
Erik menatap sendu mantan istrinya yang terlihat semakin cantik karena aura kehamilannya.
"Hai Rik, apa kabar, siapa yang sakit ? sapa Citra berbasa basi.
"Ehm, itu,,, aku,,,,," ucap Erik gugup, ini kali pertama dia berjumpa lagi dengan mantan istri yang masih mempunyai tempat istimewa di hatinya itu setelah perceraian mereka, apa lagi Citra sedang bersama laki laki yang sudah merenggut paksa kebahagiaannya itu.
Suasana canggung pun terlihat jelas di antara mereka ber tiga.
Dari lain tempat Mira yang menyaksikan adegan pertemuan tak di inginkan itu dengan sedikit mengerutkan keningnya,
Mira yang menolak untuk di rawat inap itu memaksa untuk pulang dan menyelesaikan sendiri administrasi pengobatannya, Mira begitu terkejut saat dia mencari cari sosok Erik yang menurut bagian administrasi rumah sakit adalah wali yang bertanggung jawab atas diri nya itu, terlihat sedang mengobrol dengan sepasang suami istri yang salah satunya sangat dia kenal, nampak Erik yang canggung dan tidak nyaman berada di antara mereka.
Mira terlihat seperti mengingat ingat sesuatu,
"Oh, Astaga ! Pantas saja saat gw liat wajah perempuan itu di layar ponsel si Om seperti pernah gw liat sebelumnya, Tuhan,,, situasi macam apa ini !" pekik Mira bergegas menuju di mana mereka bertiga yang dalam keadaan awkward satu sama lain itu berada.
Saat pertama kali mengecek ponsel Erik yang saat itu terbawa oleh nya, layar ponsel menampilkan gambar erik yang sedang memakai baju pengantin, Mira merasa tidak asing dengan wajah perempuan di samping Erik itu, ternyata wanita itu adalah istri barunya Roni yang tak lain adalah kakak dari Regan sahabatnya.
Dalam sekejap saja, Mira sudah memahami situasi yang terjadi saat ini, dia segera mencairkan suasana tegang di sana.
"Hai bang ! periksa kandungan, nih !" tanya Mira basa basi, dia memang sempat di ceritakan Regan kalau kakak iparnya sedang hamil saat menikah.
"Eh, ngapain di sini ? Kamu sakit ?" tanya Roni yang lumayan mengenal Mira karena dia sahabat Regan, adik satu satunya.
"Biasa, kumat nih perut ! Aku duluan,bang !" pamitnya sambil menarik paksa tangan Erik yang terpaku melihat Mira yang saling sapa dengan laki laki yang paling di bencinya itu.
"Jangan mabok terus, Mir !" teriak Roni yang tahu kebiasaan sahabat adiknya itu.
Mira hanya menoleh sebentar dan melambaikan tangannya sambil tersenyum dan menggeret tangan Erik untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Stop !" ucap Erik menghentikan langkahnya dan melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Mira.
"Apa lagi ? Mau nyamperin kesana terus memasang tampang sedih kaya tadi ? Jelek tau wajah Om, kalo masang wajah kaya tadi pas ketemu mereka, mirip kaya foto om di sini !" ucap Mira menyodorkan kartu identitas Erik yang tadi dia ambil di loket administrasi rumah sakit.
"Dari mana kau dapatkan ini ?" Erik menyambar kartu identitasnya segera.
"Di loket administrasi lah ! Lagian, bayar rumah sakit kok pake ktp,! Gak sekalian di bayar dengan senyuman gitu !"gerutu Mira.
"Kenapa kau menarik tangan ku di hadapan istri---" Erik hampir keceplosan hendak berkata kalaua Citra adalah istrinya.
"Istri bang Roni ?" sambar Mira.
"Ah,,,sudah lah aku tidak mood membicarakan bajingan itu ! Dan kau, bukan kah seharusnya kau di rawat ?" Erik mengalihkan pembicaraannya.
"Males, udah biasa kaya gini mah !" ucap Mira enteng.
"Hey, kau pingsan dan menyusahkan ku tadi !" bentak Erik.
"Ya maaf, tadi kelupaan dari pagi belum makan, eh bangun tidur ususnya jadi kaget waktu di lewati minuman enak !" ucapnya.
