Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Zombie


__ADS_3

Acara makan malam yang di hadiri sekitar kurang lebih lima puluh orang itu berjalan dengan hangat dan penuh dengan canda tawa kekeluargaan, semua orang berbahagia, kecuali Mira.


Mira tiba tiba merasa sangat bete berada di tengah tengah acara yang di hadiri oleh para tamu dengan wajah wajah yang penuh kemunafikan menurutnya.


Bagaimana tidak, saat dirinya sedang bersama Erik, semua orang seakan ramah dan dan menerima kehadirannya di tengah mereka, tapi berbeda saat Erik tidak sedang bersamanya, wajah wajah ramah itu berubah menjadi seperti wajah wajah zombie yang seakan melihat Mira adalah manusia satu satunya di sana, sehingga pandangan mereka penuh selidik padanya.


Seperti saat Erik sedang menemui para tetua pria di sana, "Sayang, kalau aku tinggal sebentar untuk menyapa para tetua pria, kamu tidak keberatan, kan jika menunggu di sini ?" tanya Erik ragu, dia merasa tak nyaman bila meninggalkan Mira, tapi juga merasa tak enak jika dia tak menyapa saudara saudara tertua dari almarhum ayahnya itu.


"Santai saja, aku bisa mengatasi nya !" jawab Mira tersenyum meyakinkan.


Mira hanya perlu menjadi dirinya yang cuek dan tak peduli seperti biasanya untuk menghadapi orang orang munafik ini, lagi pula, yang penting Erik mencintainya, persetan dengan orang orang yang tak suka dengan hubungannya, dia hanya harus kuat seperti biasanya tak boleh lemah lagi.


"Kau apakan abang ku, kau pelet ya ? Kenapa bisa dia tertarik pada mu ?" sinis Nana sambil menatap keki pada Mira yang diam dan bersikap acuh tak acuh padanya.


"Heh, aku bertanya pada mu, apa telinga mu tuli ? Kkau sedang berada di rumah ku, jadi jangan macam macam !" ancam Nana.


"Kau berani hanya karena sedang berada di rumah mu ? Cih, jago kandang !" cibir Mira, terlihat seolah enggan menanggapi ancaman Nana, matanya justru terus terkunci pada sosok gagah Erik yang sedang bercengkerama dengan para sesepuh sambil sesekali melirik ke arah Mira saat ini berada.


"Kau ! Berani sekali kau mengatai ku !" tunjuk Nana kesal.


"Kenapa aku harus takut dengan mu ?" ucap Mira santai.


Lisa yang berada tak jauh dari Mira dan Nana yang sedang bersitegang itu merasa mempunyai celah untuk masuk di antara mereka dan menumpahkan sedikit rasa kesalnya pada Mira yang seharusnya tak beralasan itu, karena dalam hal perceraian antara Erik dan Citra, sama sekali Mira tak ada andil di sana, dan Mira masuk ke kehidupan Erik jauh setelah mereka berpisah, lagi pula, bukan kah Citra yang menginginkan perpisahan di antara mereka.


"Sudah ku duga, kau memang wanita tak tau adat dan sopan santun, kasar, aku jadi berpikir mungkin benar apa yang di katakan Nana tadi, kau memakai guna guna untuk menjerat menantu ku !" tuduh Lisa.


"Mantan !" Tak sengaja Mira dan Nana mengatakan kata yang sama secara kompak dan bersamaan.


"Bagi ku Erik tetap menjadi menantu ku sampai kapan pun dan aku yakin, Erik juga masih menganggap ku ibu mertuanya sampai saat ini, dia itu cinta mati pada anak perempuan ku satu satunya !" tepis Lisa.


"Iya tapi cinta mba Citra terhadap Erik sudah mati karena anak anda memilih berselingkuh dan menikah dengan cinta pertamanya !" cicit Mira.

__ADS_1


"Lancang sekali mulut mu !" umpat Lisa tak terima karena Miraenjatuhkan harga diri anaknya dengan mengatakan Citra seorang peselingkuh, walaupun itu benar adanya.


"Tante, tolong bangun dari mimpi, anda tidak sedang tertidur saat ini !" oceh Mira lagi, dia memang paling jago memancing emosi seseorang.


"Sayang, ada apa ?" Erik yang melihat Mira seperti sedang di serang oleh dua orang yang memusuhinya itu bergegas mendekati sang kekasih, dia tak ingin terjadi hal hal yang tidak di inginkan dengan gadis kesayangannya itu.


"Apa mata dan hati mu benar benar sudah buta, atau kamu sungguh sebegitu putus asa nya di tinggal Citra, sehingga memilih wanita tak tahu adab dan sopan santun seperti dia ini ?!" sembur Lisa mengatai Mira.


