Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Drama Queen


__ADS_3

Pagi pagi sekali ponsel Mira sudah berdering beberapa kali, sengan malas dan sedikit kesal Mira menoleh jam didinding,


"Astaga,,, siapa yang menelpon subuh subuh begini, kurang kerjaan !" gerutu Mira.


Gadis itu meraih ponsel yang dia letakkan di nakas sebelah ranjangnya, matanya masih terpejam saat dia menggeser tombol hijau di layar pipih itu.


"Hmm,,, ya,,, nanti saya ke sana !" jawab Mira pada seseorang yang berbicara dengannya di telpon.


Matanya tetap terpejam, rasa kantuk karena semalam pulang larut akibat keasyikan minum di klub, bahkan dia sepertinya baru sekitar satu jam memejamkan matanya, karena mereka baru sampai apartemen sekitar jam setengah empat subuh.


Ponsel yang menempel di telinganya itu pun terjatuh ke kasur, Mira tertidur lagi tanpa dia sadari.


"Kamu sudah bangun, sayang ?" sapa Erik, baru saja turun dari kamarnya dan menghampiri Mira, mencium sekilas pipi Mira yang sedang mempersiapkan sarapan untuk Erik dan juga dirinya, kekasihnya itu sudah terlihat rapi dengan setelan kerjanya.


"Iya, aku harus berangkat duluan," jawab Mira, masih sibuk dengan piring dan berbagai makanan yang di siapkan nya.


"Tapi ini baru pukul setengah tujuh pagi, kamu mau kemana ?" tanya Erik heran.


"Rumah sakit !" ujar Mira singkat.


"Kamu sakit, sayang ? Apa yang terjadi, kamu terluka ?" Erik bergegas mendekati gadis kesayangannya itu, memutar tubuh Mira, memeriksanya dari atas sampai bawah, meletakkan punggung tangannya di dahi Mira.


"Tapi kamu tidak demam, atau perut mu sakit lagi ? Aku sudah bilang dari semalam, kamu jangan terlalu banyak minum, tapi kamu susah di bilangin,!" omel Erik mengelus perut Mira.


"Ish, aku gak apa apa, bukan aku yang sakit, tapi anak tirinya Tita !" kesal Mira.


"Alisha ? Kenapa dia ?" tanya Erik menautkan kedua alisnya, merasa janggal karena tak seperti biasanya Mira mau peduli dan menemui Alisha di rumah sakit.


"Tadi subuh dari pihak rumah sakit menelpon ku, katanya Alisha sedang di rawat di sana karena semalam keserempet motor," terang Mira.


"Aku antar, ya ?" tawar Erik.


Tapi Mira menolaknya, "Kamu sengaja ingin tebar pesona di depan anak tengil itu ?" kesal Mira.


"Bukan begitu, aku hanya tak tega membiarkan mu pergi sendirian pagi pagi begini," elak Erik.


"Tidak, aku akan melihatnya sendirian, hanya memastikan kalau anak kesayangan Tita itu masih hidup atau tidak !" tegas Mira.


Erik tak bisa berkutik, sebenarnya dia tak tega membiarkan Mira pergi sendirian, tapi kalau dia terus memaksa untuk bersikeras mengantarkan kekasihnya itu ke rumah sakit, Mira akan mengira kalau dirinya hanya beralasan untuk bertemu dengan Alisha, jadi dia lebih baik mengikuti apa yang di katakan Mira dari pada terjadi gonjang ganjing pada hubungan percintaannya gara gara hal yang gak penting seperti Alisha itu.

__ADS_1


***


Mira segera menghampiri bagian resepsionis rumah sakit untuk mencari informasi tentang Alisha, ketika dia baru saja sampai di sana.


Bukan karena apa apa sih Mira mau menghampiri Alisha di sana, anggaplah itu semua semata demi kemanusiaan, lagi pula dia malas jika nanti Tita sang ibu akan menjadikan itu sebuah masalah jika dirinya tak mau sekedar menemui Alisha yang memang tak punya siapa siapa di negara ini.


"Maaf, saya mendapatkan nomor anda dari pasien, katanya cuma anda satu satunya keluarganya yang dia punya di sini," terang perawat yang sedang berjaga itu.


"Oh, tak apa sus, bagaimana keadaannya ?" Mira ternyesum di paksakan.


"Hanya kaki kanannya yang cedera, tapi tidak terlalu parah, hanya saja memang bisa menghambat aktivitas nya karena harus memakai alat bantu jalan untuk sementara," urai perawat itu menerangkan keadaan Alisha dengan detail.


"Ooo !" Mira hanya menyambut uraian panjang suster itu dengan membentuk huruf O pada mulutnya.


Setelah suster memberi tahu ruang rawat tempat Alisha sekarang berada, Mira berjalan gontai menuju ruangaan itu,


"Lu gak bisa ya, gak ngerepotin gue sekali aja ? Sehat nyusahin, sakit ngerepotin, pake ngasih nomor telepon gue segala rupa, kasih nomor telepon orang lain siapa kek, satpam apartemen apa siapa gitu,!" semprot Mira saat baru masuk ke ruang rawat Alisha yang tampak sedang duduk bersandar di ranjangnya sendirian, dengan kaki kanannya yang di balut.


"Aku tak punya siapa siapa lagi selain kakak, sebenernya aku berharap kak Erik yang datang, bukan nenek sihir cerewet seperti mu !" ucap Alisha sambil memutar bola matanya.


"Dasar bocah tak tau diri, kau memang pantas mendapatkan karma seperti itu, karena otak mu penuh dengan rencana jahat !" hardik Mira bertambah kesal, hampir saja dia kelepasan hendak melempar adik tirinya itu dengan bantal yang tergeletak di sofa yang berada di ruang rawat itu, namun dia urungkan karena mengingat kondisi Alisha yang sedang tidak berdaya saat ini.