Erik mengusap wajahnya kasar, dia baru pernah berurusan dengan gadis selebor seperti Mira seumur hidupnya, entah dosa apa yang di perbuat para leluhurnya sehingga dia harus ketiban sial bertemu gadis gak jelas macam Mira.
__ADS_1
"Om, aku boleh minta tolong sekali lagi ?" pinta Mira.
"Kau boleh meminta pertolongan ku untuk yang terakhir kalinya, dan semoga kita tak berurusan lagi di hari selanjutnya !" jawab Erik.
"Anterin aku pulang, tapi sebelum pulang, aku laper, pengen makan !" polos Mira sambil menyeringai.
Erik menghembuskan nafasnya kasar, dan mengomando Mira untuk berjalan mengikutinya tanpa kata kata, dia hanya mengibaskan tangannya yang kalau di artikan dalam ucapan berarti 'ayo !'
Mira mengulurkan tangannya ke arah Erik, sesaat setelah mereka tiba di sebuah rumah makan jepang di sebuah private room yang sudah Erik pesan sebelum mereka berangkat ke tempat itu.
"Apa ini ?" Erik menatap aneh uluran tangan Mira.
"Kita belum berkenalan !" cengir Mira.
"Tak perlu, aku sudah tau nama mu, aku belum tuli untuk tak mendengar nama mu saat tadi di sebut di acara wisuda mu !" Erik melengos mengabaikan uluran tangan gadis yang berdesis kesal dengan sikap Erik yang menyebalkan itu.
"Ya sudah, aku juga sudah tau nama Om, Erik Sanjaya, ternyata om adaflah Erik Sanjaya arsitek dan pengusaha yang terkenal itu," Mira manggut manggut.
"Bagaimana kau bisa mengenal laki laki itu ?" tanya Erik.
"Dia abangnya sahabat ku, Regan, si bartender klub !" terang Mira.
Erik terdiam sejenak,
"Kakak adik ? Tapi mereka tak terlihat mirip !" ujarnya.
"Mereka kakak adik om, bukan kembar !" seloroh Mira.
"Lebih tepatnya, abang abangan mu itu merebut istri ku dengan paksa !" ketus Erik dengan kesal.
Erik menenggak sake yang di pesannya dengan ultimatum kalau Mira tak boleh meminta minumannya itu sedikit pun.
"Minta om, dikit lah, pelit amat !" bujuk Mira yang tangannya hampir berhasil mengambil gelas kecil berisi sake ditangan Erik,"
(*sake adalah minuman beralkohol hasil fermentasi beras yang berasal dari Jepang.)
"Tidak, kata dokter kau akan mati jika kau mabuk, dan kau tidak boleh mati dulu, hutang mu masih banyak pada ku,!" racau Erik yang mulai mabuk karena minuman itu.
Karena kondisi Erik yang mabuk berat, akhirnya Mira mengambil alih kemudi, tapi dia bingung harus mengantarkan Erik kemana, sementara laki lakai itu sudah tak bisa di tanya.
Akhirnya Mira teringat dengan alamat yaang tertera di kartu identitas Erik, Mira segera melajukan kendaraan Erik menuju ke alamat itu, saat Mira denfan ragu ragu berhenti di depan gerbang rumah super besar dan mewah itu, seorang security memberi hormat dan menghampirinya.
"Tuan !" sapanya dari luar kaca jendela mobil yang masih tertutup rapat.
Mira menurunkan kaca jendelanya, dan tersenyum canggung.
"Maaf, apa benar ini rumah bapak Erik Sanjaya ?" tanya Mira polos.
Security itu melirik tuannya yang terpejam di kursi penumpang,
"Iya, silahkan !" penjaga itu membuka gerbang seraya mempersilahkan mobil tuannya untuk masuk.
__ADS_1
Bi Yanti yang mendengar suara mobil di halaman rumah langsung menghampiri ke depan.
"Tuan, apa yang terjadi ?" pekik nya.
"Om Erik, eh pak Erik mabuk bu, tolong bantu saya membawa nya ke dalam," pinta Mira.
Setelah mengantarkan Erik ke kamarnya, Mira berpamitan untuk pulang.
