Terjebak Cinta HOT DUDA

Terjebak Cinta HOT DUDA
Bajiingann Kecil


__ADS_3

Persiapan pernikahan Erik dan Mira sudah hampir selesai, karena segala sesuatu yang menyangkut pernikahan mereka sudah Erik serahkan pada WO agar mereka tak terlalu di sibukan dengan persiapan acara mereka.


Undangan sudah mulai di sebar, kurang dari satu minggu lagi sepasang kekasih itu akan berubah status menjadi sepasang suami istri.


Selain Citra dan ibunya, Alisha juga menjadi salah satu diantara para wanita pemuja Erik yang merasa parah hati atas rencana pernikahan yang akan di gelar di sebuah gedung termegah di ibu kota.


"Lihat ini, apa kamu rela jika pujaan hati mu di miliki orang lain sepenuhnya ? Kamu tak akan punya kesempatan lagi untuk mendapatkan kakak ku, ketika dia benar benar sudah menjadi nyonya Erik Wijaya !"Alisha melempar sebuah kartu undangan yang baru saja dia dapat pagi tadi dari petugas resepsionis apartemen ke atas meja kerja Niko.


Alisha yang tadinya hendak berangkat ke kampus mengurungkan niatnya dan memilih untuk menemui Niko yang sedang bekerja di kantornya.


"Kenapa lagi ? Aku tak akan memaksakan kehendak ku dan melawan takdir yang sudah di gariskan Tuhan, bila memang takdir mereka menikah, mau aku halangi dengan cara apa pun, ya mereka tetap menikah !" kata Niko, melirik undangan yang kini tergeletak di hadapannya itu.


Niko memang tak mendapatkan undangan itu, mungkin Erik merasa keberatan tak ingin dirinya hadir di pesta pernikahan mereka, pikirnya.


"Kamu pasti akan menyesal, apalagi kamu tak pernah mencobanya !" ujar Alisha.


"Mencobanya ? Mencoba apa maksud mu ?" Niko mengerutkan keningnya.


"Mencoba menyatakan cinta mu pada kakak ku, belum tentu kamu di tolak, kan ?!"


"Kau gila ! Kau pikir aku tak tau, kau memaksa ku untuk bersama kakak mu karena sebenarnya kau yang menginginkan Erik. Hey bangun ! Erik bahkan tak pernah melirik mu sedikit pun !" Niko menyunggingkan senyum, mengejeknya.


"Sialan kau ! Aku akan membuktikan kalau aku bisa merebut Erik bagaimana pun itu caranya !" kesal Alisha karena merasa di sepelekan.


"Ingat, apa yang sudah di gariskan Tuhan tidak dapat di tentang, kita hanya perlu menjalaninya dengan ikhlas !" ucap Niko.


"Kau saja yang menjalaninya sendirian, aku tidak akan pernah bisa rela !" sungut Alisha.

__ADS_1


Niko menggelengkan kepalanya, sungguh Alisha bagaikan bajjingaan kecil di matanya, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan nya.


'Aku tak akan membiarkan mu merusak kebahagiaan orang yang ku cintai !' janji Niko dalam hatinya.


***


"Kau, anak durhaka, anak kurang ajar, bisa bisanya kau akan menikah tanpa memberi tahu aku sebagai ibu mu, setidaknya mintalah restu ku, ibu mu ini masih hidup !" teriak Tita sesaat setelah Mira membukakan pintu apartemennya karena suara bel yang terdengar di tekan berulangbulang oleh orang dari balik pintunya.


Tanpa di persilahkan oleh Mira yang masih terkejut dengan wajah bengongnya, Tita yang malam itu di temani Alisha, langsung menerobos masuk ke dalam apartemen yang di tinggali Mira dan Erik.


"Hey, kalian tidak sopan menerobos masuk ke rumah orang tanpa ijin !" kata Mira yang baru saja tersadar dari kekagetannya.


"Kau yang seharusnya meminta ijin dari ku ketika memutuskan sesuatu yang besar dalam hidup mu, kau menjual rumah tanpa seijin ku, sekarang menikah juga tanpa seijin ku, kau anggap apa aku ini ? aku ini masih ibu mu !" sembur Tita tanpa ampun.


"Ijin ? Untuk apa aku meminta ijin dari mu saat menjual barang milik ku sendiri ? Untuk apa aku meminta ijin dari mu untuk pernikahan ku, sementara aku sudah terbiasa mengambil keputusan sendiri untuk hidupku, karena aku selalu di abaikan oleh mu !" napas Mira terdengar memburu dan tersenggal senggal karena di liputi Emosi pada ibunya.


"Cih, sombongnya kau ini kak, mentang mentang akan di persunting pengusaha kaya raya, ingat,,, baru akan,,, semua hal di luar dugaan bisa saja terjadi !" decih Alisha sambil melongok dan melihat lihat isi dan perabotan mewah di apartemen milik Erik itu.


