnya hanya ingin sekedar ingin mengunjungi sahabatnya di tempat kerjanya.

__ADS_1


"Erik ? Disana ?" tanya Mira sedikit kaget karena Erik tak memberi tahunya kalau pria itu akan mengunjungi tempat hiburan malam.


Namun Mira tak mau ambil pusing, mungkin dia sedang bertemu klien, bukan hal yang aneh kalau para pengusaha seperti Erik membicarakan masalah bisnis di tempat tempat seperti itu.


Di tengah Mira mencoba berpositive thinking, tiba tiba seorang wanita mendekatinya dan duduk tepat di kursi sebelahnya.


"Hai calon istri Erik ! Kenapa kau duduk di sini, sementara calon suami mu duduk di dalam di temani oleh ku sedari tadi ?!" seorang wanita yang ternyata Dinda menyeringai.


"Ada masalah ? Aku tau pasti kalau Erik tak mungkin tergoda oleh mu, jadi aku tak pernah hawatir sedkit pun meski kau bilang kau menemaninya sedari tadi, aku sangat percaya pacar ku !" ucap Mira berusaha santai, meski dadanya terasa sedikit bergemuruh akibat ucapan Dinda.


"Kau terlalu percaya diri, jangan sampai kau menyesal !" ancam Dinda yang lalu meninggalkan Mira dan kembali ke ruangan tempat di mana Erik berada.


Di bakar rasa marah dan cemburu, Mira memutuskan untuk meninggalkan klub itu, namun baru saja dirinya bangkit dari tempat duduknya, bahunya di tepuk seseorang,


"Kita bertemu lagi !" ucap laki laki muda yang terkesan sok akrab itu.


Mira mengernyitkan dahinya mengingat ingat siapa laki laki yang menyapa nya itu.


"Kita bertemu di pesta waktu itu, kamu pacarnya Erik Sanjaya, kan ?" ujar pria itu mengingatkan.


"Niko, namaku Niko !" pria itu menyodorkan tangannya seraya menyebutkan namanya.


"Mira !" jawab Mira menerima uluran tangan pria yang mengaku bernama Niko itu.


"Kamu sedang menemani pacar mu meeting ?" tanya Niko sambil melirik ke arah ruang vvip di sebrang,


"Kau melarikan diri lagi dari pertemuan ? Menemani ayah mu ?" Mira balik bertanya.


Niko tertawa sumbang, betapa Mira dengan mudah menebak apa yang sedang terjadi pada dirinya.


"Keliatan banget ya ? Aku tak tertarik dengan bisnis ayah ku, !" kilah pria itu.

__ADS_1


"Keliatan kok,! Kau terlihat seperti anak muda yang tak tertarik bekerja tapi doyan hura hura,!" sinis Mira tanpa tedeng alng aling.


"Sial, kau berani sekali mengatai ku, tapi aku suka gaya mu !" Niko tertawa, dari awal pertemuan saat di pesta, sikap cuek Mira memang sudah menarik perhatiannya.


Biasanya para wanita akan tebar pesona pada dirinya, mengingat Niko merupakan anak satu satunya pengusaha ternama di Jakarta, bahkan wajahnya sering wara wiri di televisi dan berita karena di gadang gadang akan menjadi pewaris bisnis milik keluarga Hartono yang menggurita, meski perusahaannya masih di bawah kerajaan bisnis milik Erik, tapi pamornya cukup menggema di tanah air, sehingga banyak wanita menjadikan Niko sebagai incarannya.


"Kau benar benar tak mengenal ku, sebelumnya?" tanya Niko lagi memastikan.


"Harus ya, mengenal mu ? yang penting sekarang aku sudah tau nama mu, kan ?!" cuek Mira.


"Baiklah, terserah mu ! Apa kamu mau menemaniku minum sambil menunggu mereka selesai meeting ?" tawar Niko.


"Kau mau mentraktir ku ? Uang hasil meminta dari orang tua mu ?" sinis Mira.


"Aku masih menjadi tanggungan orang tua ku, lagi pula, besok atau lusa harta mereka juga akan jatuh pada ku semua, apa salahnya ?" dalih Niko.


"Aku temani kau minum, dengan syarat aku yang bayar, " ucap Mira.


"Aku laki laki, mana bisa di bayari perempuan, harga diri lah !" protes Niko.


"Kau belum bisa di sebut laki laki, kau belum mau bekerja, nanti kalau kau sudah bekerja aku akan meminta mu untuk mentraktir ku, deal ?!" Mira mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Niko.


Dengan berat hati Niko menyambut jari kelingking Mira lalu jari mereka saling bertautan tanda setuju.


Ada perasaan aneh dan tak nyaman di hati Niko, harga dirinya sebagai laki laki serasa terusik dengan ucapan Mira, seharusnya dia tersinggung dengan ucapan Mira, tapi anehnya Niko merasa kalau dia harus membuktikan pada Mira kalau dia seorang laki laki yang mampu bekerja dan suatu hari nanti akan mentraktir Mira dengan uang hasil kerjanya.


Niko memandangi wajah Mira yang terkesan biasa saja namun seperti mempunyai daya tarik tersendiri, terbukti Mira bisa membuat hatinya tergerak untuk mulai bekerja, melakukan hal sama sekali tidak membuatnya tertarik sebelumnya.


"Niko, di sini kamu rupanya !" seru seorang pria setengah baya yang ternyata ayah dari Niko yang baru saja menyelesaikan meetingnya.


Namun Erik yang berjalan beriringan dengan Hartono ayahnya Niko justru tampak terkejut karena Mira berada di sana tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


"Hai mas !" sapa Mira pada Erik yang raut wajahnya langsung berubah menjadi tidak bersahabat.


"Pulang !" titah Erik pada Mira yang masih terlihat santai.


__ADS_2