"Non, nanti dulu, di luar hujan deras, bagaimana kalau non menunggu di sini sebentar, sudah lama tuan tak pulang ske rumah ini, bibi kadang kesepian menjaga rumah sebesar ini hanya berdua dengan mang Jaja," keluh asisten rumah tangga itu.
"Om erik gak pernah pulang ke sini ? lalu di mana dia tinggal selama ini ?" tanya Mira merasa sepertinya dia sudah mengantarkan laki laki itu ke alamat yang salah.
"Di apartemen dekat kantornya," jawab Yanti, yang lalau di jawab dengan anggukan Mira.
Mira mengamati setiap sudut ruangan lantai dasar rumah mewah itu, foto foto pernikahan Erik dan Citra, juga foto foto kebersamaan nya yang sedang berlibur keliling dunia terpajang rapi di setiap sudut ruangan, dan beberapa terpasang pada bingkai yang menggantung di dinding.
"Bi, bukannya om Erik sama istrinya itu sudah,,,," tanya Mira menggantung kata katanya.
"Iya non, mereka sudah bercerai, tapi barang barang nyonya dan juga foto foto nyonya tidak boleh di pindahkan atau di robah sedikit pun, harus tetap seperti saat dulu nyonya berada di rumah ini, bahkan letak barang barang di rumah ini pun tak boleh ada yang berubah," beber Yanti.
"Uuhhh,,, sakit jiwa tuh orang tua !" cicit Mira sambil berdecak heran.
"Siapa yang kau sebut sakit jiwa itu ?!" Suara bariton Erik hampir saja membuat copot jantung Mira, sedangkan Yanti wajahnya sudah memucat ketakutan.
"Om lah, siapa lagi !" ucap Mira enteng.
"Siapa yang mengijinkan mu masuk ke rumah ini ?" ketus Erik.
"Aku menolong om, mengantarkan pulang, bukannya terima kasih malah ngamuk ngamuk !" sewot Mira tak terima.
"Aku tak butuh sikap sok baik mu, lagi pula kenapa kau antar ke sini !" omel Erik sambil meraih sebotol pereda mabuk yang tersedia di meja dapur luas itu untuk menghilangkaan pusing di kepalanya akibat sake yang di minumnya.
"Mana ku tau, di ktp alamat yang tertera ini !" elak Mira tak mau di salahkan.
"Cepat pergi dari sini, aku tak suka ada orang asing di rumah ini !" usir Erik.
"Ish di kira aku betah banget apa di rumah yang berbau kenangan lama ini ! Rumah gagal move on !" Ejek Mira sambil pergi meninggalkan rumah itu setelah berpamitan pada bi Yanti sang asisten rumah tangga.
Erik tak menghiraukan perkataan Mira yang menyindir dirinya, dia tak suka bila ada orang asing masuk ke rumah yang penuh kenangan bersama mantan istrinya itu, Erik kembali ke lantai atas dimana kamar yang dulu biasa di tempati dirinya dan Citra.
Erik menatap langit yang saat itu sedang hujan sangat deras, kilatan petir bahkan menyambar nyambar sangat mengerikan.
Setelah dia berpikir, rumahnya ini jauh dari jalan besar, Erik mulai membayangkan Mira yang berjalan di bawah guyuran hujan deras di malam yang gelap seperti ini.
"Aaaah ! Bocah tengil sialan ! Selalu menyusahkan ku !" teriaknya kesal.
Erik meraih kunci mobilnya, dia yakin kalau Mira pasti belum jauh dari rumahnya, dia berniat mengantarkan gadis itu pulang, diavtak mau di hantui rasa bersalah jika Mira sampai mati tersambar petir di tengah jalan di bawah guyuran hujan malam malam, gara gara dia mengusir gadis itu.
Erik menjalankan kendaraannya sangat pelan, dia sangat yakin kalau gadis itu pasti belum jauh dari sana, mata Erik begitu awas memperhatikan setiap jalan yang di lewatinya, namun malam itu tak terlihat ada seorang pun berjalan di sana.
sudah sampai ujung jalan, namun Erik belum menemukan Mira, Erik kebingungan dan memutuskan untuk kembali lagi ke rumahnya sambil melihat kembali jalan yang tadi di laluinya, dia takut ternyata dia melewatkan Mira tergeletak di pinggir jalan.
__ADS_1