'Jangan senang dulu kakak ku sayang,,, sebentar lagi, aku yang akan tinggal di sini menemani pangeran ku, dan kau siap siap di tendang dari nama calon konstan nyonya Erik !' tanpa sengaja Alisha menyeringai dengan senyum liciknya saat dia sedang berbicara dalam hatinya.


"Apa kau sudah gila ? Kau tersenyum sendiri tanpa sebab, jangan bilang otak mu yang sedikit itu mulai terganggu karena iri pada ku !" ejek Mira, hatinya mengatakan kalau Alisha sedang merencanakan suatu hal yang buruk pada dirinya.


"Jaga bicara mu ! Tak sepantasnya kau mengajari berbicara kasar pada adik mu !" Tita segera memasang badan ketika tau anak tiri kesayangannya sedang di serang Mira.


"Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini, sebelum aku panggilkan security untuk mengusir kalian !" jari telunjuk Mira menunjuk ke arah pintu yangbmasih setengah terbuka, seraya memberi isyarat kalau kehadiran ibu dan adik tirinya itu sangat tidak dia harapkan.


"Coba saja kau berani mengusir ku, aku akan berkoar koar pada wartawan kalau calon istri pengusaha terkenal Erik Wijaya mengusir ibunya sendiri dan tak meminta ijin bahkan tak mengundang ibunya pada pesta pernikahannya, aku yakin pernikahan mu pasti hancur !" ancam Tita.

__ADS_1


"Pergi, aku tidak peduli dengan apa yang akan kalian lakukan, aku hanya ingin kalian segera pergi !" usir Mira tegas.


"Tidak ! Aku akan tetap tinggal dan menginap di sini," kata Tita dengan tidak tahu malunya.


"Aku juga, aku ingin menginap di sini, kau tau bu, selama ini kakak bahkan tak pernah mengijinkan akuvuntuk main ke sini, dia terlalu sombong !" adu Alisha pada Tita.


"Kau,,,! Belum menjadi istri nya saja sudah sombong seperti itu, lantas kalau kau sudah menikah dengannya, kau pasti akan semakin besar kepala !" hardik Tita.


"Do'a kan saja semoga pernikahan mereka tidak akan pernah terealisasi, biar kakak tau rasa, bu !" ucap Alisha.


"Tuhan tidak akan pernah mendengar dan mengabulkan do'a orang orang jahat seperti kalian !" Suara Erik tiba tiba menyambar obrolan panas keluarga yang tidak harmonis itu.


"Kak Erik,,,!" seru Alisha dengan mata yang berbinar, menatap Erik yang terlihat sangat menggoda karena memancarkan aura yang membuat para wanita mabuk akan pesonanya.


Erik yang saat itu baru pulang kerja dengan jas yang sudah dia tenteng di tangannya, dan kemeja yang kancingnya terbuka sampai sebatas dada dengan wajah yang terlihat lelah justru semakin membuat pesona ketampanannya semakin keluar, sehingga Alisha seakan tak berkedip menatap sosok Erik yang bak pangeran berkuda putih baginya.


"Begini cara seoranh pengusaha terkenal sekelas Erik Wijaya memperlakukan calon ibu mertuanya ?" sindir Tita.


"Aku memperlakukan orang lain sebagaimana pantasnya dia perlakukan !" Erik melangkah masuk melewati Tita dan Alisha yang sedang duduk di sofa ruang tamunya, lalu mendekat ke arah Mira yang berdiri menghadap ke arah ibu dan adik tirinya dengan wajah yang terlihat marah.


"Sayang, apa yang membuat mu kesal seperti ini, hem ?" Erik membelai pipi Mira dan mengecupnya sekilas lalu ikut berdiri di samping calon istrinya itu.


Alisha mengepalkan tangannya, dia sungguh sangat kesal melihat adegan mesra yang di suguhkkan Erik dan Mira di depan matanya itu.


"Kak, setidaknya tolong ijinkan ibu menginap sehari saja, sepertinya ibu sangat merindukan mu !" seperti biasa Alisha memulai aksi drama nya di depan Erik, membuat Mira merasa sangat muak melihatnya.


"Tidak ! Biarlah aku menjadi anak durhaka, aku tidak bisa mengijinkan kalian untuk menginap di sini, aku sepertinya terlalu baik pada kalian, dan terlalu sering mengalah sehingga kalian menjadi semakin bersikap tidak tau diri seperti ini !" Mira bergeming, dia tak ingin mengalah lagi, dia tak ingin di tindas lagi, dia juga tak ingin di perlakukan tak adil lagi, dia hanya ingin bahagia.

__ADS_1


__ADS_2