"Dulu kamu mendapatkan istri yang cantik, bertalenta, dari kalangan atas, sederajat, terpelajar dan mempunyai tata krama, sebenarnya dari mana kamu memungut perempuan seperti ini untuk kamu jadikan kekasih ? Tak ada apa apanya di banding Citra !" sambung Lisa sinis.


Erik meraih bahu Mira dan merapatkan tubuhnya ke arahnya,


"Walaupun tante anggap Mira tak ada apa apanya di mata tante, tapi Mira sangat berati bagi saya, dan yang paling penting, Mira setia !" jawaban Erik seakan menohok Lisa yang langsung terbelalak tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Apa, tante ? Kamu memanggil ku tante ?" pekik Lisa saat mendapati Erik sudah tak lagi memanggilnya ibu.


"Hubungan saya dengan Citra sudah berakhir, suaminya Citra yang sekarang sepertinya jauh lebih pantas memanggil anda dengan sebutan ibu mertua, maaf saya permisi, saya akan mengenalkan Mira pada yang lain !" pamit Erik, dia tak ingin terlalu jauh memperpanjang perdebatan dengan mantan ibu mertuanya.


"Aku lelah, apa boleh kita pulang saja ?" tawar Mira.


***


"Boleh gak kalau kita mampir ke klub, rasanya lama tak bertemu Regan, bentar aja, please !" pinta Mira saat mereka dalam perjalanan pulang malam itu.


Erik mendengus sedikit kesal,


"Berani sekali kamu merindukan pria lain sementara kamu sedang bersama ku !"


"Ayolah, jangan bilang kamu cemburu pada Regan, seorang Regan yang bahkan dia telanjang di hadapan ku pun aku tak akan bernapsu padanya !" tepis Mira terkekeh geli.


"Hey, apa kamu sering melihatnya bertelanjang ?!" Erik mengerem kendaraannya secara tiba tiba sambil menatap tajam kekasihnya yang memasang wajah lempeng seolah tanpa dosa.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, itu kan hanya perumpamaan, ah,, susah emang ngobrol sama orang tua kaku, gak bisa di ajak becanda !" cebik Mira.


"Kamu bisa pakai perumpamaan lain yang tidak memancing emosi ku !" ucap Erik kesal.


"Haha,,, iya, iya maaf, gak usah cemberut, kita cuma mampir sebentar, aku jujur lho, gak pergi ke klub diam diam dengan alasan pekerjaa kaya kamu !" sindir Mira yang berhasil membuat Erik tak berkutik karena kesalahannya itu.


"Gak mabuk ya !" Erik mengulti matum.


"Hmmm !" Mira hanya menjawabnya dengan dehaman, ke klub, gak boleh minum itu bagai pake baju tapi gak pake celana bagi Mira, aneh dan gak mungkin !


"Cumi,,, dari mana aja lo ! Lama gak nongol muka lo di hadapan gue !" seru Regan ramai seperti biasanya saat bertemu Mira.


"Minum apa, nih ?" lanjut Regan.


"Wine," jawab Mira singkat.


Erik langsung melirik galak ke arah Mira,


"Kamu kan tadi udah janji gak mabuk ?!" Erik mengingatkan.


"Gak mabok, sayang,,, bukan gak minum ! Lagian segelas wine gak bakal bikin aku mabok, aku cuma pengen mampir sebentar, mencuci otak !" ujar Mira santai.


"Otak lo kotor ya, di laundry gih, biar pikirannya gak jorok mulu !" ejek Regan tak sengaja menguping pembicaraan antara Mira dan Erik saat memberikan segelas wine ke hadapan Mira.


"Eh, otak lu tuh yang kotor plus jorok, mana ada otak gue yang suci ini berpikiran kaya gitu !" tampik Mira, dan Regan pun cengengesan lalu melanjutkan pekerjaannya lagi melayani para tamu klub yangeminta racikan minuman darinya.


"Kenapa kamu harus mencuci otak mu ?!" tanya Erik polos.


"Otak ku tercemari oleh umpatan dan makian mantan mertua mu, di tambah kesinisan adik sepupu kesayangan mu itu !" kesal Mira saat dirinya harus teringat lagi kejadian demi kejadian yang membuatnya ingin me refresh otaknya yang terasa kusut.


"Maafkan aku !" sesal Erik.

__ADS_1


"Kenapa kamu minta maaf ? kamu tak salah apa pun, mungkin akunya saja yang terlalu baper kali," Mira menepis pikirannya sendiri.


Erik mengelus puncak kepala Mira, betapa dia sangat menyayangi gadis itu, dia tak bisa membayangkan jika sampai harus kehilangan Mira, yang benar benar sudah sangat menyatu erat dalam setiap hembusan napasnya.


__ADS_2