"Kau ada yang menunggui semalaman, berani beraninya bilang hanya punya aku di sini, !" pancing Mira sambil melirik bantal yang teronggok di sofa.


"Itu, orang yang menabrak ku, dia bersikeras ingin menunggui ku," jelas Alisha santai.


"Baguslah, tandanya dia bertanggung jawab, harusnya sekalian kau pacari kalau perlu kau kawini, biar gak celamitan sama pacar orang ! Laku kan lo ?!" ejek Mira.


"Permisi, apa saya mengganggu ?" suara laki laki yang baru saja datang ke ruangan itu menghentikan perdebatan sengit antara Mira dan Alisha pagi itu.


"Lho, kenapa ada---" ucapan Mira menggantung begitu saja saat tau kalau laki laki yang baru saja masuk ke ruangan itu adalah Niko.


"Mira ?! Kamu,,," Niko tak kalah heran dan kebingungan saat tiba tiba melihat wanita yang sudah membuatnya jatuh hati itu ada di hadapannya.


Beberapa kali Niko mengusap wajahnya dan mengerjapkan matanya, takutnya kalau dia hanya sedabg bermimpi atau berhalusinasi akibat semalaman tidak tidur karena menjaga Alisha yang tak sengaja dia serempet motor sport yang dia tunggangi saat dirinya pulang lembur dari kantornya tadi malam.


"Kamu kenal kakak ku ?" tanya Alisha pada Niko yang terlihat seperti salah tingkah begitu melihat kakak tirinya itu.


"Kakak mu ?" beo Niko melongo.

__ADS_1


Niko lalu memperhatikan dua wanita itu secara bergantian, anehnya tidak ada kemiripan sedikitpun di antara mereka berdua, Alisha dengan wajah bule nya, sementara Mira wajah khas wanita asia.


"Ish, ngaku ngaku, siapa yang kau akui sebagai kakak mu itu ? Tak sudi aku punya adik seperti mu !" cibir Mira tak terima karena Alisha mengakui dirinya sebagai kakaknya.


"Kakak, apa salah ku, kamu selalu membenci ku, padahal aku sangat menyayangi mu !" ucap Alisha memulai dramanya.


"Cih, menjijikan !" ucap Mira membuang muka.


"Apa kau yang menabraknya ?" Mira beralih menengok ke arah Niko.


"Emh, iya. Tapi aku benar benar tak sengaja !" sesal Niko, dia juga merasa canggung berada di situasi saat ini yang dia sendiri tidak pahami.


"Harusnya kau tabrak dia sampai tak dia tanggup lagi ber drama !" gumam Mira.


"Eh, apa ? Bagaiman maksudnya ?" tanya Niko yang tak begitu jelas mendengar gumaman Mira.


"Ah, tidak, sebaiknya kau urus dia sampai benar benar pulih, dia tak punya siapa siapa di sini, lagi pula, aku tak sudi mengurus miss dramaqueen macam dia !" ucap Mira membalikan badannya hendak meninggalkan ruangan itu.


Namun tanpa di duga Niko menarik tangan Mira, seakan dia belum mau berpisah dengan Mira, semenjak kejadian di Bali itu, dirinya memendam rindu yang setiap hari semakin bak bola salju yang semakin menggelinding semakin membesar.


"Tunggu, kejadian di Bali waktu itu---" belum saja Niko menyelesaikn kalimatnya, suara bariton seorang pria memaksanya untuk melepaskan tangan gadis pujaannya itu.


"Lepaskan tangan kekasih ku !" Erik tiba tiba sudah berdiri si ambang pintu ruang rawat Alisha.


"Kak Erik ! Untunglah kakak segera kesini, dari tadi aku di cuekin sama mereka, mereka bukannya menemani ku malah asik sendiri !" adu Alisha.


"Kau !?!" tunjuk Mira dengan wajah yang merah padam ke arah Alisha yang sengaja mengarang cerita agar Erik murka, Alisha hanya sedikit tersenyum jahat ke arahnya, seakan sangat puas karena membuat keadaan menjadi semakin kacau.


Alisha bisa menangkap dengan cepat kalau ada cinta segitiga di antara mereka, dan situasi itu bisa dia manfaatkan untuk kepentingannya sendiri, tentu saja.


"Mas, kenapa menyusul ku ? Bukan kah sudah ku bilang tak usah menyusul ?" entah kqrena grogi atau apa, justru malah kata kata itu yang terlontar dari bibir Mira saat menyambut kedatangan Erik di sana.


"Pantas saja aku tak enak hati membiarkan mu pergi sendiri !" sinis Erik.


"Sayang, ini tak seperti yang kamu pikirkan," tepis Mira hawatir Erik berpikir yang tidak tidak tentang kebersamaaannya dengan Niko di sana.


"Ayo, sudah selesai kan, semua urusannya ?" ajak Erik, menarik paksa tangan Mira agar segera meninggalkan tempat itu.


"Mas, kamu marah ? Apa kamu akan percaya bila aku bilang bahwa aku juga tak tau kalau Niko ada di sana ?" tanya Mira dengan langkahnya yang setengah berlari karena mengimbangi langkah Erik yang cepat.

__ADS_1


Sayangnya Erik tak berbicara sepatah kata pun, dia hanya tetap membisu, Mira tak bisa menebak apa yang sedang Erik pikirkan saat ini, apa dia mengira dirinya janjian dengan Niko, atau dia juga percaya dengan kebohongan yang di katakan Alisha padanya tadi, sehingga membuat pria tampan itu terdiam seribu bahasa.


__ADS_2